Headlines News :
Home » » Penetapan Tersangka Nelson Hutahean di Polres Kampar Diduga Rekayasa

Penetapan Tersangka Nelson Hutahean di Polres Kampar Diduga Rekayasa

Written By HARIANBERANTAS on Sunday, May 12, 2019 | 9:28:00 AM

HARIANBERANTAS, PEKANBARU- Malang benar nasib Nelson Hutahean, angota  persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Usai dianiaya dengan benda tajam, parang, dia  ditetapkan tersangka dan ditahan di Polres Kampar. Dimana Penganiayaan yang dilakukan Herianto terhadap Nelson Hutahean terjadi pada hari Jum’at 07 Desember 2018 sekira jam 22,30 wib di depan klinik Budi Kasih di komplek Prumahan Graha Payung sekaki Desa Kualu Kec Tambang Kab Kampar, korban penganiayaan Nelson Hutahean mengalami luka robek  di kepalanya akibat dipukul dengan parang milik pelaku, serta luka lebam dibagian dada. kemudian pelipis matanya mengalami luka  akibat di pukul dengan senter. Nelson Hutahean  berhasil meloloskan diri dari ancaman pembunuhan  justru di tetapkan tersangka oleh Polres Kampar yang diduga penuh dengan rekayasa.

Saat ini  Herianto  pelaku penganiayaan  sudah di vonis 10 bulan penjara di pengadilan Negeri Bangkinag karena terbukti melakukan perbuatan keji yaitu memukul kepala  korban dengan parang, sehinga kepala korban mengalami luka robek dan mengeluarkan darah segar. Sedangkan  batu vapin blok dan senter  ketiga alat bukti tersebut sudah disita di  Pengadilan Negeri Bangkinang untuk di musnahkan. Penetapan tersangka Nelson Hutahean diduga kuat ada intervensi dari oknum Perwira Polisi yang bertugas di Polda Riau, pasalnya usai melakukan penganiayaan Heri melontarkan ucapan menantang, silahkan kau lapor, saya tidak takut anak saya tugas di Polda kata Heri sambil menunjuk Nelson dengan tangan. Fitria anak Eri yang bekerja sebagai PHL di Polda Riau membatalkan niatnya untuk mempradilan Polsek Tambang, diduga atas petunjuk oknum perwira tersebut sebab  penydik Polres Kampar  mengatakan kepada istri Nelson. kalau tidak kami lakukan penahan kami terancam di pindah tugaskan buk, ucap  istri Nelson menirukan kata salah seorang peydik Polres Kampar Bigadir Rici herianto S ke RN 

Nelson Hutahean di panggil penyidik Polres Kampar sebagai tersangka,18 Pebruari 2019  termasuk saksi   Aritonang Raja Guguk  yang sudah di BAP di Polsek Tambang sebagai saksi Nelson korban penganiayaan Aritonang Raja Guguk juga dijadikan  saksi Herianto di Polres Kampar, saat dimintai keterangan oleh penyidik Polres Kampar dia (Raja Guguk-ed) mengaku diintimidasi oleh Brigadir Rici Heranto S. memasuki maqrib Nelson  dipaksa menandatangni surat perintah penahanan, dengan spontan istri Nelson mempertanyakan  apa alat bukti  suami saya bersalah sehingga ditetapkan tersangka dan di paksa menanda tangani surat perintah penahanan. namun penyidik mengatakan  tidak boleh ketahui karena rahasia penyidikan kami kata  Brigadir Rici menjawab pertanyaan istri Nelson.

 Menurut Nelson, awalnya  dia menerima surat pangilan sebagai tersangka dari Polres  Kampar, kemudian dia menghubungi Hp salah seorang penyidik di Polsek Tambang, dia diberitahu bahwa dirinya akan dilakukan penangkapan dan  penahanan yang di paksakan atas laporan Heriyanto. kemudian esok harinya, saksi saya atas nama  Farid bersama istri Nelson    dimintai keterangan di ruangan penyidik, saat di periksa Farid  mengaku di intimidasi oleh  Brigadir Rici S. sebelumnya Farid memberikan keterangan di ruangan penyidik Polsek tambang di (BAP) mengatakan Nelson (Korban penganiayaan)  tidak ada memukul Terdakwa (Herianto)  hanya menahan badan terdakwa, serta merebut parang yang digunakan pelaku untuk menganiaya Nelson. Namun entah kenapa  disaat saksi Farid di periksa di ruangan penyidik Polres Kampar, keterangan yang di sampiakan  saksi Farid sama seperti keterangan di Polsek Tambang, namun pihak penyidik menulis bahwa saksi Farid melihat Nelson memukul terdakwa. Hal ini diketahui saksi Farid ketika PH Nelson Klarifikasi ke  Kejaksaan Negeri Bangkinang.

Pada saat sidang pertama penuntutan terdakawa (Herianto)  di Pengadilan Negeri Bangkinang (13/2/19) di mulai, saya selaku korban ditetapkan tersangka oleh penyidik Polres Kampar. Padahal jelas keterangan saksi yang sudah di BAP di Polsek Tambang di bacakan oleh penuntut umum di ruangan sidang  bahwa saya tidak ada memukul terdakwa, hal ini tidak di bantah oleh terdakwa dan diakuinya. 

Dari awal surat pangilan yang dikirim pihak polres Kampar sudah terlihat kejanggalan. Pertama  saya hanya menerima 2 surat dari Polres Kampar, dimana surat pertama hanya surat permintaan keterangan itupun di terima oleh pak Edi Efendi ketua RT 04 hari Kamis, saya  diminta hadir pada hari Jumat, sementara surat sampai pada saya pada hari minggu, artinya  saya hanya diberi waktu yang sempit untuk menghadiri, selanjutnya  saya menerima surat yang kedua langsung ditetapkan sebagai tersangka. Karena saya merasa tidak melakukan penganiayaan  terhadap terdakwa, dengan itikad baik saya memenuhi panggilan Polres Kampar sebagai tersangka tanpa didampingi pengacara, saya sangat yakin pihak Polres sangat profesional didalam menetapkan saya sebagai tersangka, namun apa hendak dikata  saya hanya meloloskan diri dari  ancaman pembunuhan  malam itu juga saya langsung di tahan jelas Nelson.

Pada hari Minggu saat  saya di besuk istri saya bersama 2 orang tetangga saya, kemudian saya  dibawa keruangan  penyidik, saat diruangan itulah  penyidik Rici  Heriyanto  S mengatakan, semua ini terpaksa mereka lakukan karena perintah atasan dari Polda Riau yang berpangkat Perwira, apabila tidak patuh penyidik takut dipindahkan demikian dikatakannya dihadapan kami semua ujar Nelson.

Dihari yang sama  Penyidik Rici Hariyanto S  juga mengancam saya dengan mengatakan jika tidak ada damai dengan terdakwa atau pelapor (Herianto) tidak bisa  bebas dari jeratan hukum, maka penyidik dapat mengkondisikan tuntutan atau vonis kepada saya lebih berat dari vonis yang di terima terdakwa Herianto, kemudian  Rici Hariyanto S, juga mengatakan  perkara saya ini sudah ada orang yang mengondisikan di pengadilan, tetapi dia (Rici Hariyanto S) tidak menjelaskan secara rinci apa maksud orang yang mengkondisikan kasus saya ini di pengadilan, ada terucap dari mulutnya perkataan saya ini cukup pecah di perut, jangan sampai di ceritakan ke orang lain  

Setelah dua hari nelson ditahan  di polres Kampar,  kondisi kepala  merasa pusing dan sesak napas akibat di hantam dan di bacok oleh terdakwa dengan batu vapin blok dan parang  istri Nelson  berupaya melakukan permohonan penangguhan penahanan, namun sampai saat ini tidak di kabulkan tanpa penjelasan Kasat Reskrim Polres Kampar Fajri, SH. SIK Ajun Komisaris dan Kanit Lidik I Satreskrim Melvin Sinaga hanya menyuruh  sabar ya buk, itulah alasannya yang seolah- olah saya diperlakukan seperti penjahat yang berbahaya di negeri ini seperti tersangka teroris ujar  tutup Nelson saat di temui Wartawan.

Kapolres Kampar AKBP Andri Ananta Yudhistira  saat di konfirmasi terkait penetapan tersangka korban penganiayaan Nelson Hutahean mengatakan proses penetapkan tersangka sudah sesuai prosedur, sedangkan penyidik Resktrim saat di konfirmasi apa alat bukti yang digunakan Nelson menganiaya Erianto yang sudah jadi narapidana, tidak perlu di ketahui oleh tersangka dan istri tersangka itu rahasia kami kata kanit Lidik Melvin Sinaga di hadapan RN. *** (Rls/Tim)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas