Headlines News :
Home » » Akup Terduga Pelaku Pembalakan Liar Kayu Bakau Hingga Bisnis Arang ke Luar Negeri di Pulau Perlu Diusut

Akup Terduga Pelaku Pembalakan Liar Kayu Bakau Hingga Bisnis Arang ke Luar Negeri di Pulau Perlu Diusut

Written By Harian Berantas on Wednesday, January 24, 2018 | 12:33:00 AM

HARIANBERANTAS, PEKANBARU - Kawasan hutan bakau (Mangrove) di Kecamatan Rupat Utara Kabupaten Bengkalis, kian mengkhawatirkan dan terduga pelakunya Akup dan kroni lainnya. Selain reklamasi, ekspor arang juga dianggap menjadi faktor terbesar habisnya pohon bakau sebagai penyangga kawasan mangrove di daerah Kecamatan Rupat Utara Kabupaten Bengkalis-Riau. 

Sungguh memprihatinkan, pengusaha panglong arang, gundulkan hutan mangrove secara membabi buta atas pembalakan liar jenis kayu teki atau kubik cerocok (mangrove) ini ditebang secara ilegal dijadikan arang dan telah diperdagangkan hingga ke Malasyia dan Singapore (luar negeri). 
  

Warga Desa Putri Sembilan Kecamatan Rupat-Bengkalis yang tidak ditulis identitasnya kepada Harian Berantas mengatakan, pohon bakau di daerah setempat (Kacamatan Rupat) dibabat habis demi kepentingan produksi di dapur arang dengan pelakukanya terdiri dari tiga (3) orang, salah satunya bernisial AK (Akup).

Dapur arang diproduksi dengan skala yang cukup lumayan besar dengan pohon bakau di atas skala diameter 3 inci-4 ditebang, kata salah satu Warga, bernisial ST, kepada Wartawan media ini, Selasa (23/01/2018).
  

“Coba saja dilihat Bang, akibat kayu bakau didaerah disini itu dibabat secata terus menerus dan membabi buta pembalakkannya, daerah Pulau Rupat ini mulai mengecil karena terkikis air (erosi) kata warga. 
Ditambahkannya, Rupat ini pulau yang dikenal memiliki wilayah dengan wilayah pesisisr dan pulau kecil yang indah, dan dikenal dulunya sebagai kawasan hutan mangrove terindah, saat ini hanya menyisakan nama. 

Semua kebanggaan itu hilang oleh tangan jahil yang tak bertanggung jawab demi keuntungan yang berlimpah, sementara pihak aparat hukum berwenang dan dinas terkait lainnya hanya diam tanpa punya peduli didaerah yang amat cukup indah ini dulunya, kata ST. 

“Pemerintah, dalam hal ini Pemda Bengkalis, Pemda Provinsi Riau, pemerintah dari pusat (Jakarta), termasuk aparat Kepolisian, maunya jangan tutup mata sebelah saja, jangan karena alasan begitu dan begini, membiarkan para pengusaha arang bakau seenaknya terus melakukan penebangan merusak hutan bakau (Mangrove) di Rupat Utara ini”, pungkas ST.

Dari hasil pantauan serta bukti data lapangan yang diperoleh tim Redaksi Harian Berantas, pembalakan liar atas hutan bakau (Mangrove) diduga dilakoni Akup dan pemilik gudang arang bakau lainnya di Kecamatan Rupat Utara. 

Akup salah satu terduga pelaku pengusaha spesialis penampung dan sekaligus pengelola dapur arang bakau di daerah setempat, dengan memanfaatkan/ mempekerjakan warga setempat untuk memuluskan segala usahanya hingga ke luar negeri.

Gudang penampungan kayu bakau/mangrove terletak daerah Desa Putri Sembilan Kecamatan Rupat Utara, dan terlihat tumpukan arang bakau siap kirim (ekspor) ke beberapa wilayah di luar negeri, sepeti di Negeri Jiran Malasyia dan Singapore.

Informasi yang didapat Harian Berantas dilapangan, Akup sudah tergolong lama menekuni bisnis arang kayu bakau di pulau Rupat, sehingga ia bersama rekan lainnya cukup dikenal, apalagi dikalangan masyarakat dan pemerintah setempat.

Adapun arang bakau yang dikirim keluar negeri lumayan banyak melalui kapal yang dilansir dengan container sehingga pengusaha arang bakau ini telah mendapatkan keuntungan yang cukup besar.

Informasi yang didapat tim awak media ini dilapangan, bahwa untuk memperlancar jalannya usaha ilegal, diduga Akup tidak segan-segan memberikan pelicin terhadap oknum terkait tertentu, demi menutupi kegiatan yang diduga ilegal tersebut.

Pemerintah daerah setempat, seharusnya menutup usaha pengrusak tatanan lingkungan hidup itu, dimana pelaku pelanggarannya oknum pengusaha arang yang keberadaannya di Desa Putri Sembilan Kecamatan Rupat Utara Kabupaten Bengkalis. 

Dalam ketentuan undang-undang Nomor 37 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil menyebutkan, dalam pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, setiap orang secara langsung atau tidak langsung dilarang sebagaimana termaktub dalam huruf (e), menggunakan cara dan metode yang merusak ekosistem mangrove yang tidak sesuai dengan karakteristik wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, dan ditambah lagi dengan ketentuan undang-undang nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. 

Akup yang disebut-sebut pihak pelaku yang cukup lama menekuni bisnis arang kayu bakau secara ilegal tersebut saat dihubungi Harian Berantas, Selasa (23/01) guna konfirmasi berita, tak ada jawaban. Karena contak hendphon milik pribadi saat dihubungi, tak diangkat. (Fag Zeg/Alex/Red)

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas