Headlines News :
Home » » Dewan Pers di Demo Kuli Tintah, Masuk Sejarah Dunia

Dewan Pers di Demo Kuli Tintah, Masuk Sejarah Dunia

Written By Harian Berantas on Sunday, April 16, 2017 | 1:20:00 AM

HARIANBERANTAS, JAKARTA– Ratuasan kuli tintah berbagai daerah di Indonesia yang tergabung dalam Forum Pers Independent Indonesia berkumpul dan mengepung Gedung Dewan Pers yang terletak di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis, 13/4/2017 lalu. Aksi yang dilakukan ratusan wartawan dan media dari berbagai daerah ini, untuk menggugat kebijakan Dewan Pers yang dianggap tidak memihak kepada wartawan dan media kecil yang mengawasi kinerja pemerintahan secara Independent atau hanya pro dengan penguasa dan aktor politik.

Sebanyak dua kali Aksi damai dilakukan ratusan wartawan dan media di seluruh Indonesia yang tergabung dalam Forum Pers Independent Inonesia (FPII), tidak pernah di tanggapi. Dewan Pers diam seribu bahasa.

Sehingga atas ketidak ditanggapinya inspirasi insan pers tersebut, akhirnya massa mengepung Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Republik Indonesia, Jl. Medan Merdeka Barat No. 9, Jakarta Pusat, dan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR ) Republik Indonesia Jl. Jenderal Gatot Subroto - Senayan – Jakarta. Lagi-lagi kedua lembaga pemerintah tersebut bungkam seribu bahasa, sepertinya telah sepakat dengan Oknum Dewan Pers. Mereka minta kedua lembaga ini bersikap adil dan bijak.

“Dewan Pers tidak adil, dan tidak berpihak terhadap para kulitintah dan media massa” kata Ketua Sekretariat Nasional (Seknas) FPII, Mustofa Hadi Karya dalam orasinya.

Anehnya, Dewan Pers tidak pernah menyelesaikan secara tuntas kasus-kasus yang merugikan wartawan, seperti intimidasi dan berbagai tindakan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh oknum-oknum yang di bongkar bokbroknya di publik, sehingga menggunakan jasa preman baik langsung maupun tidak langsung untuk mengintimidasi wartawan dan media.

Sebagai insan Pers, kami merasakan didiskriminasi oleh Dewan Pers (DP). Seharusnya dewan pers menyadari bahwa adanya dewan pers karena wartawan dan begitu juga sebaliknya.

“Hal itu yang tidak dipahami oleh Dewan Pers,” katanya.

Dengan tegas, FPII menolak upaya-upaya Dewan Pers untuk mengkebiri wartawan dan media massa. FPPI akan gugat Dewan Pers jika tidak membatalkan kebijakan Verifikasi media serta membuat pernyataan resmi soal pembatalan verifikasi media tersebut,” ujarnya.

Selain itu, pada saat massa FPII mengepung gedung dewan pers dan memasang spanduk yang bertuliskan “Menggugat”, sempat menjumpai Stanly oknum ketua Dewan Pers. Namun Stanly bukannya memberikan pernyataan sikap, akan tetapi memberikan ancaman kepada massa. Stanly mengatakan, ‘Jika kalian memasang Spanduk/banner di gedung ini, saya laporkan kalian (FPII,red) ke mabes Polri.

“Ini gedung milik pemerintah. Jika kalian memasang Spanduk/banner di gedung ini saya laporkan kalian” tegasnya.

Stanly menolak, dan langsung pergi dengan cepat, namun massa dari FPII tidak menyerah dengan  semangatnya atas ancaman Stanly, Spanduk/banner gugatan FPII kepada dewan pers di pasang dari atas gedung dan menjadi viral di tengah-tengah masyarakat.

“Dewan Pers sudah kehilangan muka, Spanduk/banner gugatan kami telah terpampang lebar dan di tonton ribuan orang yang melintasi sekitar gedung tersebut” Imbuh Mustofa kepada wartawan.

FPII meminta DPR RI menolak RUU Panja terhadap pemberitaan wartawan, stop diskriminasi dan kriminalisasi wartawan, serta dikembalikan fungsi UU Pers 40/1999. (Soz).
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas