Headlines News :
Home » » Tahanan Tak Bisa Dibesuk, Pengacara dan Keluarga Kecewa pada Polsek Tenayan Raya

Tahanan Tak Bisa Dibesuk, Pengacara dan Keluarga Kecewa pada Polsek Tenayan Raya

Written By Harian Berantas on Tuesday, May 22, 2018 | 10:34:00 PM

HARIANBERANTAS, PEKANBARU- Ibu Rumah Tangga (IRT) bernisial EW, yang ditahan Polsek Tenayan Raya Kota Pekanbaru-Riau sejak 5 Mei 2018 lalu bersama empat (4) orang anak yang masih kecil atas tuduhan tindak pidana penipuan dan penggelapan, hingga kini masih dilarang Polisi untuk dibesuk Pengacara dan keluarga.

Kuasa Hukum EW, Yunaldi SH, mengatakan keluarga kliennya masih dilarang untuk bertemu Ibu Rumah Tangga (IRT) bernisial EW bersama empat orang anak EW yang ditahan itu untuk dibesuk.

Sampai saat ini tak diperbolehkan bertemu atau dibesuk, mereka masih di Polsek Tenayan Raya Pekanbaru. Saya kecewa terhadap penyidik (Polisi-red). Saya (Kuasa Hukum) bersama suami tersangka dilarang penyidik Polsek hanya bertemu 2-3 menit saja. Penyidik melarang kami mengatakan, mereka tersangka sudah tahanan Polsek Tenayan Raya, tak boleh di temui karena ada perintah dari atasan kami, beber Yunaldi.

"Dengan cara Polisi seperti itu, hak kuasa hukum (Pengacara) termasuk keluarganya tersangka diabaikan dan tidak menghargai. Terus terang, saya kecewa dengan cara Polisi seperti itu" katanya.
Ketika ditanya Wartawan, langkah Pengacara maupun keluarga tersangka selanjutnya apa?. "Kita pasrah saja dengan gaya Polisi seperti ini, yang pasti Polri harus merubah sikap yang menghalangi keluarga dan kuasa hukum demi kepentingan dari tersangka itu sendiri" tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, Unit Reskrim Polsek Tenayan Raya Kota Pekanbaru-Riau, menahan seorang ibu rumah tangga (IRT) bernisial EW, bersama empat orang anak yang masih kecil atas tuduhan tindak pidana penipuan dan penggelapan.

Himpunan informasi di Mapolsek Tenayan Raya Kota Pekanbaru-Riau,  bahwa berdasarkan surat perintah penahanan, EW dan empat orang anak yang ditahan sejak (05/05/2018), hingga kini upaya penangguhan penahanan tak dikabulkan polisi.

Dimaa pada tanggal 08 Mei 2018, suami EW bersama tokoh tertua warga Nias di Kota Pekanbaru-Riau yang turut sebagai penjamin dalam penangguhan penahanan, pihak Polsek Tenayan Raya tidak mengabulkannya dengan alasan,  uang  sebesar Rp20 juta yang diminta pelapor (Farisman), harus dibayar lunas oleh EW (tersangka).

Suami tersangka (EW), Sianto Daeli kepada Wartawan membenarkan, bahwa istrinya EW ditahan Polsek Tenayan Raya pada tanggal 5 Mei 2018, namun lantaran tuduhan yang dipersangkakan itu tidak tepat dan benar makanya kami pasrah dan berencana membicarakan penyelesaian secara kekeluargaan atas musyawarah bersama antara tokoh masyarakat Nias yang ada di Pekanbaru.

"Kami sudah ajukan permohonan penangguhan penahanan isteri saya itu ke pak Kapolsek Tenayan Raya pada tanggal 8 Mei. Namun belum ada jawaban," katanya. 

Sianto Daeli mengatakan, ini persoalan kemanusiaan, dimana anak-anak masih kecil dan tinggal menginap di kantor Polisi sama ibu mereka. Sehingga, pihaknya berupaya agar penahanannya itu bisa ditangguhkan, katanya saat diwawancara Wartawan.

Sementara tokoh warga Nias Kota Pekanbaru, Fag Zega menerangkan, bahwa kasus dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan yang dituduhkan kepada EW (ibu rumah tangga), diduga ada rekayasTahanan Tak Bisa Dibesuk, Pengacara dan Keluarga Kecewa pada Polsek Tenayan Raya a dan unsur pemerasan, sebab kasus ini tidak memenuhi unsur pidana.

Kenapa tidak, kasus yang dituduhkan itu sebenarnya kepada EW, berawal dari bisnis jual-beli barang bekas atau kara-kara dari Bukit Tinggi-Sumatera Barat (Sumbar) ke Pekanbaru-Riau yang dimodali oleh Farisman selaku pelapor. Itupun jumlah uang seluruhnya hanya Rp10 juta, pungkasnya.

Dijelaskannya (Fag Zega), pernah masalah itu kami bicarakan di kantor Polsek dihadapan Kanit Polsek Tenayan Raya, pihak pelapor tidak berdamai apabila EW (tersangka) tidak mengembalikan kerugian Farisman selaku pelapor sebesar Rp20 juta, karena dia Farisman mengatakan sudah banyak mengeluarkan uang untuk kebutuhan operasional Polsek Tenayan Raya saat berangkat ke Bukit Tinggi Sumatera Barat.

Masalah itu cukup memprihatinkan memang. Bagimana kita sebagai orang tengah menyelesaikan masalah utang piutang seperti itu kalau pihak pelapor sendiri meminta uang yang tidak pernah diterima EW. Apalagi keluarga EW merasa trauma karena melihat keadaan EW bersama anak-anak itu berada dikantor polisi sejak tanggal 5 Mei 2018.

Seperti yang pernah saya jelaskan minggu lalu, kita berharap agar pihak penyidik jangan tebang pilih dalam penyidikan kasus ini, karena komunikasi pelapor sendiri terhadap EW (tersangka) soal penggunaan uang bisnis jual-beli barang bekas tersebut masih tersimpan atau terdokumentasi dalam sebuah hendphon. Apakah pelapor tersebut benar ditipu EW dengan cara menggelapkan uang Rp10 juta atau ada indikasi lain,” tegasnya.

Dari informasi yang diterima awak media, dan juga telah dimuat dalam berita acara pemeriksaan (BAP) di Polsek Tenayan Raya Pekanbaru, EW membenarkan telah menerima kiriman uang dari Pelapor (Farisman) sebesar Rp10.500.000. Kegunaan uang sebesar Rp10.500.000 yang diterima EW itu dibagi dua (2), untuk biaya/ ongkos EW sebesar Rp6 juta agar EW pergi dari rumah meninggalkan suaminya.

Sementara, uang sebesar Rp4 juta lebih lagi digunakan untuk pembayaran barang bekas yang akan ditampung Farisman di Pekanbaru-Riau. Namun, jenis kara-kara (barang bekas) belum dikirim EW ke Pekanbaru-Riau, karena  belum seutuhnya terkumpul oleh pihak ketiga yang juga dibayar EW di wilayah daerah Bukit Tinggi-Sumbar.

Diperoleh keterangan lain, uang sebesar Rp10.500.000 yang diterima EW, ditransfer pelaku usaha barang bekas (kara-kara), Farisman dari Pekanbaru melalui rekening Bank BRI atas nama Erfani. Bahkan EW bersedia untuk mempertanggungjawabkan uang yang diterima dari pelaku usaha barang bekas itu di Pekanbaru-Riau.

AKP Benny Syaf SH selaku Kapolsek Tenayan Raya kepada media sebelumnya mengatakan, pihaknya masih menunggu proses perdamaian secara kekeluargaan yang dilakukan kedua belah pihak.

"Kami sampai sekarang masih menunggu itikad penyelesaian secara kekeluargaan dari pihak keluarga ibu itu. Saya ingin masalah ini cepat diselesaikan, karena kasihan kita melihat anak-anak ibu itu di Polsek," kata AKP Benny Syaf SH. 

Hingga berita ini naik, kuasa hukum tersangka EW, Yunaldi SH secara resmi menempuh jalur praperadilan pada Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru. Selain itu, pihak Polsek Tenayan Raya juga telah dilaporkan ke Kapolri pada tanggal 21 Mei 2018. *** (r1)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas