Harian Berantas

Harian Berantas - Berani, Tegas dan Akuntabilitas

  • Jelajahi

    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    terkini

    Ada Hikmah di Balik Banjir, Petani dari Program Food Estate Mampu Jadi Penyangga Kebutuhan Wilayah Kalsel

    HARIAN BERANTAS
    23/01/2022, 12:20 WIB Last Updated 2022-02-08T06:51:26Z
    Petani terong di pulpis


    Editor : Riswan Pasaribu

     

    HARIAN BERANTAS, PULANG PISAU - Kabupaten Pulang Pisau merupakan kabupaten ke dua selain Kapuas sebagai penerima program Food Estate Kalimantan Tengah. Pada 2020, wilayah ini mendapat bantuan benih 110 hektare durian, 100 hektare kelengkeng, 70 hektare jeruk, 13 hektare sawi hijau, 10 hektare kangkung dan 20 hektare cabai. Berlanjut pada 2021 dengan 100 hektare pisang, 20 hektare durian, 30 hektare kelengkeng, 12 hektare tomat, 17 hektare terong. Seperti halnya program food estate yang lain, dukungan pemerintah tidak hanya terpusat pada benih saja, namun termasuk pupuk, dolomit, pestisida, fungisida, likat kuning, mulsa hingga keranjang panen.

     

    Berada di lokasi rawa, lahan ini dikenal sebagai lahan peralihan darat dan perairan yang memiliki karakteristik dangkal dan jenuh air. Selain itu mengandung pirit dengan PH tanah yang rendah, yakni 2 - 3,5. Selain itu memiliki kandungan Fe, AL dan Mn yang tinggi namun rendah  fosfor dan kalium. Sehingga perlakuannya cukup teknis dengan meminimalisir efek pirit, meningkatkan pH tanah, ameliorasi dan pemupukan serta penataan lahan. Kabupaten Pulang Pisau termasuk wilayah food estate terdampak banjir meski tidak seluas dan separah kondisi di Kapuas. Hal ini cukup disyukuri petani setempat karena bisa cepat teratasi.

     

    Direktur buah dan Florikultura Liferdi Lukman mengatakan bahwa dirinya sangat bersyukur bantuan yang diberikan dapat diapresiasi dan bermanfaat bagi masyarakat petani.

     

    "Ditjen Hortikultura berkomitmen penuh mendukung pengembangan Food Estate Kalteng sejak 2020 ini. Menginjak tahun ke tiga ini kembali dianggarkan upaya pengutuhan kawasan sebagai kegiatan pemeliharaan. Kami masih terus fasilitasi kegiatan intensifikasi dan ekstensifikasi berupa pupuk, benih dan saprodi lainnya agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi optimal," ujarnya dalam pesan tertulis, Minggu (23/01/22).

     

    Ketua Kelompok Usaha Bersama, Abdul Aziz yang ditemui di lahan terung swadaya miliknya terlihat melakukan tumpang sari dengan kelengkeng. Dia meyakini tumpang sari ini sebagai langkah antisipasi menghadapi kemungkinan banjir di masa yang akan datang.

     

    “Saya mendapatkan bantuan benih terung pertengahan tahun 2020. Lahan 0,5 hektare yang saya kelola dalam tiga bulan menghasilkan 18 ton atau 18 kali panen. JIka rerata harga terung per kilo Rp 7500 jadi kurang lebih kami dapat 135 juta. Modal yang kami keluarkan selama masa tanam Rp 30 juta sehingga hasil bersih Rp 105 juta,” ujar pria yang berdomilisi di Desa Anjir Kecamatan Kahayan Hilir ini.

     

    Ditanyakan mengenai efisiensi biaya produksi, dirinya mengakui jelas perbedaannya ketika menjalankan program food estate. Program bantuan pemerintah betul-betul memperhatikan kebutuhan budidaya tanam. Hasilnya produksinya lebih banyak  dan bagus ketimbang budidaya dengan modal sendiri dengan seadanya.

