Headlines News :
Home » » Atan minta Pelaku Tambang Pasir Ilegal di Pulau Rupat-Bengkalis Diusut Tuntas

Atan minta Pelaku Tambang Pasir Ilegal di Pulau Rupat-Bengkalis Diusut Tuntas

Written By HARIANBERANTAS on Saturday, August 3, 2019 | 10:59:00 AM

HARIANBERANTAS, BENGKALIS- Kegiatan penambang pasir ilegal di pulau Ketam dan Sungai Injak Kecamatan Rupat Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau, akhirnya bisa dihentikan setelah 5 kapal pengangkut dan penambang pasir laut milik PT. Rupat Makmur Jaya ditangkap Direktorat Polisi Perairan Polda Riau. 

salah satu bukti dokumen pelayaran pasir illegal diduga yg direkayasa dan patut diusut  (Foto Istimewa Harian Berantas)

Dari ke lima (5) kapal itu, terdiri dari 2 unit kapal ukurannya cukup besar yakni, KM Amino Jaya GT 32 dan KM Rafida GT 25 sebagai kapal pengangkut, dan 3 kapal yang ukurannya kecil sebagai kapal penyedot.

Sebernarnya, masyarakat Rupat sudah bertahun-tahun resah dengan aktifitas penambangan pasir secara besar-besaran di Pulau terluar itu, namun aparat penegakan hukum di Kabupaten Bengkalis terkesan tutup mata. Untuk itu, masyarakat Pulau Rupat sangat berharap perkara penambangan pasir ilegal ini diusut tuntas.

Harapan itu, disampaikan tokoh masyarakat Rupat, Syamsuddin, Jum'at (2/8/19), dilansir SUARAAKTUAL.CO. Menurutnya (Syamsuddin-red), masalah penambangan pasir laut di kampungnya itu sudah berlangsung puluhan tahun. Namun, para pelakunya masyarakat tempatan dan dengan peralatan tradisional. 

"Kita berharap perkara ini diusut tuntas," katanya.

Untuk itu, Syamsudin alias Atan itu berharap Polda Riau mengusut tuntas penambang yang diduga tanpa izin yang dilakukan PT Rupat Makmur Jaya di Pulau Ketam dan Sungai Injab, Kecamatan Rupat. Menurutnya (Atan) lagi, penegakan hukum yang tegas perlu diambil oleh penegak hukum agar perusahaan tidak semena-mena mengeruk pasir laut pulau terluar itu.

"Kita berharap Polda juga memeriksa siapa oknum yang mengeluarkan surat izin tersebut, kalau memang perusahaan itu (PT. Rupat Makmur Jaya) ada izin menambang," kata Atan.

Sementara dari penelusuran awak media, Pemerintah Kabupaten Bengkalis juga melarang diakukan penambangan pasir laut di Pulau Rupat. Larangan itu tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Bupati Bengkalis Nomor 504 Tahun 2001. Dengan demikian, pasir laut di Pulau Rupat dilarang untuk dikeruk. 

Namun, jauh sebelum keluarnya SK Bupati Bengkalis Nomor 504 Tahun 2001, masyarakat pulau Rupat khususnya masyarakat Sungai Injab sudah melakukan penambangan puluhan tahun dengan peralatan tradisional. 

"Kami di Rupat sudah puluhan tahun menambang pasir di Sungai Injab, tapi peralatannya seadahnya, Tidak seperti perusahaan besar (seperti PT. Rupat Makmur Jaya) yang yang menggunakan alat-alat lebih maju," tegas kata Atan.

Menurut Atan, pasir yang ditambang PT. Rupat Makmur Jaya di Pulau Ketam dijual ke Bengkalis dan Meranti. Ironisnya jelas Atan, titik koordinat penambangan PT. Rupat makmur Jaya diduga titik koordinat yang diusulkan Atan yang merupakan perpanjangan tangan penambang penduduk Pulau Rupat. 

"Menambang pasir PT. Rupat makmur Jaya dengan titik koordinat 1°51’31” N 101°22’25.5 itu titik koordinat yang saya usulkan, kok bisa-bisanya perusahaan tersebut yang menambang," ujarnya.

Atan lebih jauh mengungkapkan, ternyata dilakukan oleh PT Rupat Makmur Jaya (RMJ) berlandaskan surat yang dikeluarkan dari kepala badan koordinasi penanaman modal dengan nomor 184/1/IUP/PMDM.

Didalam surat itu, pihak PT Rupat Makmur Jaya hanya memiliki izin usaha operasi produksi khusus pengangkutan dan penjualan komuditas mineral.

Itu artinya, tandas Atan, izin yang dikantongi perusahaan tersebut merupakan izin angkutan dan penjualan, bukan izin pertambangan. Namun kenyataannya, PT. Rupat Makmur Jaya diduga melakukan penambangan di Pulau Ketam dan Sungai Injab dan hasilnya di jual kepada perusahaan pelayaran rakyat.

"Jika memiliki izin penambangan, tentu ada izin lokasi dan izin lingkungan (Amdal) sebagaimana yang diatur didalam regulasi pertambangan. Diduga PT. Rupat Makmur Jaya menabrak semua persyaratan tersebut," kata Atan.

Atan yang mengaku ketua LSM LP3NKRI di Rupat itu mengatakan, PT. Rupat Makmur Jaya berdomisili di Jalan Rampang RT 13, RW 07, Kelurahaan Tanjung Kapal, Kecamatan Rupat dengan Direktur seorang perempuan bernama Awi yang saat ini tengah diproses oleh Polda Riau terakit dugaan penambang pasir laut ilegal. Selain itu, beberapa pegawai perusahaan tersebut berinisial Yt Ar HE anak Awi juga dimintai keterangan.

Kabid Humas Polda Riau, Kombes Sunarto saat dikonfirmasi media beberapa hari lalu mengaku masih akan mengecek ke Direktorat Polair. Saat kembali dikonfirmasi, Jumat (2/8/19) siang terkait proses penegakkan hukum terhadap 5 kapal pengangkut pasir milik PT. Rupat Makmur Jaya itu, Sunarto mengaku pihaknya belum dikonfirmasi Direktorat Polair. "Belum dikonfirmasi sama saya, saya juga lagi diluar kota," kata Sunarto.(rls/sumber suaraaktual.co).

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas