Headlines News :
Home » » Disinyalir PT. SRK Makan Keringat Buruh, Diminta Pemda Inhu Segeran Bertindak

Disinyalir PT. SRK Makan Keringat Buruh, Diminta Pemda Inhu Segeran Bertindak

Written By HARIANBERANTAS on Monday, March 23, 2020 | 3:52:00 PM

HARIANBRANTAS, INHU- Tiga bulan PT.Sinar Reksa Kencana ( PT.SRK ) tak bayar upah karyawan. Pascapengelantaran itu seluruh karyawan / buruh hanya makan lempengan sagu/ubi kayu.

Hal itu dibenarkan oleh Faogonasokhi Ndruru selaku koordinator buruh. Menurutnya, sejak bulan januari 2020 sampai bulan maret 2020 ini pihak PT.SRK  tidak ada membayarkan upah hasil keringat karyawan. Benar, hasil upah buruh selama tiga bulan belum dibayar hasil pekerjaannya.”Katanya sabtu (21/03/2020).

Parahnya lagi kata Ndruru, sejak bulan januari 2020 karyawan hanya makan dari janji pimpinan PT.SRK “Minggu besok di bayar”. Itulah makanan Karyawan. Namun hingga kini belum teralisasi sama sekali.

Seharusnya, tambah Ndruru, pembayaran hasil keringat buruh itu sudah dibayar oleh perusahaan jauh-jauh hari. Inikan tanggung jawab dan kewajiban Perusahaan ke Karyawan. Kami mengutuk perlakuan pihak manajemen PT.Sinar Reksa Kencana (PT.SRK) tersebut. Sebab pekerja/buruh hanya berharap hidup dari hasil keringat mereka. Kami minta kepada pihak perusahaan tolong jangan di makan hasil keringat buruh selama ini.

Ratusan pekerja/buruh tinggal di barak ( perumahan ) di PT.SRK, saat ini terancam kelaparan. Bagaimana tidak, beras untuk di masak tak punya lagi.

Perwakilan terlantar makan ini menambahkan, biasanya pekerja berhutang beras dalam warung yang telah disediakan pihak perusahaan. Pembayarannya setelah menerima gaji. Tapi saat ini sangat sulit karena Warung yang disediakan PT.SRK  tidak memberikan utang lagi. Karena pihak warung tidak ingin di utangi terus, inilah yang sulit di hadapi oleh pekerja.”ucapnya sambil menetes air mata.

Anak dan istri buruh dibarak saat ini menunggu makanan. Selama satu bulan lebih buruh terkadang makan hanya satu kali dalam sehari, itupun berasnya di jadikan bubur campur ssyur ubi di tumbuk lalu dicampur garam untuk di makan bersama keluarga.

Jika tak ada  beras dirumah sebutnya, buruh mencari jamur di lokasi PT.SRK , mencari sayur ubi untuk dapat bertahan hidup. Maklum hasil upah kerja selalu terlambat bayar oleh PT.SRK  .

Padahal soal upahpun paling besar Rp.60 s/d Rp.70 ribu perhari untuk menghidupi  istri dan anak yang tinggal di barak. Sedihnya anak anak yang masih kecil menahan lapar. Inilah tangisan hidup sebagai pekerja kasar untuk memperkaya pengusaha.

Dimohonlah kepada pemerintah untuk dapat menindak tegas pihak PT.SRK yang memakan hasil keringat kami sebagai buruh”tutupnya.

Menyinggung upah pekerja, dibenarkan Eko selaku General Adfair PT.SRK yang membidangi bagian administrasi Umum. Belum dibayar dan masih di usulkan dengan pimpinan tertinggi.

Dalilnya, adanya perubahan managemen perusahaan yang saat ini sudah memiliki 5.000 hektar lahan perkebunan kelapa sawit. Namun telah di janjikan, akan segera di lunasi dengan cara cicil. Dimana hak mereka sedang di ajukan kepimpinan tertinggi di perusahaan. ”pungkasnya .

Persoalan tingkah laku PT.SRK  mencicil Upah buruh tidak pernah tertuang dalam peraturan Pengupahan. Diharapkan Pemerintah Daerah Kabupaten Inhu dan Pemerintah Pusat harus tegas dan segera menindak PT.SRK  yang bersenang-senang diatas air mata buruh saat ini (Pinten S)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas