Headlines News :
Home » » Sidang Kasus ITE di PN Pekanbaru, Hakim dan Pengacara Bentak Saksi Amril Mukminin

Sidang Kasus ITE di PN Pekanbaru, Hakim dan Pengacara Bentak Saksi Amril Mukminin

Written By Harian Berantas on Friday, August 24, 2018 | 5:49:00 PM

HARIANBERANTAS, PEKANBARU- Sidang lanjutan ke-7 dugaan kriminalisasi terhadap pemberitaan Pers media www.harianberantas.co.id yang dikaitkan dengan Undang undang Informasi Transaksi Elektronik (UU ITE), mulai terungkap kebenarannya. 

Pasalnya, dari keterangan kedua saksi pelapor yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan di pengadilan Negeri Kelas I Pekanbaru untuk didengar keterangannya oleh Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, Kamis 23 Agustus 2018 terksesan berbelit belit.

Kedua saksi pelapor itu pliplan dan atau berbelit-belit pada saat menjawab pertanyaan majelis hakim dan kuasa hukum terdakwa.

Dalam keterangan kedua saksi tersebut banyak yang tidak mengetahui dan lupa, seakan akan isi BAP-Nya saat di kepolisian bukanlah keterangannya sesungguhnya.

Sehingga keterangan dinilai sebagai keterangan hafalan dan penuh opini serta berpendapat bagaikan keterangan ahli hukum dan tata negara yang lebig menjurus pada penafsiran.

Berikut kutipan keterangan saksi bernama Riza Zulhelmy yang berhasil di rekam wartawan media ini:

  1. Berita yang dimuat www.harianberantas.co.id dibaca Rizal Zulhelmi selalu berulang ulang;
  2. Pimpinan Umum, Pimpinan Perusahaan dan Pimpinan Redaksi hanya di pimpinan oleh Toro (Terdakwa);
  3. Media www.harianberantas.co.id tidak pernah mendaftar ke dewan pers sebelum kasus itu di laporkan;
  4. Terdakwa sebagai pimpinan media www.harianberantas.co.id tidak pernah melakukan konfirmasi kepada bupati;
  5. Kode eta pada akhir berita berita meyakini bahwa itu adalah terdakwa (Toro); dan
  6. Masih banyak lagi keterangan yang tidak sesuai dengan fakta.
Atas keterangan saksi yang langsung menuduh secara membabi buta terdakwa (Toro) langsung dibantah oleh terdakwa (Toro) dengan menunjukkan SK pengangkatannya sebagai pimpinan redaksi yang di tandatangani oleh pimpinan umum www.harianberantas.co.id sdr. Bowonaso laia.

Selanjutnya terdakwa (Toro,red) juga menunjukkan bukti konfirmasi/klarifikasi kepada bupati berupa tanda terima surat dan salinan surat konfirmasi. Dan

Sehingga saksi, Riza Zulhelmy diminta Hakim Ketua untuk datang kembali memberi keterangan pada persidangan, Kamis (30/08/2018) mendatang.

Atas tuduhan secara saksi secara langsung itu membuat majelis hakim membentak Rizal Zuhelmi (saksi Amril Mukminin).

Begitu juga kuasa hukum/Pengacara Terdakwa turut membentak saksi yang dianggap ngawur itu.

Akibat dari keterangan kesaksian Rizal Zuhelmi membuat kuasa hukum mempertanyakan perannya yang sering berhubungan komunikasi dengan pihak penyidik polda riau sampai ada dugaan telah terjadi transaksi pembayaran penyidik untuk memuluskan kasus tersebut.

Menurut, Toro Laia sebagai Terdakwa yang menjadi korban kriminalisasi kasus pemberitaan di media Pers Harianberantas mengatakan, dari beberapa saksi yang memberikan keterangannya, terdengar berbelit-belit dan tidak sesuai dengan fakta sesungguhnya.

"Dalam BAP penyidik polda Riau, disebutkan saksi bahwa seakan-akan berita itu dimuat secara berulang-ulang, padahal saksi lain tadi mengatakan ia tidak menyebutkan media Harianberantas memuat berulang-ulang, melainkan saksi hanya membacanya secara berulang-ulang,"

"Saya curiga dengan saksi (Rizal Zuhelmi) ini kayak keterangan pelapor/korban seakan akan mewaki pelapor. Padahal seharusnya dia memberi kesaksiannya sesuai apa yang dialaminya bukan sebalikny. kata Toro dihadapan awak media.

Lanjut Toro, ia sangat kecewa mendengar pernyataan saksi yang terkesan mengada-ada dan terlihat saksi seperti mewakili pelapor Amril Mukminin atau Bupati, karena mengetahui semua terkait Amril Mukminin selaku pelapor.

"Seharusnya saksi itu hanya menjawab soal pertanyaan hakim atau kuasa hukum, bukan menafsirkan atau ber opini terkait yang dilakukan orang lain," sebut Toro.

Hal itu dikatakan Toro, karena saksi kerap mengatakan dari pengetahuanya disebut kuat Toro adalah sebagai penulis berita tanpa menyertakan bukti-bukti terhadap tuduhanya itu, yang kemudian hal itu sontak membuat hakim berang dan bertanya menohok terhadap saksi.

"Atas dasar apa anda menduga kuat, bahwa Toro adalah penulis berita di Harian Berantas itu? apakah anda melakukan konfirmasi atau ada sumber lainya?," tanya Hakim yang akhirnya dijawab oleh saksi, Riza Zuhelmy bahwa ia hanya menduga secara empiris (Opini).

"Disini kita bersidang berdasarkan fakta hukum, itu sangat berbeda dengan empiris, jadi anda harus sadar apa kapasitas anda disini," sebut Hakim ketua.

Dari perjalanan sidang dugaan kriminalisasi Pers tersebut, dari sejumlah pertanyaan yang dilontarkan oleh hakim, kuasa hukum terdakwa, maupun JPU, terlihat jelas bahwa saksi sering memberikan keterangan yang tidak berdasarkan fakta, bahkan kerap meberikan asumsi dan penafsiran yang tidak sesuai dengan kapasitanya sebagai saksi, sehingga membuat hakim maupun kuasa hukum terdakwa menjadi berang dan mempertanyakan soal hubungan saksi dengan pelapor Amril Mukminin.

"Anda itu jangan menjustifikasi disini, anda disini disumpah sebagai saksi, bukan memberikan justifikasi atau kesimpulan, sebenarnya apa hubungan anda dengan Amril Mukminin," tanya kuasa hukum terdakwa.

Atas kejanggalan sikap saksi pelapor dan rasa penasaran pihak kuasa hukum terdakwa terhadap hubungan saksi dengan Amril, akhirnya hakim mempertanyakan hal itu kepada saksi, dan dijawab.

"Selain teman beliau (Bupati Amril), saya juga pernah menjadi tim sukses beliau," kata saksi, Reza Zuhelmy.

Dari sekian banyak pernyataan kotroversial saksi pelapor di persidangan itu, atara lain adalah saksi juga mengatakan dasar pelapor membawa kasus ini keranah hukum pidana adalah karena dianggap Redaksi Harian Berantas tidak melaksanakan rekomendasi Dewan Pers saat mediasi di Jakarta, untuk memuat berita klarifikasi dan permohonan maaf di media itu selama 8 hari berturut-turut.

Namun ternyata anggapan Saksi (Reza) itu langsung dipatahkan oleh pertanyaan hakim ketua maupun kuasa hukum terdakwa, dengan mengatakan bahwa rekomendasi Dewan Pers tersebut telah dilakukan oleh Harian Berantas dengan memuat berita klarifikasi dengan menunjukkan bukti tersebut di depan persidangan.

"Berdasarkan apa anda mengatakan bahwa Harian Berantas tidak melakukan konfirmasi atau klarifikasi di media Harian Berantas? apakah anda pernah membaca? atau ada sumber lain yang mengatakan? ," tanya hakim, yang kemudian tidak bisa dijawab Reza Zuhelmy saksi dari pelapor yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Toro Laia berhasil mematahkan pernyataan saksi dengan menunjukkan bukti dari berita klarifikasi yang telah dilakukan Harian Berantas, dan bukti dari media tersebut telah terdaftar di Dewan Pers tahun 2016 dan terverifikasi tahun 2017, yang akhirnya membungkam saksi pelapor.

Sementara bukti rekaman,visual/video percakapan yang diduga melibatkan saksi terhadap sengketa pemberitaan Pers yang diduga rekayasa dan sebagainya, Hakim Ketua mempersilahkan Kuasa Hukum Terdakwa untuk didengar dalam persidangan berikutnya pada Kamis (30/08/2018) mendatang, disertai keterangan dua saksi pelapor yang belum didengar dalam persidangan dan menghadirkan pelapor Amril Mukminin.

Saudara JPU saya minta hadirkan Amril Mukminin. Karena keterangannya lah sebagai pelapor yang sangat di butuhkan disini, kata hakim ketua (red)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas