Headlines News :
Home » » BBM Ilegal di Kabupaten Inhu Semakin Meningkat, Aparat Hukum dan Pemda Setempat Harus Bertindak

BBM Ilegal di Kabupaten Inhu Semakin Meningkat, Aparat Hukum dan Pemda Setempat Harus Bertindak

Written By Harian Berantas on Tuesday, March 28, 2017 | 11:28:00 PM

HARIANBERANTAS, INHU- Bahan Bakar Minyak (BBM) bensin, solar dan minyak tanah diduga hasil sulingan masyarakat setempat dari Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) banyak beredar di tingkat pengecer Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) dan Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau.

Selain diduga ilegal, minyak sulingan dapat mengancam ‘kesehatan’ kendaraan, karena kualitas minyak sulingan tidak sama dengan kualitas minyak Pertamina di SPBU. Bahkan, konon kabarnya peredaran bahan bakar minyak (BBM) sulingan dari warga Sekayu Provinsi Sumsel itu sudah ‘terpelihara’ sejak tiga tahun silam dan kembali dioplos dengan BBM milik Pertamina.

"Minyak sulingan dicampur dengan minyak dari SPBU agar minyak sulingan menyerupai minyak Pertamina,” ungkap salah seorang pangkalan minyak sulingan, Suyitno di Desa Selensen Kecamatan Keritang, Inhil.

Observasi wartawan  di lokasi penampungan minyak bensin dan solar hasil olahan masyarakat Sumsel di Desa Keritang dan Selensen Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Senin (27/3/2017), Suyitno mengaku hanya sekedar penampung minyak bensin dan menjualnya kembali kepada pedagang eceran di sejumlah tempat.

Menurutnya, ada belasan penampung minyak bensin, solar sulingan dan oplosan dari Sumsel. Sebab peredaran BBM sulingan jauh lebih cepat dan dijual murah kepada tingkat pengecer.

Penampung lainnya, Boru Sinaga di Desa Selensen tepatnya di kawasan perbatasan Riau-Jambi itu mengatakan, setiap tiga hari dia memesan minyak bensin sulingan mencapai 5 ribu liter dan per hari dan kembali dipasarkan kepada masyarakat.

Sedangkan salah seorang penampung minyak sulingan lainnya dan enggan menyebut nama mengakui sasaran pasar BBM ada di Kabupaten Inhu, Inhil, Pelalawan dan Kuansing.

Terpisah, dua penjual minyak eceran pakai jerigen di Belilas Kecamatan Siberida  mengaku membeli premium sulingan dari pemilik penampung BBM sulingan di Selensen Rp4.500 per liter dan kembali dijual kepada pedagang eceran (ketengan)  Rp7000 ribu per liter dan oleh pengecer kembali jual Rp 8.500 per liter.

Kepala Humas Pertamina EP Lirik, Ahmad Jabbar MH, Selasa (28/3/2017) menjelaskan asal minyak sulingan Sumsel itu merupakan hasil olahan masyarakat setelah memfungsikan kembali sumur-sumur tua peninggalan zaman penjajahan.

Hasil sulingan manual oleh masyarakat itu bisa menghasilkan minyak bensin, solar hingga minyak tanah. “Hanya saja belum memenuhi standart lazimnya yang diolah Pertamina,” sambung Jabbar.

Pertamina sendiri yang sudah berulang kali melakukan pelarangan edar terhadap minyak, namun hingga kini masih saja bisa beredar.

Terkait pemakaian BBM sulingan, Kardi (32) pemilik bengkel sepeda motor di kawasan pasar Belilas mengatakan telah berdampak tingginya kerusakan kendaraan karena menggunakan minyak sulingan. (Lamhot)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas