Headlines News :
Home » » Edi Johan Terduga Penyerobot Lahan Warga 200 Hektar, Perlu Diusut

Edi Johan Terduga Penyerobot Lahan Warga 200 Hektar, Perlu Diusut

Written By Harian Berantas on Friday, August 11, 2017 | 11:28:00 AM

HARIANBERANTAS, SIAK--- Sudah sekian lama masalah pal batas wilayah antara dua kampung di Kecamatan Sungai Apit, "Kampung Tanjung Kuras dengan Kampung Kayu Ara Permai" hingga kini belum tuntas. Masyarakat menilai kinerja Pemerintah Kabuten Siak yang membidangi Pemerintahan Desa untuk menyelesaikan masalah pal batas antara wilayah Kampung, sangat lamban seakan mandul menerapkan aturan yang telah ditetapkan.

Akibat pal batas wilayah antara dua Kampung ini, diduga "Eddy Johan" mengambil kesempatan untuk meraup keuntungan, dengan mengusai lahan seluas 200 hektar tanpa izin. Kalau memperhatikan dan mengacu pada Permentan No.98/Permentan/OT.140/2013 dan Instruksi Presiden No.8 Tahun 2015, jelas ada pelanggaran untuk menguasai lahan seluas 200 hektar yang sedang dikelola saat ini oleh "Eddy Johan", karena telah melebihi 25 hektar bagi perorangan.

Tetapi sangat disayangkan aturan tersebut tidak berlaku bagi "Eddy Johan" karena diduga kebal hukum, kenapa tidak sampai saat ini Pemerintah Kabupaten belum ada terlihat oleh masyarakat setempat sesuatu tindakan kepada "Eddy Johan" baik dari Pemerintah maupun dari aparat penegak hukum.

Berdasarkan pantauan tim wartawan dan LSM bersama masyarakat Kampung Kayu Ara Permai saat mengunjungi lokasi lahan masyarakat yang dianggap masih dalam persengketaan antara dua wilayah Kampung tersebut,Senin 7/8/2017, ternyata suda ditanami tanaman sawit oleh seorang pengusaha bernama Eddy Johan.

Menurut  salah seorang masyarakat Kayu Ara Permai berinisial Fa (Fatdlun) membenarkan bahwa lahan yang telah dirinya garap sejak tahun 2002 tersebut dan telah memiliki SKT dari Pemerintah Kampung Kayu Ara Permai pada tahun 2007 silam, namun telah diserobot oleh pengusaha yang bernama Eddy Johan. Sedangkan lahan tersebut merupakan sengketa batas wilayah antara dua Kampung yang sampai saat belum tuntas pal batas wlilahnya" imbuhnya.

Hal yang sama juga diungkapkan salah seorang warga yang enggan menyebutkan identitasnya, juga membenarkan bahwa lahan yang dikuasainya juga telah diserobot seorang pengusaha bernama Eddy Johan, akibat masalah pal batas wilayah yang belum ada titik terang penyelesaiannya. Kami bingung darimana Eddy Johan mendapatkan lahan tersebut. Sementara Penghulu kami (Penghulu Kayu Ara Permai-red) tidak ada kami dapat informasi kalau diwilayah kami ada pengusaha yang menguasai lahan hingga 200 hektar, tuturnya.

Ketika Tim Wartawan dan LSM bersama masyarakat tiba dibarak pekerja Eddy Johan, ternyata tidak berada ditempat, hanya kepercayaan lapangannyabernama Suryadi.

ketika ditanya terkait lahan, Suryadi mengatakan jika dirinya hanya pekerja yang dipercayakan Eddy Johan untuk mengelola lahannya seluas 200 hektar untuk ditanami sawit, kalau persoalan lahan yang kami kerjakan saat ini, baik sengketa sama masyarakat maupun persoalah wilayah, kami tidak tau menau karena lahan yang kami kelola adalah pak Eddy Johan beli dengan mengeluarkan modal, kalau masyarakat merasa dirugikan, cari penjualnya dan tempuh jalur hukum, bahkan masalah lahan yang kami kelola saat ini mantan Penghulu Tanjung Kuras sudah pernah dipenjara. Karena lahan ini Pak Eddy Johan dapat lahan dari Kampung Tanjung Kuras" tuturnya.

Saat ditanya apa saja badan hukum yang dikantongin Eddy Johan bisanya menguasai lahan seluas 200 hektar, Suryadi mengatakan bahwa "ya setau saya sampai saat ini belum ada baik bentuk Koperasi, Yayasan apa lagi yang namanya CV atau PT belum ada. Karena lahan tersebut adalah punya perorangan pak Edyy Johan" ungkap Surydi.

Aktivis Tim LSM dari Siak yang ikut turun bersama masyarakat kelokasi lahan yang bersengketa pal batas wilayah di Kampung Kayu Ara Permai saat dimintai tanggapannya, Azis Santorian, BB dan A.Waruwu, "masalah pal batas wilayah antara dua Kampung, persoalan yang tidak bisa dianggap sepele oleh Pemerintah Kabupaten Siak harus segera diselesaikan, apalagi masalah tanah rawan konflik antar masyarakat. Juga bagi pengusaha Eddy Johan, kalau ada pelanggaran karena belum mengantongi badan hukum yang menjadi acuan aturan untuk menguasai lahan seluas 200 hektar, harusnya ada tindakan baik dari Pemerintah maupun dari penegak hukum, karena Negara kita adalah Negara hukum" tegas Azis. (Azw)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas