Headlines News :
Home » , » Proyek Pembangunan Sutet Tahun 2017 Diduga Kongkalikong PT. Waskita Karya

Proyek Pembangunan Sutet Tahun 2017 Diduga Kongkalikong PT. Waskita Karya

Written By Harian Berantas on Thursday, July 19, 2018 | 9:37:00 AM

HARIANBERANTAS, PEKANBARU- PT. Waskita Karya (Persero) Tbk diduga meng-Subkan sejumlah proyek kepada pihak ketiga seperti pemberian sub kontrak dalam pengerjaan pembangunan pondasi menara/tower saluran udara tegangan ekstra tinggi (Sutet) milik Kementerian ESDM Republik Indonesia melalui PT. PLN (Persero) Tbk. Kegiatan pembangunan Sutet yang pengerjaannya disub kontrakkan ke pihak ketiga oleh PT. Waskita Karya  untuk mengerjakan pengecoran tapak menara/tower saluran udara tegangan ekstra tinggi (Sutet).

Dalam pengerjaan pengecoran tapak menara/tower sutet ini kuat dugaan asal jadi dan kualitasnya diragukan sehingga kedepan akan memakan korban, kata B. Anas, Sekretaris Umum  elemen/LSM Komunitas Pemberantas Korupsi, Selasa  (17/07/ 2018).

B Anas menjelaskan, hampir semua pengerjaan pembangunan pondasi tower saluran tegangan ekstra tinggi (Sutet) milik PT. PLN yang menggunakan uang negara miliyar rupiah  yang dikerjakan oleh rekanan selaku penerima sub kontrak  (subkon). Jadi, mereka diduga banyak melenceng dari harapan pemerintah sesuai amanah masyarakat karena rekanan hanya mengutamakan keuntung semata, jelasnya.

Dari pantauan awak media beberapa waktu lalu disalah satu lokasi pengerjaan “tapak Sutet” seperti yang terjadi di titik 162, 163,164 di wilayah PT. Musimas III, Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau, ditemukan kejanggalan seperti pemberian bahan anti karat pada besi, bahan pengeras, bahan cair sambungan beton dengan coran beton baru, yang seharusnya diberikan saat pengecoran. Namun pemberian cairan penyambung beton ini hanya dilakukan saat pengambilan dokumentasi sehari sebelum pengecoran sebagai formalitas saja untuk mempermulus permainan pihak oknum pegawai lapangan PT. Waskita Karya yang dikomandoi oleh Eko bekerjasama dengan oknum subkon.

Selain itu, campuran semen terindikasi tidak sesuai dengan bestek. Pasalnya, saat pengecoran campuran satu sak semen dengan kerikil/split dan pasir untuk memasukkan kedalam molen tidak menggunakan alat ukur, akan tetapi langsung menyekop sampai penuh molen untuk mengejar keuntungan.

Alat ukur semen dan split dan pasir hanya di gunakan saat datang pengawas dari PT. PLN sebagai pemilik sekaligus konsultan yang mengecek dan mengambil sampel. Pengambilan sampel untuk diuji kelaboratorium ini hanya secara formalitas dengan cara memilih bahannya dan campuran semen sesuai petunjuk untuk mendapatkan kualitas yang baik saja, itupun hanya ketikan konsltan dari PLN sekitar 10-15 menit (dua kali aduk saja dimolen), lalu kontraktor mengajak konsultan untuk jalan-jalan dan meninggalkan lokasi pengecoran. Itulah salah satu indikasi permainan mereka, jelas Anas.

Sedangkan bahan lainnya lanjutnya, seperti split/kerikil ada sertu (berasal dari sungai yang bulat) dan ada split muda (warna putih bercampur hitam/tua) dan belum lagi bahan item pekerjaan lainnya.

Menurut penanggungjawab lapangan subkon berinisial MI saat ditanya menjelaskan, kami dari subkon hanya mengambil upah pengerjaan saja, sedangkan seluruh bahan berasal dari PT. Waskita Karya secara gratis.

Namun, karena kita subkon dilapangan sangat butuh bahan dan mengejar waktu,  kami tetap membayar-Nya seperti upah antar split/kerikil kelokasi, upah/asap antar dan bongkar semen. Nominalnya berfariasi mulai dasar Rp. 500.000 rupiah. Jika tidak kita kasi bahan diperlambat, kata MI saat berbincang-bincang di lokasi sutet titik 162 di areal PT. Musimas III di Sorek.

Selain campuran semen dan kualitas bahan serta tata cara pengikat besi yang diduga asal-asalan, tiang pancang atau paku bumi yang sering disebut "borpel" yang seharusnya tertanam 12 meter, namun sesungguhnya kedalaman berfariasi mualai 9 s/d 11 meter. Pasalnya, sebelum pengecoran akan di gali sedalam 2 meter, lebar 6 meter dan borpel dibobol atau dihancurkan kembali. Belum lagi campuran semen borpel ini yang langsung dicor kedalam tanah tanpa dibentuk terlebih dahulu sebelum ditancapkan kedalam tanah.

Sementara bahan baku seperti semen banyak yang sudah membeku, akan tetapi tetap dipaksa untuk digunakan. Padahal bahan baku semen ini sudah tidak layak digunakan untuk beton yang menanggung beban berat seperti menara / tower super milik Negara untuk jangka waktu puluhan tahun tersebut.

Akibat dari ketidaksesuaian atau tidak berpedoman pada bestek sehingga dikhawatirkan, paku bumi yang di cor kedalam tanah tidak akan tahan serta tidak mampu mengendalikan beban menara yang beratnya ratusan ton beratnya.

Selain paku bumi, kulitas tapak yang berasal dari bahan baku semen yang sudsah membeku ini juga diragukan dan dapat diyakini dalam waktu dekat menara/tower raksasa tersebut akan turun, miring bahkan roboh kedepan jika tidak dikaji ulang kembali untuk dibongkar dan di perbaiki seperti awal. apabila dibiarkan atau dilanjutkan, maka warga harus siap-siap menjadi mangsa / korban sebagai tumbal menara / tower raksasa milik negara itu dikemudian hari.

Selain itu, menurut keterangan dan informasi yang berhasil dihimpun media ini dilapangan, bahwa oknum pengawai PT.Waskita Karya diduga ada yang bermain mata dengan cara bekerjasama dengan perusahaan lain untuk menjadi subkon demi mencari keuntungan. Sesuai keterangan oknum penanggungjawab subkon dilapangan berinisial MI, mengatakan “saya berjasama dengan orang waskita untuk mendapatkan tenaga kerja, dan peralatan seperti mesin dan mekanik mesin dll dari waskita secara Cuma-cuma.

Berdasarkan temuan awak media ini saat turun kelokasi kegiatan, pengerjaan proyek PLN ini sangat memperihatinkan, selain itu kontraktor sebagai pelaksana pekerjaan, tidak mencantumkan merk/plank proyek atau sumber anggaran. Sehingga disanksikan, proyek-proyek yang digulirkan oleh pemerintah pusat melalui PLN untuk mengatasi kekurangan listrik di Indonesia khususnya wilayah Riau.

Pemerintah Pusat melalui PT. PLN (Persero) membangun jaringan transmisi tegangan tinggi 500 KV lebih di seluruh pantai timur Sumatra adalah salah satu upaya pemerintah pusat untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat.

Informasi yang diterima harianberantas.co.id menyebutkan, bahwa pembangunan jaringan transmisi "Sutet" terbagi lima paket. Kelima paket pekerjaan tersebut adalah ruas New Aur Duri, Jambi ke perbatasan Jambi-Riau (Lot-1), Baru Aur Duri -angkat Jambi-Riau (Lot-2), perbatasan Jambi-Riau ke Rengat, Riau, lalu Rengat-New Garuda Sakti, Riau (Lot-1), dan Rengat-New Garuda Sakti (Lot-2).

Kesemua paket yang saat ini telah dilelang oleh Kementerian ESDM melalui PT. PLN. Dan PT. PLN memenangkan perusahaan milik Negara  (BUMN) PT. Waskita Karya  (Persero) Tbk sebagai rekanan. Dalam kebijakan pemerintah untuk mengerjakan proyek tersebut mengutamakan pengembang lokal.

Selain itu, PLN juga mewajibkan untuk menggunakan pendaftaran tenaga lokal di antara 80-90 persen. Syarat lain, pengembang juga harus berpengalaman, minimal yang pernah membangun jaringan transmisi 150 KV dan seluruh tenaga buruh di daftarakan ke BPJS Kesehatan.

Proyek transmisi Sutet berdaya 500 kV lebih Riau - Sumatera ini merupakan proyek kedua setelah Jawa.

Lima paket pekerjaan ini berkisar panjang sekitar 360 km. Tahap pertama akan dimulai dari Aur Duri ke Garuda Sakti. Dan Pembangunannya dirancang akhir 2014 dan beroperasi 2017 kemaren.

Dikabarkan, dalam proses produksi yang dilakukan oleh PLN. PLN akan membutuhkan pembiayaan selama 12 tahun.

Perlu diketahui untuk tahap kedua, PLN merencanaan pembangunan transmisi 500 kV ruas Aur Duri-Muaraenim, Sumatra Selatan dimulai 2016. Tahap ketiga akan dibangun transmisi yang menghubungkan Garuda Sakti-Medan, Sumut, dengan harapan pada 2020 mendatang.

Dengan adanya jaringan tersebut akan menguntungkan penyaluran listrik dari pembangkit yang sedang dibangun PLN, diinsip PLTU Jambi 2 × 400 MW, PLTU Sumsel 6 2 × 300 MW, dan PLTU Sumsel 7 2 × 150 MW. Selain itu, jaringan tersebut juga akan mendukung jaringan listrik 275 kV yang tengah beroperasi saat ini.

Selain itu, saat ini sistem kelistrikan Sumatera terbagi menjadi tiga, yaitu Sumatera bagian selatan mencakup Sumsel, Lampung dan Bengkulu. Kemudian, Sumatera bagian tengah terdiri dari Sumbar, Riau dan Jambi, serta Sumatra bagian Utara yaitu Sumut dan Aceh.

Pihak (PT. PLN) sebagai penanggungjawab sekaligus sebagai konsultan pengawas dan PT.Waskita Karya  sebagai pemenang tender. kedua BUMN raksasa milik Negara ini sebagai penanggunjawab terhadap proyek diatas, hingga berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi, (Red)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas