Headlines News :
Home » , » Lewat Nota Pembelaan, Amril Terdakwa Korupsi APBD Bengkalis Ingat Ibu & Istri Tercinta-Nya

Lewat Nota Pembelaan, Amril Terdakwa Korupsi APBD Bengkalis Ingat Ibu & Istri Tercinta-Nya

Written By HARIANBERANTAS on Friday, October 16, 2020 | 1:27:00 AM

HARIANBERANTAS, PEKANBARU- Amril Mukminin, Bengkalis nonaktif membacakan Pledoi atau nota pembelaan-Nya pada sidang lanjutan dugaan suap proyek jalan Duri- Sei Pakning di Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, Kamis (15/10/2020).



Nota pembelaan lima halaman yang ditandatangani Amril yang pernah berhasil menggiring tugas Pers ke ranah hukum undang-undang ITE, diberi judul "Menebus Khilaf dengan Ikhlas".


Dalam penyampaian nota pembelaan, Amril Mukminin menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT  karena dia masih diberi nikmat kesehatan dan rahmat menjalani hari-harinya dalam hotel prodeo hingga kini.


"Hanya berkat Anugrah-NYA lah, saya masih sanggup menjalani seluruh proses persidangan sampai saat ini. Sebuah proses yang teramat panjang dan sangat memilukan bagi saya. Yang sebelumnya tidak pernah sama sekali terpikirkan oleh saya, bahwa saya akan mengalami hal-hal seperti ini. Hal-hal yang terjadi sama sekali diluar dugaan saya, dan terasa amat menyakitkan, karena apa yang saya alami ini adalah di luar pemikiran saya," ujarnya mengawali pledoi.


Kendati demikian, ungkapnya dia  senantiasa bersyukur, sembari terus beristighfar, dan menganggap bahwa semua proses yang harus dilewati hingga saat ini sudah merupakan kehendak Sang Khalik, Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. 


"Bahkan bila saat ini pun saya harus mendekam di tahanan, saya menganggap ini adalah bagian dari perjalanan hidup saya, yang telah direncanakan oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Untuk kebaikan hidup saya. Saya Sepenuhnya yakin, bila Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa mengizinkan badai terjadi dalam hidup saya, dengan iman saya percaya, Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, juga sudah mempersiapkan pelangi bagi kehidupan saya, Amin Ya Rabbal ‘alamin," ujarnya.


Disampaikannya peristiwa yang sedang  dialami, berupa proses persidangan untuk tindak pidana korupsi, merupakan peristiwa yang sama sekali tidak pernah diduganya. Padahal kenyataannya selama menjabat sebagai Bupati, dia tidak pernah meminta commitment fee dari PT CGA meskipun mereka menawarkan.


"Saya hanya meminta perusahaan mengerjakan proyek jalan Duri-Sei Pakning dengan baik. Pernyataan saya ini pun sesuai dengan keterangan saksi saudara Ihsan Suaidi yang merupakan Direktur PT CGA, bahwa saya tidak pernah meminta uang atau menjanjikan apapun," jelasnya.


Namun atas nama manusia biasa, ungkapnya lagi, dia 

sadar pada akhirnya  khilaf menerima uang Rp 5,2 Milyar dari PT Citra Gading Asritama (CGA) terkait proyek jalan Duri-Sei Pakning. Hanya saja uang itu tidak pernah  digunakan dan sudah  dikembalikan ke Negara melalui rekening yang ditunjuk KPK. 


"Saya pernah ditemui Bos PT CGA, Ihsan Suaidi sekitar bulan Desember 2015 ketika saya baru saja memenangkan Pilkada Bengkalis. Namun saat itu saya belum dilantik menjadi Bupati Bengkalis. Dalam pertemuan tersebut tepatnya di kopi Tiam Pekanbaru Ihsan menyebutkan bahwa proyek itu harus dikerjakan karena sudah ada keputusan dari Mahkamah Agung," bebernya lagi.


Dilanjutkannya pertemuan berlanjut di Plaza Indonesia Jakarta pada bulan Januari 2016. Saat itu dia juga belum dilantik sebagai Bupati Bengkalis. Usai pertemuan itu Ihsan memberikan uang 1 Milyar dalam bentuk Dollar Singapura kepada ajudannya. Setelah itu dia berurusan dengan karyawan PT CGA Trianto. Ada pertemuan baik itu di Medan Sumatra Utara maupun di rumah dinas Bupati, tapi dia menyatakan tak pernah menyinggung soal uang. 


"Belakangan, Azrul ajudan saya berhubungan dengan Trianto dan beberapa kali menerima uang. Semua pemberian itu dilaporkan kepada saya dan saya menyuruhnya untuk disimpan dulu. Total dari semua yang diterima Azrul Rp 5,2 Milyar, dan saya minta ketika Azrul resign kemudian saya serahkan kepada KPK tanpa pernah saya pakai," ungkapnya lagi.


Dikatakan  uang tersebut dikembalikan kepada KPK ketika KPK mulai mengusut penyimpangan sejumlah proyek di Bengkalis. Amril merasa bingung karena telah menerima uang tersebut meskipun tidak berkaitan dengan proyek dan jabatannya.


"Disisi lain penyidik KPK juga menyita uang Rp 1,9 Milyar dari rumah dinas saya. Padahal itu adalah uang pribadi saya dari hasil usaha di luar jabatan saya. Uang itu saya kumpulkan dari usaha sawit yang saya simpan untuk membantu anak-anak yatim, fakir miskin dan kaum duafa," ulasnya.


Terkait dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum bahwa dia telah menerima gratifikasi dari pengusaha sawit Jonny Tjoa sebesar Rp 12.770. 330.650 dan Adyanto sebesar Rp 10.907.412. 755, Amril menyatakan bahwa itu murni dari usaha sawitnya. Karena uang itu diterima berdasarkan perjanjian yang dibuat pada tahun 2012.


"Bahwa di tempat kelahiran saya di Kecamatan Pinggir ada belasan perusahaan sawit. Saat itu saya sudah menjadi pengepul sawit dari masyarakat setempat untuk dimasukkan ke perusahaan. Karena pekerjaan saya inilah Jonny Tjoa dan Adyanto datang kepada saya untuk mengajak masyarakat memasok sawit ke perusahaannya. Bahkan kami membuat perjanjian dan kesepakatan bersama tanpa paksaan dibawah Notaris," jelasnya lagi.


Dalam perjanjian itu, ungkapnya isinya akan memberikan Rp 5 per kilogram sawit yang masuk ke perusahaan ke dia. Uang itu akan dikirim  setiap bulannya, baik itu tunai maupun transfer. 


"Meskipun terlambat saya tidak pernah menanyakannya karena sudah ada perjanjian. Ada seseorang yang bertugas mencatat sawit yang masuk ke perusahaan di Kecamatan Pinggir, sesekali saya mengeceknya. Pemasukan dari perjanjian ini selalu saya laporkan melalui Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), hal itu saya lakukan sejak tahun 2015, setiap tahun LHKPN tersebut ada rinciannya," ungkapnya.


Atas fakta itu, Amril minta agar yang mulia majelis hakim bisa memberi putusan yang seadil adilnya.


"Dengan bergulirnya bola panas tuntutan kepada saya. Penuntut Umum mengatakan bahwa saya tidak mendukung pemerintah dalam pemberantasan korupsi. Saya sudah mengaku khilaf dan mengembalikan uang kepada KPK. Saya tidak pernah memakai uang tersebut sama sekali. Hati saya sebagai seorang terdakwa yang awam hukum pun bertanya, inikah keadilan yang diyakini oleh Penuntut Umum? sudah sesuaikah tuntutan tersebut dengan pembuktian, fakta persidangan, hati nurani, keyakinan dan rasa keadilan Penuntut Umum?," tanyanya.


Lebih miris lagi, ungkapnya ketika dia menyimak dan membaca surat tuntutan. Ternyata Penuntut Umum kembali memakai dan memasukkan keterangan para saksi di dalam BAP penyidikan ke surat tuntutannya. Padahal keterangan para saksi di dalam BAP penyidikan tersebut jelas- jelas sudah terbukti tidak benar di dalam persidangan dan mengabaikan fakta persidangan yang terjadi selama persidangan. 


"Untuk apa dilakukan proses persidangan selama ini, dalam jangka waktu yang cukup panjang, dan telah menguras begitu banyak energi serta pemikiran? Yang membuat saya semakin tidak habis pikir adalah mengabaikan semua kebenaran yang sebenarnya, yang sudah saya jelaskan dalam persidangan dan dibenarkan oleh para saksi," ujarnya.


Dengan fakta ini, Amril  mohon agar yang Mulia Majelis Hakim dapat memutuskan perkara di persidangan ini dengan seringan-ringannya dan seadil-adilnya dari tuntutan hukum dan hukuman. 


"Saya percaya bahwa Yang Mulia Majelis Hakim akan memutuskan perkara ini dengan seadil-adilnya dan berdasarkan hati nurani sehingga akan melihat permasalahan ini dengan kepala dingin tanpa tekanan dari pihak manapun yang berkepentingan," harapnya.


Ingat ibunda dan istri tercinta. Saat menjalani proses hukum ini yang teringat dalam pikiran Amril adalah ibunda tercintanya serta nasib istrinya yang berjuang sendirian mengasuh keempat anaknya. Apalagi ada anak yang masih kecil dan membutuhkan kasih sayang seorang ayahnya. 


"Majelis Hakim yang Saya Muliakan. Keputusan Majelis Hakim Yang Mulia ini saya yakini adalah keputusan dari Tuhan saya, dan saya akan menjalani dengan penuh RidhoNya," ujar Amril.


Diujung nota pembelaannya Amril membacakan puisi sebagai bentuk ungkapan isi hatinya.


Aku bersujud pada-MU Ya Allah

Atas segala khilaf dan salah. Hamba berserah dan pasrah, Allah….. Hamba lengah


Terimakasih wahai Tuhanku

Atas ribuan rindu yang membeku

Kepada Keluarga dan Masyarakatku

Kan ku tebus ini semua di masa depanku


Titip rindu untuk Ibundaku serta Istriku 

Kau seperti BUMI bagiku

Menopang kehidupanku, Anak-anakku dan Umatmu memberi cinta tanpa kau pedulikan rasamu

Jiwamu penuh rindu

Kekuatanmu menggetarkan alamku


"Majelis Hakim yang Saya Muliakan. Yakin bahwa Allah SWT tak penah lalai dan tertidur dalam menjaga umat Nya, dan pengadilan Nya adalah pengadilan yang seadil-adilnya. Oleh karenanya saya mohon agar Yang Mulia Majelis Hakim memberikan putusan yang seringan-ringannya dan seadil-adilnya, karena saya yakin Yang Mulia Majelis Hakim adalah orang-orang yang tidak akan berada dalam suatu pengaruh maupun tekanan dari pihak manapun," ungkapnya.***(red)



Pembaca setia, beri masukan atas artikel ini dapat menghubungi Contak Pengaduan berikut ini  :

Telpon/SMS/WatsApp ke 0813 71662235 dan / atau Suret E-mail: harianberantas@gmail.com dan/atau melalui kolom komentar di bawah ini

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas