Headlines News :
Home » » Jadi Korban Hipnotis, IRT Alami Kerugian Rp700 Juta

Jadi Korban Hipnotis, IRT Alami Kerugian Rp700 Juta

Written By HARIANBERANTAS on Monday, November 2, 2020 | 4:07:00 PM

HARIANBERANTAS, PEKANBARU- Tim Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polresta Pekanbaru, berhasil menangkap 3 orang dari keempat tersangka sindikat tindak pidana penipuan bermodus Hipnotis antar provinsi yang dilakukan warga negara asing (WNA) di Pekanbaru


Ketiga pelaku ini berhasil ditangkap polisi, Jumat (30/10/2020), dan satu lagi masuk dalam pencarian orang (DPO) yang kini sedang di buru.

"Ketiga pelaku tersebut berinisial MAD (30), warga Tanjung Batu Dalam Singkawang Provinsi Kalimantan Barat, YXY (36), dan LXY (45) keduanya WNA Republik Rakyat Tiongkok (RRT)," kata Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol H. Nandang Mu'min Wijaya, S.I.K., S.H., M.H., didampingi Kasat Reskrim Kompol Awaluddin Syam, S.I.K, Kanit Buser Iptu M Aprino Tamara, S.trk, Kasubag Humas Iptu Polius, dalam Konferensi Pers pengungkapan tindak pidana penipuan sindikat modus hipnotis di halaman Loby Utama Mapolresta Pekanbaru, Senin (2/11/2020) siang.

Dikatakan Nandang, ketiga tersangka itu adalah redivis sindikat kasus penipuan bermodus hipnotis terhadap korbannya. Sedangkan yang menjadi korban bandit ini atas nama Yusni (57) keturunan Tiongkok, warga Jalan Ahmad Yani Kelurahan Pulau Karam Sukajadi Pekanbaru.

Barang Bukti (BB) yang berhasil disita kepolisian dari ketiga tersangka ini, yakni 1 buah tas berisikan dua plastik hitam yang berisikan 4 buah tisu dan 4 bungkus garam yang dibalut dengan koran, 1 bungkus garam dibalut dengan kertas koran.

Selain itu, botol air mineral tanpa merek, dua buah Plat kendaraan bermotor Nopol BK asal Sumatera Utara, SIM A, Fotocopy Visa, dan 10 Handphone berbagai jenis, perhiasan kalung, cincin dan gelang serta uang tunai sebesar Rp 3 Juta dan satu unit kendaraan rida 4 merek Nissan SUV.

Para sindikat hipnotis tersebut ada 4 orang, yang berhasil ditangkap 3 orang dan 1 orang lagi berinisia AI, warga negara asing asal Taiwan masih dalam pengejaran pihaknya (DPO,red).

Lebih jauh Kapolresta menjelaskan, awal mula kejadian itu ketika keempat pelaku telah direncanakan sejak awal bulan September 2020 lalu dari Jakarta untuk mencari korbannya seorang ibu-ibu keturunan Tionghkok di Pekanbaru, yang percaya tentang mistis tolak bala bawang hijau tradisi jaman dahulu di Republik Rakyat Tionghkok (RRT).

"Kemudian tersangka AI (DPO) menyuruh tersangka MAD, YXY dan LXY, untuk mencari sasarannya seorang ibu-ibu Tiongkok yang berbelanja di Pasar yang ada di Pekanbaru," Urainya

Kemudian, setibanya ketiga tersangka MAD, YXY dan LXY di Pekanbaru atas suruhan DPO AI pada awal Oktober 2020, para tersangka menginap di salah satu hotel di Pekanbaru, yang sebelumnya sudah dibekali oleh DPO AI dengan menyerahkan sejumlah Handphone berisi simcard dan empat buah tisu serta empat plastik putih berisi garam yang akan diserahkan kepada korbannya setelah mendapat sasaran dari tersangka AI DPO. 

Kemudian tersangka MAD, pergi menuju salah satu Pasar di Jalan Ahmad Yani, untuk berpura-pura mencari bawang hijau untuk obat dengan tolak bala, naasnya  ibu Yusni (57) yang ditemui di sebuah tempat jualan kaki lima di Pasar Bawah menjadi korban para sindikat hipnotis ini, Ulas Nandang. 

Ditambahkannya lagi, tersangka YXY datang menghampiri korban Yusni dan lalu datang tersangka MAD dengan berpura-pura ingin mencari bawang hijau yang dianggap bisa menolak bala itu.

Lantas sambung Nandang, tersangka AI DPO yang menghampiri korban dan berpura-pura mengaku memiliki salah seorang kakek atau atuk yang bisa memberikan pengarahan atas penolakan bala tersebut, tanpa harus memiliki bawang hijau yang juga dicari korban.

Demi mempengaruhi korbannya sebut Nandang, tersangka DPO AI berupaya meyakinkan korban untuk segera menemui salah satu kakek yang bisa menyembuhkan tolak bala tersebut, tanpa harus memiliki bawang hijau itu.

Korban Yusni pun menuruti permintaan tersangka DPO AI bersama tersangka MAD yang berpura-pura ingin mencari bawang hijau tersebut dengan ikut menemui kakek yang dibisa menolak bala tersebut dengan menaiki mobil tersangka yang dikemudikan tersangka LXY.

Setelah korban masuk kedalam mobil tersebut, tersangka DPO AI membujuk korban Yusni, agar menyerahkan sejumlah perhiasan dan uang kepada kakek yang dimaksud. 

Sementara tersangka MAD juga dilakukan demikian untuk meyakinkan korban, namun uang yang diserahkan tersangka MAD bukan uang benaran tapi setumpuk 2 tisu wajah berisi 1000 pcs dan 2 bungkus garam yang diserahkan kepada tersang DPO AI.

Korban yang terkena hipnotis itu pun merasa yakin, sehingga dirinya mengambil uang dari beberapa rekening Bank miliknya serta sejumlah perhiasan emas kalung, gelang, dan cincin diserahkan kepada para pelaku dengan total nilainya kurang lebih Rp700 juta.

Setelah korban menyerahkan sejumlah uang dan perhiasan tersebut, tersangka kembali menyerahkan sebuah tas berisi 2 tisu 1000 pcs, satu botol air mineral yang dianggap air suci penolak bala dan dua plastik putih berisi garam, lalu menyuruh korban turun dan membuka isi tasnya setelah sampai di rumah. 

Para pelaku menurunkan korban dari mobil di depan salah satu bank di Jalan Sudirman Pekanbaru. Sedangkan para pelaku AI (DPO) dan tiga rekannya pergi membawa kabu uang  dan perhiasan korban," terang Kapolresta. 

Usai turun dari mobil, korban yang merasa yakin telah membawa uang dan perhiasannya tersebut dijalan secara perlahan membuka tas tersebut.

Pada saat membuka isi tas yang diberikan pelaku AI, korban baru sadar jika dia menjadi sasaran pelaku penipuan yang di hipnotis. Lalu korban melaporkan peristiwa yang dialaminya itu ke Polresta Pekanbaru.

"Dari hasil penyelidikan Tim Satreskrim yang dipimpin Kasatreskrim Kompol Awaludin Syam, para tersangka didapati informasi sedang berada di Kota Jambi, sehingga tim meluncur ke provinsi Jambi untuk menangkap ketiga pelaku di salah satu hotel kota Jambi pada Jumat (30/10/2020) yang saat ini sudah kita amankan di rutan sini,".

Atas perbuatannya, ketiga tersangka akan diganjar pasal 378 KUHPidana tentang penipuan, karena unsur-unsur perbutan pelaku sudah terpenuhi dengan ancaman pidana penjara paling lama empat tahun kurungan,"  Tutup Nandang. ***(Hms/red)


Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas