Headlines News :
Home » » Akibat Sembarangan Sebut Kasubag Humas DPRD Kota Pekanbaru ada Selingkuh, Amponiman Batee Dibogem Sekurity

Akibat Sembarangan Sebut Kasubag Humas DPRD Kota Pekanbaru ada Selingkuh, Amponiman Batee Dibogem Sekurity

Written By HARIANBERANTAS on Thursday, September 5, 2019 | 8:49:00 PM


HARIANBERANTAS, PEKANBARU– Kasubag Humas DPRD Kota Pekanbaru, Badria Rikasari (Rika) dilayar kaca media online baru-baru ini viral, terkait masalah aksi dugaan pengeroyokan terhadap Amponiman, wartawan media online riausidik.com pada Rabu (28/8/2019) pekan lalu, buntut dari konfirmasi kepada Rika.

Geram terus jadi bahan pemberitaan, akhirnya Rika menempuh konferensi Pers (resmi) atas kejadian pengeroyokan terhadap Amponiman ini pada Senin (2/9/2019) lalu. Menurutnya pengeroyokan terhadap Amponiman ini bukan peristiwa yang disengaja.

“Sebelumnya oknum wartawan berinisial AP menjumpai saya pada Senin (26/8/2019), Amponiman Batee pernah mengirim konfirmasi lewat via WhatsApp pribadinya ke saya, namun konfirmasi yang telah ditujukan kepada saya belum sempat saya balas dikarenakan kesibukan kegiatan di DPRD. Namun saya meminta Yola, staf saya untuk dapat menghubungi Amponiman untuk bertemu pada hari Rabu,” terang Rika.

Kemudian pada Rabu (28/8/2019) Amponiman Batee datang menjumpai Rika diruangannya. “Apa yang dikonfirmasi?”, tanya Rika pada Amponiman Batee yang kemudian dijawab konfirmasi yang sudah disampaikan melalui WhatssApp sebelumnya.

“Terkait pertanyaan nomor 1,2,3 dan 5 bisa saya jawab, namun untuk pertanyaan nomor 4 tidak dapat saya jawab, karena tidak disertai bukti,” tutur Rika.

“Saya akui pada saat menyampaikan jawaban kepada AP, sontak dengan nada yang agak keras karena tersinggung dengan pertanyaannya yang nomor 4. Kenapa tidak, saya minta AP untuk dapat memberikan bukti atas konfirmasinya yang nomor 4, terkait dugaan perselingkuhan yang dituduhkan kepada saya dengan ketua DPRD tanpa bukti,” katanya.

Bahkan lanjut Rika, ketika didesak bukti, Amponiman terdiam alias bungkam seribu bahasa.

Mendengar nada suara Rika yang agak keras, salah seorang security yang akan pulang karena selesai bertugas, sontak masuk keruangan dan mempertanyakan ada apa yang terjadi. “Lalu security itu menanyakkan Amponiman dari mana dan meminta agar diperlihatkan identitas dirinya sebagai wartawan sembari mengajak Amponiman Batee untuk keluar ruangan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Ketika ditanyakan security, Amponiman Batee menjawab saya ini wartawan, kau tidak punya hak menyuruh saya keluar. Tau kau,” ungkap Rika menirukan arogansi Amponiman.

Karena kurang senang dengan kata-kata Amponiman Batee, terjadilah keributan antara security dengan Amponiman. “Saya pun berteriak agar keributan yang terjadi dihentikan, namun teriakan saya tidak diindahkan keduanya.

Kemudian untuk menghindari insiden yang tidak diinginkan saya menghalangi security dan lainnya dengan posisi tubuh menghadap Amponiman dan meminta semuanya keluar dari ruangan saya,” sambung Badria Rikasari.

“Saya sangat kecewa dengan Amponiman, karena dibilang tidak ada yang melerai dan mengatakan saya diam saja. Jika saya diam, sebagaimana yang disampaikannya Amponiman pada media.

Ya, semua saya serahkan ke Amponiman, karena jelas badan saya tepatnya dada saya ini melindungi wajahnya Amponiman agar tidak terkena pukulan,” jelas Rika sembari memperagakan caranya melindungi wajahnya Amponiman.

Adapun terkait laporan AP kepihak kepolisian, Rika membenarkannya. “Iya, memang menurut informasi Amponiman Batee telah melaporkan kejadian itu ke pihak berwajib. Seharusnya laporan itu tidak perlu kalau ada niatnya untuk menyelesaikan, tapi biarkan pihak berwajib yang menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita percaya polisi memiliki standar dalam melakukan proses setiap laporan masyarakat,”  tukasnya.

Menurutnya lagi, peristiwa yang telah terjadi antara oknum wartawan Amponiman Batee dengan oknum security DPRD Kota Pekanbaru tersebut, agar dijadikan pelajaran berharga dengan mengedepankan kinerja yang profesional dan menjaga emosional. Namun kejadian ini tidak mempengaruhi kerja sama antara media dengan DPRD. “Kita tetap adakan kerjasama seperti dulu,” jelasnya.

Atas nama Kasubag Humas DPRD kota Pekanbaru Rikasari menyampaikan harapan untuk saling menghargai, saling menghormati dengan profesional dalam bekerja. Kedepannya, kita akan lakukan shering dan atau tukar pendapat dengan melaksanakan coffe morning minimal sekali sebulan antara pemilik media/wartawan dengan DPRD Kota Pekanbaru.

“Saya pikir kejadian kemaren itu karena kesalahan dalam komunikasi saja. Kawan-kawan media jangan segan memberikan masukan dan kritik kepada kami di DPRD Kota Pekanbaru ini, karena kami ini manusia biasa” ujar Rika.

Keterangan pers Amponiman Batee media ini beberapa waktu lalu melalui telpon genggamnya membenarkan, kejadian yang menimpa dirinya tersebut, peristiwanya pada hari Rabu (28/8/2019) sekitar pukul 10 pagi.

“Saya terkejut ya, saya beritahu hal ini berawal pada Senin (26/8/2019) saya sms ibu Rika kapan bisa ada waktu konfirmasi seputar anggaran media 2019. Namun tak ada dibalas.

Selanjutnya pada Selasa (27/8/2019) saya mendapat telpon dari Yona yang merupakan staf Rika dan mengatakan buk Rika ingin ketemu dengan saya, dan bertanya kapan ada waktu saya,” terang Poniman

Dilanjutkan Amponiman lagi, pada saat itu saya jawab saya tidak bisa, karena posisi saya di Pelalawan mengikuti acara pelantikan DPRD Kabupaten Pelalawan, katanya.

“Yona via WA kemudian bertanya kapan bisa bertemu dengan buk Rika, lalu saya jawab pada Rabu sekitar pukul 09.00 pagi. Mendapat balasan itu, Yona menjawab baik pak, Ok…kalau gitu di tunggu besok d kantor yah pak..jam 9,” kata Poniman menirukan kalimat isi WhatsApp Yona.

Kemudian pada Rabu (28/8/2019), sekitar pukul 09.00 wib, saya sampai di ruang kerja buk Rika, namun buk Rika tidak diruangan. Yona yang melihat kehadiran saya seraya menyuruh saya duduk diruangan itu, tidak lama kemudian buk Rika datang.

Saat saya sedang melakukan konfirmasi dengan ibu Rika kurang lebih 3 menit, tiba-tiba ada sejumlah orang datang dari belakang saya, dan memegang bahu baju saya, seraya bertanya kamu wartawan apa, jawab saya wartawan riausidik.com, kemudian ramai-ramai mereka mengeroyok saya ditempat itu dihadapan buk Rika dan Yona serta sejumlah pegawai pada saat itu.

Tidak cukup sampai disitu, para preman ini berjumlah 5 orang, menggiring saya keluar hingga dilokasi parkir roda dua belakang kantor DRPD kota Pekanbaru. Disana saya kembali diinterogasi dengan berbagai pukulan, ditinju ditendang. Dengan bertanya siapa dibelakangmu, siapa yang nyuruh kamu, tanya preman itu. Jawab saya tidak ada.

Kurang lebih 1/2 jam dilokasi perkir itu, para preman ini kembali menggiring saya kedalam keruangan buk Rika, seraya memaksa saya untuk minta maaf kepada buk Rika.

Usai didalam itu lalu saya dilepas, dengan ancaman oleh preman-preman itu, untuk tidak menggunggu buk Rika lagi.

Saya sangat tidak menerima perlakuan ini, saya sedang melakukan tugas jurnalistik yang diamanatkn dalam UU Pers No 40 1999, yakni konfirmasi berita sebelum publikasi. Perlakuan ini sangat brutal,” kata Poniman

Sebagai warga negara, saya serahkan kasus ini kepada pihak aparat. “Saya sudah melaporkan ke Polresta Pekanbaru kasus pengeroyokan ini sesuai LP No : STPL/691/VIII/2019/SPKT I RESTA PKU, 28 Agustus 2019. Saya berharap polisi bisa segera memproses,” kata Poniman

Lebih jauh Poniman menyebutkan bahwa kehadiran saya disana atas undangan ibu Rika melalui Yona (sesuai percakapan via WA). ”Pengeroyokan itu dihadapan mereka. Ironisnya sama sekali tidak ada dilerai oleh petugas pengamanan disana, saya menduga kuat ini sudah disetting,” kata Amponiman. (Tim HB/Ans)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas