Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Parlemen Mengabdi 2021 : Pembudayaan Pancasila di Sektor Pendidikan Untuk Melahirkan Generasi Indonesia Emas

18 Jun 2021, 09:31 WIB Last Updated 2021-08-03T14:42:27Z
Parlemen Mengabdi 2021 : Pembudayaan Pancasila di Sektor Pendidikan Untuk Melahirkan Generasi Indonesia Emas
HARIAN BERANTAS, BANDUNG - Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat melalui Sekretariat DPRD Jawa Barat menggelar agenda Parlemen Mengabdi 2021, Kamis (17/6/2021).

Diselenggarakan secara hibrid, acara Sidang Paripurna Tahun 2021 yang dibuka oleh Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Ineu Purwadewi Sundari, menghadirkan rangkaian acara antara lain Webinar “Pembudayaan Pancasila di Bidang Pendidikan” serta pengumuman lomba video podcast dan monolog "Gen Milenial memaknai Pancasila" yang diikuti siswa-siswi SMA/SMK sederajat se-Jawa Barat.

Webinar "Pebudayaan Pancasila di Bidang Pendidikan" yang dibawakan oleh Ketua Komisi I DPRD Jawa Barat, Bedi Budiman dan Pembicara Utama, Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum.

Menghadirkan sejumlah pembicara antara lain Prof Yudi Latif, Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos, Pendiri Jaringan Antar Umat Beragama (Jakatarub) Wawan Gunawan, Kepala Dinas Pendidikan Jabar Dedi Supendi, dan Kepala Panais Zakat dan Wakaf Kantor Wilayah Kemenag Jabar Jamaluddin.

Ketua Komisi I DPRD Provinsi Jabar Bedi Budiman mengatakan, ada beberapa materi yang berhasil diperoleh dalam agenda DPRD untuk mengabdi pada tahun 2021, di antaranya gambaran operasional budaya Pancasila yang bisa diterapkan di  tingkat pendidikan menengah.

“Karena pendidikan menengah sangat penting dalam mempersiapkan generasi yang lebih baik. Jika kita berbicara tentang Indonesia emas 2045, mereka akan menjadi calon generasi penerus di tahun itu,” kata Bedi dalam konferensi pers Parlemen Melayani 2021.

Bedi menambahkan, ada persoalan yang harus digagas dan dibenahi terkait pembudayaan Pancasila, antara lain sumber ajaran dan cara atau cara pengajaran Pancasila.

“Masalahnya bagaimana buku ajar Pancasila yang semula berupa teks ini harus disampaikan oleh para guru dengan menggunakan kalimat-kalimat yang bisa dipahami karena ini harus dihayati,” ujarnya.

“Mata pelajaran PPKN berbeda dengan mata pelajaran lainnya, PPKN harus memunculkan apresiasi yang akan membentuk karakter peserta didik dan ini tidak mudah,” ujarnya.

Bedi mengungkapkan, guru PPKN telah menyampaikan bahwa saat ini diperlukan langkah bersama agar mata pelajaran PPKN tidak menjadi mata pelajaran penunjang yang dianggap kurang penting.

“Intinya output dari mata kuliah ini sangat penting, oleh karena itu bagaimana guru-guru ini bisa menjadi pembicara yang baik. Ada konsepsi sosiodrama, sehingga tidak hanya secara kognitif tetapi psikomotorik mereka bisa terlibat,” jelasnya.

Menurut Bedi, peran pemangku kepentingan yang dibutuhkan tidak hanya satuan pendidikan yang perlu bekerjasama dengan pihak lain, seperti Kesbangpol, BPSDM, dan melibatkan praktisi lain.

Ia juga berharap setelah agenda ini ada konferensi guru mata pelajaran PPKN tingkat nasional untuk menetapkan standar dan membuat pelajaran PPKN ini disukai siswa.

“Karena dalam mata pelajaran PPKN ini terdapat nilai-nilai filosofis dan historis, maka dari itu diperlukan ide yang besar dari para guru mata pelajaran PPKN sebagai pemateri materi ini,” pungkasnya.(
nh)

Iklan

iklan