Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Iklan

iklan

Hati-hati, Peraturan Kawasan Tanpa Rokok Bandung secara resmi diberlakukan

31 Mei 2021, 22:08 WIB Last Updated 2021-06-16T15:17:51Z

HARIAN BERANTAS, BANDUNG - Peraturan baru tentang KTR disahkan pada 17 Mei 2021. Setelah disahkan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung langsung bergerak untuk mensosialisasikannya kepada masyarakat, termasuk meluncurkan tanda KTR di Taman Alun-Alun Kota Bandung.

Sebanyak delapan KTR terdiri dari fasilitas pelayanan kesehatan, tempat belajar mengajar, taman bermain anak, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum, dan tempat-tempat lain yang diatur dengan Keputusan Walikota.

Wali Kota Bandung, Oded M. Danial mengatakan, hal ini menjadi bukti bahwa Pemerintah Kota Bandung sangat sadar dan sangat positif dalam menciptakan lingkungan yang bersih, dalam hal ini bebas polusi dari asap rokok.

“Memang substansi, filosofi dan semangat tetap menghormati saudara-saudara kita yang masih belum bisa berhenti merokok. Tapi kita juga mencintai warga Bandung yang harus kita lindungi dari bahaya rokok," kata Wali Kota saat peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) di Balai Kota Bandung, Senin (31 Mei 2021).

“Artinya, jika ada warga Bandung yang masih belum bisa berhenti merokok, itu diatur dalam peraturan daerah. Juga memperhatikan mereka yang tidak merokok atau perokok pasif,” lanjutnya.

Oded mengatakan, sejumlah tempat telah diatur dalam peraturan daerah untuk menjadi kawasan bebas asap rokok. Harapannya, regulasi ini akan melindungi non-perokok dari paparan asap rokok.

“Di tempat-tempat pendidikan, perkantoran, atau tempat-tempat yang memang rawan atau di tempat umum. Bagi yang melanggar akan dikenakan denda sebesar Rp 500.000. Tapi perokok tidak melihat denda, jadi merokok lebih baik dibayar. Jangan seperti itu," ujarnya.

"Denda ini lebih kepada proses pendidikan, memberikan efek jera kepada masyarakat ketika mereka menyimpang. Harus ada hukuman. Uang denda itu akan masuk ke kas daerah, penegakannya oleh Satpol PP nanti," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dr Ahyani Raksanagara mengatakan, pemerintah bertanggung jawab untuk meningkatkan derajat kesehatan dan membangun kesehatan yang efektif dan efisien.

“Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, Pemerintah Kota Bandung telah menerbitkan peraturan daerah tentang KTR kepada masyarakat Kota Bandung dalam HTTS ini, dan merupakan bentuk komitmen pengendalian tembakau di Kota Bandung,” ujarnya.

“Setiap individu dan kelompok masyarakat dapat terlibat dalam kegiatan peringatan HTTS 2021 dan juga dapat terlibat dalam membantu kita mensosialisasikan perda ini,” lanjutnya.

“Rangkaian kampanye HTTS tahun 2021 ini, kami sosialisasikan dan kampanyekan melalui berbagai saluran, termasuk peluncuran tagar #LeuwihHadeTeuNgaroko,” kata Ahyani.

Pada kesempatan yang sama, Ketua DPRD Kota Bandung Tedy Rusmawan menyampaikan pembahasan Perda KTR menjadi dinamika tersendiri di DPRD Kota Bandung. Karena 50 persen perokok dan 50 persen bukan perokok, jadi seimbang saat pembahasan.

“Namun dengan dinamika seperti itu, mudah-mudahan Perda ini lebih bisa diimplementasikan, lebih mudah diimplementasikan di lapangan, karena membahas perokok dan bukan perokok,” ujarnya.

“Catatan kami terkait dengan anak sekolah. Hal ini menjadi perhatian berdasarkan data statistik dari Bagian Kesejahteraan tahun 2017, anak sekolah dasar yang merokok berada pada angka 32 persen. Ini tentunya menjadi pekerjaan rumah kita bersama, khususnya pendidikan oleh TP PKK,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Bandung, Siti Muntamah mengatakan perempuan akan senang dengan adanya peraturan KTR ini, karena TP PKK memiliki catatan terkait pengaduan kepala keluarga atau suami yang perokok.

“Oleh karena itu, tentu istri dan anak-anaknya akan terkena dampaknya. Dalam hal ini, TP PKK juga bertanggung jawab untuk mendidik dan mengubah perilaku ini,” katanya.

“Di TP PKK ada program terkait Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kami juga tidak hanya memantau tetapi juga mendata keluarga yang tidak merokok di lingkungan Dasawisma. Jika kita hidup tanpa rokok, kita beri tanda hijau. sebagai rumah sehat yang menghadirkan PHBS salah satunya tidak ada rokok di dalam rumah,” ujarnya.
(rp)

Iklan

iklan