Harian Berantas

Harian Berantas - Berani, Tegas dan Akuntabilitas

  • Jelajahi

    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    terkini

    Jalan Nagori, desa Raja Maligas hingga Huta Bayu Raja, bak kubangan kerbau, warga bilang mantan Bupati tak peduli

    HARIAN BERANTAS
    18/01/2022, 12:59 WIB Last Updated 2022-01-18T06:55:21Z
    Gambar genangan air yang menyerupai kubangan kerbau di jalan raya desa Raja Maligas menunju Huta Bayu Raja. (DOK/Pinten/HARIAN BERANTAS-2022)


    Reporter : Pinten Sitorus I Editor : Riswan Polmer Pasaribu

     

    HARIAN BERANTAS, SIMALUNGUN - Hal ini terjadi karena kepemimpinan mantan Bupati Simalungun JR Saragih selama 2 periode 2010 hingga 2020 atau 10 tahun ini dinliai warga tidak peduli dengan pembangunan di 7 desa tersebut.

     

    Seperti diketahui, kerusakan ruas jalan Nagori, desa Raja Maligas dan desa Boluk hingga hingga Huta Bayu Raja, Kecamatan hingga Huta Bayu Raja, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara yang panjangnya kurang lebih 15 km cukup mengkhawatirkan dan dapat membahayakan nyawa pengendara bermotor hingga pejalan kaki. Bahkan genangan seperti kubangan kerbau ini sudah menjadi pemandangan yang cukup lama dirasakan oleh para pengguna jalan dan warga sekitarnya. Padahal, desa berpenduduk sekitar 17.000 jiwa yang tersebar di 7 desa ini merupakan Jalan Kabupaten yang menghubungkan Kabupaten Simalungun dengan Kabupaten lainnya di Provinsi Sumatera Utara.

     

    Salah satu warga desa Raja Maligas berinisial Emi mengaku, mereka merupakan korban bupati sebelumnya. Menurut Emi, meski bupati sebelumnya JR Saragih sudah 10 tahun menjabat, dia (JR) belum pernah membangun jalan dari desa Silakkidir ke desa Boluk.

     


    “Kami korban Bupati lama, padahal selama 10 tahun, tidak pernah ada pembangunan jalan dari desa Silakkidir ke desa Boluk. Pada akhirnya kami masyarakat susah payah berjuang untuk sampai ke Perdagangan dan ke Pematang Siantar. Dulu, ketika kami pergi untuk belanja, kami hanya butuh Rp 20.000 untuk PP naik angkot, sekarang 75.000 untuk sekali jalan. Tidak hanya itu, hasil pertanian juga makin tinggi biaya transportasinya,” kata Emi saat ditemui di Raja Maligas, Senin, (17/01/22).

     

    Emi berharap Bupati Simalungun Radiapoh Hasiholan Sinaga bisa memahami nasib mereka. Selain itu, Emi meminta Bupati saat ini untuk meninjau langsung desa tersebut dari mulai Huta Bayu Raja hingga desa Boluk agar mengetahui kebenarannya.

     

    Secara terpisah, Anggota Komisi 1 Fraksi Partai Berkarya DPRD Kabupaten Simalungun, Benpri Sinaga saat dihubungi melalui sambungan teleponnya mengatakan, pada Musrembang Kabupaten sebelumnya, ia mewakili dapil 5 telah mengajukan proposal sebesar Rp. 17,5 Miliar untuk pembangunan jalan Nagori Hutabayu menuju desa Boluk. Bahkan ia mengaku, usulan itu sudah diajukan dalam rapat paripurna APBD Kabupaten Simalungun.

     

    ''Cuman, ada tidak dana APBD untuk dialokasikan ke sana, karena masing-masing Anggota Dewan mengusulkan secara fisik dari daerah pemilihannya. Soalnya APBD Kabupaten Simalungun Kecil hanya berkisar Rp. 2,2 triliun,'' ujarnya.

     

    Selain itu, Benpri meminta masyarakat juga mau bekerjasama secara gotong royong. Menurutnya, jika masyarakat tidak mau bekerja sama, berapa pun dana yang dikucurkan untuk pembangunan fisik akan sia-sia. Ia juga berharap jika pada 2022 tidak ada kendala, pembangunan jalan di Nagori bisa dilakukan.

     

    ''Soal berapa dananya dan sesuai gambar PU, nanti dibangun apa,'' imbuhnya.


    Komentar
    Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
    • Jalan Nagori, desa Raja Maligas hingga Huta Bayu Raja, bak kubangan kerbau, warga bilang mantan Bupati tak peduli

    Terkini

    Iklan

    Close x