Iklan

new-user-zone-banner

Iklan

CB Rent Cars
,

Iklan

Settia

Tak Terima Dituding "Drakula" Gubri Lapor Polisi

HARIANBERANTAS
28 Jun 2021, 22:13 WIB Last Updated 2021-08-04T10:11:16Z


Spanduk bertulis "Drakula" yang dibawa para pendemo, (2/6/2021)

HARIANBERANTAS, PEKANBARU- Merasa diserang kehormatannya oleh para pendemo dihalaman kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau pada awal Juni 2021 lalu, Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar lapor polisi.


Gubri membawa kasus penyerangan kehormatannya itu ke jalur hukum dengan melaporkan para pendemo ke Kepolisian Daerah (Polda) Riau dengan harapan para terlapor dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum.


Laporan itu disamapaikan memlaui tim kuasa hukumnya. Kini laporan BM 1 Riau tersebut sedang ditangani oleh pihak Polda Riau.


Syamsuar mengadukan para pendemo yang mengedit fotonya ke polisi. Hal itu dibenarkan Syamsuar melalui pengacaranya Alhendri kepada awak media, Jumat (25/6/2021).


Setelah Syamsuar melaporkan para pelaku (Pendemo,red) timbul spekulasi menyudutkan mengalir bagaikan air terjun kepada BM 1 tersebut (Syamsuar,red).


Banyak pihak yang menyebut jika Syamsuar anti kritik. Mulai dari aktivis, masyarakat hingga anggota Komisi II DPR RI disenayan. 


"Saya lihat ada komentar antikritik dari Komisi II DPR RI. Sebenarnya dia tidak tahu alat peraga yang dibawa para pendemo. Coba kalau tahu disebut drakula segala macam, itu bukan kritik jika disebut orang drakula," Sebut Alhendri


Dikatakan Alhendri, kesalahan ada pada para pendemo. Ia menilai para pendemo menyerang pribadi Guri Syamsuar. "Ahli bahasa mana yang bisa bilang kalau itu bahasa kritikan? Coba tanya tokoh masyarakat manapun, itu bukan kritikan, tapi penyerangan kerhomatan dan karakter pribadi seseorang,"


Menurut Alhendri jika selama ini mantan Bupati Siak dua periode itu tak pernah melarang masyarakat berdemo untuk mengkritik kepemimpinannya.


"Kalau ada tokoh yang komentari ini soal kebebasan berpendapat itu karena tidak tahu substansinya. Kalau soal penegakan hukum, demo, ya silakan saja karena itu hak masyarakat," Sebutnya.


Sebelumnya, puluhan mahasiswa berdemontrasi di halaman kantor Kejati Riau pada 2 Juni 2021 lalu. Massa mendesak Korps Adhyaksa untuk menyelidiki kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (Bansos) Rp 56,7 miliar di Pemkab Siak tahun anggaran 2014-2019 silam.


Dugaan korupsi itu terjadi saat Syamsuar masih menjabat Bupati Siak. Massa berorasi dan membentangkan spanduk yang bertuliskan desakan agar penyidik segera memeriksa Syamsuar.


Dalam aksinya massa membawa spanduk bergambar Syamsuar yang sudah diedit. Foto itu diedit dengan gigi taring panjang seperti drakula.


Tidak hanya itu, dalam spanduk juga tertulis 'Tangkap Gubernur Drakula' yang dibentangkan di depan pintu masuk kejati Riau, Rabu (2/6). “Gambar dan tulisan pada spanduk itulah yang membuat Syamsuar marah dan mengadukanya ke Polda Riau".


Penulis : Ans


Sumber : detik.com

MUSIK TERKINI

Iklan

iklan

FILM CINEMA

_