     

    “Alhamdulillah dengan adanya program ini. Petani merasakan semua, sampai ada yang bisa beli pick up. Saya Alhamdulillah dari hasil food estate bisa selesai menguliahkan anak hingga biaya wisuda,” ujarnya bangga.

     

    Aziz mengatakan bahwa pemerintah pusat dan daerah memberikan perhatian yang baik kepada petani daerahnya. Selalu ada bantuan setiap tahunnya bagi kegiatan tanam di Kabupaten Pulang Pisau termasuk sisi pembinaannya.

     

    Berlokasi di desa yang sama, Rukani, ketua kelompok tani Budi Murni mengatakan dirinya sudah enam kali panen dengan keuntungan Rp 5 juta untuk lahan seluas setengah hectare miliknya. Untuk satu kali panen bisa menghasilkan 70 kg. Harga beli di tingkat petani masih bertahan Rp 15 - 17 ribu per kg selama kondisi banjir hampir 3 bulan terakhir ini.

     

    “Sebenarnya ini bukan hasil yang maksimal karena sempat mengalami kebanjiran pada usia tanam satu minggu makanya kondisi tanamannya begini (menguning : red).  Saat itu kami berinisiatif menyedot genangan air dengan mesin pompa air ukuran besar dan kecil agar lekas surut genangan airnya,” ujar Rukani.

     

    Dirinya mengaku, hasil maksimal akan terjadi pada panen ke tujuh, tepatnya sebentar lagi. “Diperkirakan bisa menghasilkan 2 kuintal,” paparnya.

     

    Di lokasi berbeda, tepatnya Desa Bereng, Kecamatan Kahayan Hilir, anggota Tunas Muda Bereng, Siswandi yang dua kali mendapat program dua hektare cabai rawit mengucap terima kasih telah diikutsertakan pada program ini.

     

    “Kami beruntung diikutsertakan pada program ini, terutama dari segi permodalan dan biaya operasional. Pada program tanam 2020 kami pernah puncak panen hingga memperoleh keuntungan Rp 90 juta,” ujarnya.

     

    Pada 2021, lanjutnya, tidak mendapat banyak hasil karena terkendala banjir. “Selain itu terkena antraknosa jadi bisa dikatakan hampir gagal panen karena tidak maksimal. Tanaman juga banyak yang kami cabut menghindari penularan ke tanaman lain,” ujarnya.

     

    Mencermati kondisi alam dan struktur lahan, dirinya berharap ke depan pemerintah bisa memberi bantuan pembuatan ajir karena biaya pembuatannya cukup besar. Pun jika dimungkinan adanya mesin pengolah tanah.

     

    Kasie Perbenihan dan Perlindungan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Pulang Pisau, Jakaria mengatakan hasil produksi dari Pulang Pisau dalam tiga bulan terakhir menjadi penyangga kebutuhan Kalimantan Selatan.

     

    “Terjadinya banjir di Propinsi Kalsel di mana luas lahan sangat berkurang dan secara otomatis masyarakat di sana kekurangan sayur sehingga dropping kebutuhan diperoleh dari Pulang Pisau. Ini membantu kesejahteraan petani di sini,” ujar Jakaria.

     

    Terkait kondisi alam yang tidak dapat diprediksi, dirinya meyakini petani tidak putus asa karena memang aktifitas keseharian mereka bertani. selain itu bertani memang  budidaya turun temurun yang menjadi kebanggaan.

     

    “Jadi mereka tetap semangat apalagi sempat menjadi penyedia kebutuhan daerah lain. Meskipun demikian kami berharap guna mengantisipasi kondisi di masa mendatang, pemerintah pusat dapat memfasilitasi pengadaan cultivator dan pompa air karena memang itu yang sangat dibutuhkan,” pungkasnya.


    Komentar
    Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
    • Ada Hikmah di Balik Banjir, Petani dari Program Food Estate Mampu Jadi Penyangga Kebutuhan Wilayah Kalsel

    Terkini

    Iklan

    Close x