Iklan

iklan

Iklan

X_PG_HPB1_All User_Branded Clearance Sale FW Sept_21 Sep 21
,

Iklan

Settia

LSM KPK Desak Polsek Gomo Tangkap Oknum Perangkat Desa Gui Gui, Alasannya Perdamaian Tidak Menghapus Tindak Pidana

1 Agu 2021, 23:44 WIB Last Updated 2021-08-03T12:10:32Z


HARIANBERANTAS, SELATAN NIAS - Polisi Sektor (Polsek) Gomo diduga menghentikan kasus pengeroyokan yang dilakukan oknum aparat Desa Gui-Gui, Kecamatan Maze, Nias Selatan, Sumatera Utara, terhadap seorang warga.

Hal itu diketahui setelah Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Gomo Nias Selatan Johnson Sianipar, Jumat (30/7/2021) kepada Harian berantas mengatakan, kasus pengeroyokan yang melibatkan oknum perangkat Desa  tersebut dicabut lantaran pelaku dan korban masih memiliki ikatan keluarga.

"Kemarin mereka damai, Pak," ucapnya.

Sementara itu saat disinggung apakah setelah berdamai proses hukum dihentikan atau dilanjutkan. Ia menyebut hal itu sudah selesai lanratan keduanya sudah berdamai lantaran kedua pihak masih ada hubungan keluarga.

“Mereka sudah mencabut pengaduannya. Karena masih ada hubungan keluarga di antara mereka,” jawab Sianipar.

Saat dimintai tanggapannya  terkait pendapat seorang praktisi hukum yang menyebut bahwa perdamaian itu sah sah saja, namun proses hukum tetap ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian.

Sianipar tidak menanggapi dan hanya meminta wartawan datang ke Polsek Gomo untuk kemudian diberikan penjelasan.

“Kalau ada waktu, datang saja ke Polsek Gomo, agar bisa kami jelaskan,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, korban mendesak Polsek Gomo untuk segera menangkap aparat Desa Gui-gui, tersangka pelaku pengeryokan terhadap dirinya.

Menurut korban, sebelum kejadian, pelaku sempat berkumpul di warung Tuak milik saudara ama  Aje, tepat di depan rumah kepala Desa Gui-gui. Masing-masing pelaku adalah Firman Jaya Hulu yang membidangi Kaur keuangan, Tulusman Hulu Kaur Kesra, Temaziduh Hulu, anggota BPD dan Marlin Lumbu.

Peran masing-masing aktor:

Firman Jaya Hulu mendorong dan membalikkan meja ke arah korban, disusul Tulusman Hulu dan Marlin Lumbu menarik dan meninju korban.

Setelah korban tekapar, pelaku lain bernama Temaziduhu Hulu memerintahkan rekannya yang lain untuk mengikat korban. Sambil memegangi korban, lalu Marlin Lumbu kembali dan meninju korban bersama pelaku lainnya hingga korban pun pingsan tak sadarkan diri.

Kemudian datanglah Budiman Laia bersama warga untuk melerai diri dan membawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.

Korban melaporkan pelaku ke Polsek Gomo dengan harapan pelaku ditangkap dan diadili.

Sementara itu, setelah dilaporkan oleh korban, para pelaku malah sibuk menghubungi korban  agar bersedia berdamai, meski korban masih dalam kondisi dirawat di rumah sakit.

Secara terpisah, Praktisi Hukum Faozanolo Laia, SH. MH saat dihubungi, Rabu (28/7/2021) mengatakan, perdamaian itu sah sah - saja, namun proses hukum harus ditindaklanjuti. Pasalnya, kata dia, perdamaian tidak menghapus tindak pidananya.

Menurutnya, tindak pidana penganiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 jo Pasal 351 KUHP bukanlah delik aduan.

Untuk itu, lanjutnya, pada dasarnya perkara pidana, proses perkaranya tergantung pada jenis deliknya. Ada dua jenis delik yang terkait dengan proses perkara, yaitu delik aduan dan delik biasa.

''Dalam delik biasa seperti yang dialami korban (Saroasa Hulu, red), kasusnya tetap diproses tanpa persetujuan pihak yang dirugikan (korban, red). Jadi, meski korban mencabut laporannya dengan alasan damai, penyidik ​​wajib tetap memproses kasusnya,'' ujarnya.

Terkait perdamaian antara pelaku dan korban, Koordinator Wilayah Lembaga Swadaya Masyarakat Pemberantasan Korupsi (Korwil LSM KPK) berjanji akan menyurati polisi untuk segera melimpahkan berkas perkara pengeroyokan tersebut.

"Jika kasusnya dihentikan polisi, kami akan menyurati Kapolri, Komnas HAM RI, dan Kompolnas RI," kata Ketua LSM KPK DPP Korwil, Fz Halawa saat dihubungi, Jumat (30/07/21) malam.

Menurut Fz Halawa, tidak ada alasan bagi polisi, dalam hal ini Polsek Gomo, untuk menghentikan kasus tersebut. Pasalnya, Kantor Polisi bukanlah tempat terakhir untuk kasus pidana. Kami mendesak polisi untuk segera menangkap para pelaku. Karena perdamaian merupakan bukti bagi penegak hukum untuk menentukan pelakunya.

“Dengan damai, pelakunya jelas dan ada pengakuan. Sehingga penegak hukum tidak lagi sulit untuk membuktikannya.” Tutupnya.

(red)

MUSIK TERKINI

Iklan

iklan

FILM CINEMA

_