Headlines News :
Home » , » Kepsek Diduga Lindungi Oknum Guru Pelaku Kekerasan Terhadap Siswa

Kepsek Diduga Lindungi Oknum Guru Pelaku Kekerasan Terhadap Siswa

Written By HARIANBERANTAS on Friday, September 13, 2019 | 9:31:00 AM


HARIANBERANTAS, NIAS- Ibarat pepatah, “sudah jatuh tertimpa tangga” begitulah yang dialami oleh salah seorang siswa berinisial ATZ di SMK Negeri 1 Lahewa Timur. Pasalnya, hanya karena korban bersama siswa lainnya terlambat masuk kelas pada tanggal 8 agustus 2019 lalu mendapat hukuman disiplin kekerasan fisik yang diduga dilakukan oknum guru olahraga bernama Fadli Zendrato. Hukuman disiplin tersebut kerap dilakukan diduga peraturan dari sekolah. Akibatnya korban mengami luka lebab.

Atas perbuatan oknum guru bernama Fadil Zendrato  tersebut kepada para siswa tersebut akhirnya orang tua korban melaporkan ke pihak kepolisian guna diusut secara hukum dengan nomor laporan : STPLP/19/VIII/2019/NS-LAHEWA. 

“Hal ini kami lakukan untuk upaya keadilan atas kekerasan fisik yang dilakukan pihak sekolah agar tidak terulang lagi dikemudian hari. Kata orang tua korban kepada harianberantas.co.id.id saat ditemui dirumahnya di Desa Laurufadoro Kec. Afulu Kabupaten Nias Utara.

Tak sampai disitu, pihak sekolah tidak terima guru olahraga andalan tukang pukulnya terhadap sisawa di laporkan ke polisi, akhirnya pihak Kepala SMK Negeri 1 Lahewa Timur secara tiba-tiba mengeluarkan siswa dari sekolah dengan alasan yang tidak jelas 

"Iya benar anak saya di pecat dari sekolah oleh kepala SMKN 1 Lahewa Timur karena tidak terima oknum guru yang diduga sebagai pelaku pemukulan tersebut di laporkan ke Polisi oleh keluarga korban" tambah orang tua siswa. 

Kami sangat menyesalkan tindakan kepala sekolah SMKN1 Lahewa Timur yyang tidak produktif dan proporsional dalam mendidik siswa di sekolah. Selain pihak sekolah melakukan kekerasan fisik juga diduga kebal hukum. Pasalnya, usai kami laporkan ke pihak kepolisian perbuatan oknum guru tersebut, namun ditambah lagi dengan mengeluarkan korban dari sekolah.

Atas perlakuan kesewenang-wenang pihak sekolah itu, kami keluarga akan membawa kasus ini ke ranah hukum yang lebih serius lagi. 

Kepsek SMKN 1 Lahewa Timur itu sangat arogan dan tidak berani bertanggungjawab atas apa yang telah terjadi di lingkungan sekolah yang dipimpinnya”, sambungnya dengan nada kesal.

Ditempat terpisah, Ketua LSM KPK Pulau Nias Trisman Gea yang sebelumnya diminta oleh pihak korban untuk mendampingi kasus ini agar diusutssampai tuntas, menyampaikan bahwa tindakan kepala sekolah tersebut sangat tidak bijaksana bahkan membunuh masa depan generasi bangsa ini.

“Kita sangat menyesalkan sikap tidak terpuji oknum kepala sekolah tersebut, terkesan melindungi oknum pelaku kekerasan dan mengorbankan anak didik dengan pemecatan itu. Terlalu arogan dan sombong, mungkin tidak paham apa yang menjadi tanggungjawabnya sebagai seorang Pendidik, padahal Kemendikbud sudah memberikan himbauan agar sekolah aman dari tindakan kekerasan, baik kepada guru, siswa, maupun tenaga kependidikan. Terlebih, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No.82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan, menyatakan bahwa tindak kekerasan yang dilakukan di lingkungan sekolah maupun antar sekolah, dapat mengarah kepada suatu tindak kriminal dan menimbulkan trauma bagi peserta didik.

Disisi lain, Pasal 11 dan Pasal 12 Permendikbud 82/2015 menyebutkan sanksi terhadap oknum pelaku tindak kekerasan dilakukan secara proporsional dan berkeadilan sesuai tingkatan dan/atau akibat tindak kekerasan. "Untuk itulah potensi kekerasan di sekolah perlu dicegah, dan ditanggulangi dengan melibatkan berbagai unsur dalam ekosistem pendidikan. Didalam peraturan menteri ini sangat cukup jelas sanksinya bagi siapa saja yang terlibat, apa yang perlu dilakukan dan bagaimana cara-caranya.

Selanjutnya dalam Undang-Undang No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Perlindungan Anak secara tegas menyatakan setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak. Kami tidak akan tinggal diam, sekuat tenaga akan mencari keadilan terhadap korban sesuai peraturan Perundang – undangan yang berlaku kekuatan kami untuk mendapatkan keadilan,”

“Yang aneh bagi kami, surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) dari Polsek Lahewa nomor : K/11/VIII/2019/Reskrim menyampaikan bahwa proses penyidikan yang dilakukan belum ditemukan tersangkanya (tersangka dalam lidik), sementara pemantauan kami dilapangan oknum guru yang diduga melakukan tindakan tersebut tetap melakukan aktifitasnya sehari – hari di lingkungan SMK Negeri 1 Lahewa Timur. Sehingga, kuat dugaan kalau akhirnya kasus ini akan di peti eskan oleh penegak hukum dan pelapor /Korban terus menerus menjadi bulan bulanan para pelaku.” Tutup Trisman. (Tim)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas