Headlines News :
Home » » Terduga Pelaku Pengancaman di Medsos Masih Berkeliaran

Terduga Pelaku Pengancaman di Medsos Masih Berkeliaran

Written By HARIANBERANTAS on Friday, February 28, 2020 | 11:42:00 AM

HARIANBERANTAS, SIAK- Terduga pelaku pengancaman terhadap wartawan lewat akun Facebook, pelakunya masih berkeliaran melegang.

Pasalnya, sudah hampir empat bulan korban mengadukan melalui surat pengaduan masyarakat (Dumas) ke Polda Riau pada tanggal (9/12/2019) lalu, hingga saat ini  belum ditingkatkan status hukumnya. Hal itu dikatakan Dewa Napitupulu sebagai korban kepada awak media baru-baru ini.

Dewa Napitupulu melaporkan akun Facebook Senopati Kandis yang diduga milik FE.

Menurut Dewa, akun Sanopati Kandis  melakukan pengancaman terhadapnya beberapa bulan lalu. Dewa yakin jika akun itu milik FE.

Entah setan apa yang meraki pikiran FE melakukan pengancaman terhadap Dewa. 

Korban (Dewa, red) merasa terancam, pihaknya memilih melaporkan pelaku (FE,red) ke Polda Riau guna pengusutan secara hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Korban berharap, pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban hukum agar korban selamat dari maut pelaku.

"Iya, sejak ancaman itu di lontarkan pelaku, hingga saat ini saya dan keluarga merasa terancam dan selalu was was setiap. Bahkan sejak ancaman hingga saat ini tidak saya dan keluarga bisa tidur" katanya.

Korban mengatakan, jika tidak di usut kasus itu, entah apa yang terjadi di keluarga dan pribadi saya. Makanya saya selalu terhambat bekerja.

"Saya tidak bisa bekerja sepenuhnya karena takut terjadi apa-apa" ungkapnya.

Lebih jauh Dewa menjelaskan, peristiwa pengancaman itu, bermula dari pemberitaan bangunan kantor desa yang ada di Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak. Padahal, berita itu sesuai hasil investigasi tim kami dilapangan dan wawancara dari berbagai sumber yang menyayangkan proses pembangunan tersebut.

Setelah berita itu beredar dikhalayak publik. Lalu pemilik akun Facebook Senopati Kandis yang diduga milik FE memuat ancaman kepada saya. 

Berdasarkan penelusuran kami dan dugaan kami mengarah pada FE yang diduga miliknya lah akun Facebook Senopati Kandis tersebut. Setelah yakin makaanya saya laporkan secara resmi ke Ditreskrimsus Polda Riau.

Saksi korban sudah di periksa polis dan saat ini sedang dilidik.

Namun, agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari. Sebelum laporan saya itu ditingkatkan status hukumnya, saya sudah berusaha untuk melakukan mediasi melalui orang kenal dekat pelaku. Akan tetapi pelaku itu tetap pada prinsipnya sesuai isi pesannya dalam akun tersebut.

Parahnya lagi tambah Dewa, pelaku menantang untuk di proses. Pelaku tidak takut karena ancaman hukumnya tidak membuatnya busuk dalam penjara. Kata Dewa.

Hingga berita ini diturunkan, FE yang diduga pemilik akun Facebook Senopati Kandis belum memberikan keterangan persnya, karena nomornya tidak bisa dihubungi. (Red)

Pihak yang merasa dirugikan dengan postingan FE adalah Dewa Napitulu, salah seorang warga Kecamatan Kandis sekaligus menjabat Ketua Forum Pers Independen Indonesia (FPII) Koordinator Wilayah (Korwil) Siak dan Kepala Biro borgolnews.com.

Dewa saat dikonfirmasi awak media mengatakan bahwa awalnya FE memposting pernyataan dengan kalimat ancaman.

"Dia (FE) mengancam saya dengan kalimat 'congkelkan matanya, letakkan di situ, biar tau dia', " ungkapnya.

Atas hal itu Dewa menyebutkan bahwa perbuatan FE tersebut jelas merupakan pengancaman dan menyebarluaskan ke publik dengan sengaja.

Dewa sebelumnya bermaskud untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan dengan FE yang disampaikannya melalui perantara orang lain.

Namun, kata Dewa, FE tidak bersedia untuk meminta maaf dan respon FE disebut seperti meremehkan permasalahan ini.

"Sebagai rekan, saya sudah coba untuk menyampaikan pesan kekeluargaan kepada dia (FE), tapi sepertinya tidak diperdulikan masalah ini," jelasnya.

Menurut Dewa, menempuh jalan hukum adalah solusi terbaik karena negara Indonesia adalah negara hukum dan semua masalah wajib diselesaikan secara hukum apabila secara persuasif tidak menemui titik temu.

"Yang pasti saya sudah coba untuk mengajak duduk, tetapi tidak ada itikad baiknya. Ya sudah, biarlah hukum yang bicara," ujarnya.

Kasus yang merugikan Dewa ini telah melanggar Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). (Rls)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas