Headlines News :
Home » , , » Pers & Seniman Indonesia Berduka, Ajip Rosjidi Tutup Usia 82 Tahun

Pers & Seniman Indonesia Berduka, Ajip Rosjidi Tutup Usia 82 Tahun

Written By HARIANBERANTAS on Thursday, July 30, 2020 | 9:59:00 AM

HARIANBERANTAS, JATENG– Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Dunia Pers dan Literasi Indonesia kembali berduka. Wartawan senior dan seniman Ajip Rosjidi tutup usia, Rabu (29/072020) sekira pukul 22.20 Wib di  rumah sakit Tidar Magelang, Jawa Tengah Magelang.
Foto: Fb "Yayasan Kebudayaan Rancagé"

Ajip Rosjidi adalah penulis lintas zaman penjajahan. Setidaknya 326 karya tulisan yang pernah mendiang lahirkan sejak mulai terbit di berbagai media pada tahun 1952.

Ajip Rosjidi adalah penulis besar di Indonesia yang menghasilkan beragam karya literasi. Mendiang juga sebagai pendiri Yayasan Kebudayaan "Rancagé".

Mendiang mulai menulis sejak belia. Tulisannya dimuat media saat umur 14 tahun.

Pria ganteng kelahiran 31 Januari 1938 ini memang terlahir sebagai penulis serba bisa. Mulai dari puisi, cerita pendek, novel hingga reportase / Jurnalistik dan kritik pun almarhum kerjakan.

Selain penulis/jurnalis, mendiang juga menerjemahkan karya sastra ke dalam bahasa Sunda sebagai aktivitas almarhum sejak muda.

Almarhum pernah menerjemahkan karya sastrawan Jepang peraih nobel sastra 1968, Yasunari Kawabata.

Sebagai wartawan, almarhum berteman dengan banyak orang yang telah pergi mendahuluinya.

Buku Mengenang Hidup Orang Lain Sejumlah Obituari yang berisi kumpulan tulisan almarhum setidaknya menunjukkan luasnya jejaring mendiang. Sedikitnya ada 50 obituari dalam buku itu. Tak hanya nama-nama penting di sastra Indonesia, namun juga seni-rupa, teater, hingga aktivis partai politik. Mulai dari Pramoedya Ananta Toer yang dikenalnya sejak 1947, mualaf Rendra, hingga Sobron Aidit adalah beberapa nama besar dalam kumpulan obituari itu.

Sebagai sastrawan, komitmen mendiang terhadap sastra di Indonesia sungguh besar. Anugerah Sastra Rancage yang diselenggarakan tiap tahun sejak 1989 yang mendiang inisasi menjadi forum penting untuk mengetahui dinamika karya sastra daerah di Indonesia.

Awalnya anugerah itu hanya diberikan untuk kategori karya sastra Sunda. Kini, Rancage juga diberikan untuk karya sastra Jawa, Bali, dan Lampung.

Penghargaan tersebut diberikan kepada buku terbaik dan individu yang dinilai berjasa dalam pengembangan sastra daerah.

Sebagai seniman, Ajip adalah sosok yang mumpuni. Pada 1972-1981, almarhum dipercaya menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Di masa-masa itu Taman Ismail Marzuki mencapai masa keemasan yang melahirkan banyak seniman besar. Mulai dari Putu Wijaya, Sardono W. Kusumo, dan Nano Riantiarno adalah beberapa nama yang baru mulai muncul di TIM pada periode tersebut. Kehidupan seni di Cikini masa itu sangat dinamis. Pada masa ini Ajip produktif menciptakan karya sastra yang menginspirasi banyak orang.

Seniman Butet Kartaredjasa mengakui karya Ajip Rosjidi salah satu yang menghantarkannya kedunia seni sastra.

”Terima kasih telah menyebabkan saya mencintai seni sastra melalui bacaan buku-buku terbitan Pustaka Jaya tahun 1970-an,” tulis Butet di akun Facebook miliknya beberapa saat setelah kabar meninggalnya almarhum tersebar.

Ajip meninggal di RSUD Tidar Magelang dalam usia 82 tahun. Almarhum sebelumnya menjalani perawatan selama sepekan terkahir akibat terjatuh di rumah anaknya di Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Dalam keterangan salah satu anak kandungnya, Nundang Rundagi, Ajip harus menjalani operasi karena perdarahan di otak setelah terjatuh. (***)




Artikel ini telah tayang di JawaPos.com dengan judul "Selamat Jalan, Ajip Rosjidi" 
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas