Headlines News :
Home » , » Anggar Jago Bagaikan Ayam Laga, Bupati Yopi Arianto Diperiksa Polres Inhu

Anggar Jago Bagaikan Ayam Laga, Bupati Yopi Arianto Diperiksa Polres Inhu

Written By HARIANBERANTAS on Tuesday, October 6, 2020 | 10:50:00 PM

HARIANBERANTAS, INHU- Bupati Indragiri Hulu (Inhu) Provinsi Riau,  Yopi Arianto, resmi diperiksa Polisi dalam kasus dugaan tindak pidana yang dilaporkan masyarakat bernama Ilham Permana selaku korban pengeroyokan dan penganiayaan saat  Musda ke X DPD II Golkar Inhu di Gedung Dangpurnama Rengat Rabu (26/8/2020) sekitar pukul 23.30 Wib.

Bupati Inhu, Yopi Arianto

Kapolres Inhu AKBP Efrizal SIK dikonfirmasi wartawan melalui Ps Paur Humas Polres Inhu, Aipda Misran Selasa (06/10/2020) mengatakan, pemeriksaan saksi atas laporan korban penganiayaan Ilham Permana dilakukan secara maraton oleh Polisi. Saksi yang diperiksa salahsatunya orang nomor 1 di Inhu, berinisial YA (Yopi Arianto)

"Penyidik sudah memeriksa sdr.YA (Yopi Arianto,red) yang saat ini masih menjabat Bupati Inhu atas laporan korban pengeroyokan saat Musda Golkar di Inhu," kata Misran.

Selain YA yang di periksa sebagai saksi, penyidik juga memeriksa Asriantoni yang saat itu sebagai pimpinan sidang Musda ke X DPD II Golkar Inhu.

"Sudah 20 orang lebih saksi di periksa dalam dugaan tindak pidana penganiayaan itu" jelasnya.

Dari jumlah saksi, ada beberapa kendala yang dialami penyidik terhadap perkara penganiayaan di Musda ke X DPD II Golkar Inhu tersebut, salah satunya adalah saksi yang diajukan pelapor berulang kali diundang oleh penyidik Satreskrim untuk diambil keterangannya namun tidak hadir.

"Perkara masih terus berjalan, penyidik masih bekerja secara maksimal dalam perkara penganiayaan di Musda ke X DPD II Golkar Inhu," ujar Misran.

Atas kerusuhan di Musda ke X DPD II Golkar Inhu, yang menjadi korban penganiayaan adalah sekretaris Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Kabupaten Inhu atas nama Ilham Permana yang mengalami sejumlah luka dibagian tubuh. Kemudian korban secara resmi melaporkan kejadian tersebut ke Polres Inhu dengan bukti laporan polisi nomor STTL/61/VIII/2020/RIAU/RES INHU tertanggal Kamis (27/8/2020).

Informasi yang berhasil dihimpunan wartawan dari korban dan berbagai sumber serta vidio yang beredar di WhatsApp Grup, Musda ke X partai Golkar Inhu berakhir rusuh akibat dari ketua DPD Golkar Inhu Yopi Arianto mendekati meja pimpinan sidang. Saat berjalan kedepan, Yopi Arianto yang juga Bupati Inhu itu membuka kancing baju dan memperlihatkan dadanya serta perutnya dari atas podium menghadap ke peserta Musda sambil mengucapkan kata "PROTES".

Dari atas panggung, kancing baju kuningnya terbuka, Yopi Arianto menunjuk-nunjuk peserta Musda. Ketika Yopi Arianto mendekati peserta Musda sambil menunjuk-nunjuk. Secara spontan peserta Musda lainya langsung menyerang orang yang di tunjuk-tunjuk Yopi Arianto, kerusuhanpun tidak terelakan dan terjadilah baku hantam sesama peserta Musda, Rabu (26/8/2020) malam di gedung Dangpurnama Rengat.

Kemudian Yopi Arianto megambil Mix dan menyampaikan orasi, ucapan Yopi Arianto dengan suara keras berapi-api disahut bersemangat oleh peserta  dalam Musda itu.

"Musda kita lanjutkan, kita voting," kata Yopi dalam rekaman vidio tersebar di WA Gurp acara Musda Golkar Inhu tersebut yang di sambut teriakan "SETUJU" oleh peserta Musda.

Sejumlah peserta Musda lainya sudah di usir keluar oleh peserta Musda yang pro dengan melanjutkan acara Musda pasca kerusuhan itu. Namun, dengan kondisi yang tidak kondusif, pimpinan sidang meninggalkan acara Muda ke X DPD II Partai Golkar Inhu tersebut.

Sebelumnya, Ahli hukum pidana Dr. Muhammad Nurul Huda, SH., MH, mengatakan, aksi pengeroyokan dan penganiayaan yang menimpa sekretaris SOKSI Kabupaten Inhu itu, harus di usut sampai tuntas dan menyeret pelaku ke pengadilan untuk menjerat pelaku utama dalam aksi yang menyebabkan korban luka-luka.

Penyidik harus menerapkan pasal 160 KUHP. "Korban bisa mengusulkan penerapan pasal 160 KUHP kepada penyidik," kata Nurul Huda.

Nurul Huda  yang aktif memberikan pendapat sebagai ahli hukum pidana terhadap peristiwa pidana, menegaskan, penyidik yang menangani perkara korban penganiayaan di Musda ke X Golkar Inhu, segera menaikkan status perkara menjadi penyidikan. Hal tersebut dimaksudkan agar penyidik bisa dibantu Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam merumuskan pasal yang tepat untuk menjerat pelaku utamanya.

"Penambahan pasal 160 KUHP terhadap perkara pengeroyokan dan penganiayaan yang dilaporkan korban, hal ini dilakukan penyidik jika penyidik tidak yakin terhadap pasal pasal yang sedang diusut terhadap perkara," ujar Nurul Huda yang juga sebagai Direktur Forum masyarakat bersih (Formasi) Provinsi Riau. *(RL/HB)



Pembaca setia, beri masukan atas artikel ini dapat menghubungi Contak Pengaduan berikut ini  :

Telpon/SMS/WatsApp ke 0813 71662235 dan / atau Suret E-mail: harianberantas@gmail.com dan/atau melalui kolom komentar di bawah ini


Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas