Headlines News :
Home » » Alat Berat Beroperasi Demi Memperkayakan Diri, “PR” Kapolda Riau Belum Maksimal Berantas Kasus Perambah Hutan Cagar Biosfer Giam Siak

Alat Berat Beroperasi Demi Memperkayakan Diri, “PR” Kapolda Riau Belum Maksimal Berantas Kasus Perambah Hutan Cagar Biosfer Giam Siak

Written By Harian Berantas on Tuesday, March 28, 2017 | 11:33:00 PM

HARIANBERANTAS, SIAK- Belum hilang dalam ingatan permasalah kawasan hutan Giam Siak Kecil Bukit Batu yang masuk wilayah Kabupaten Siak, yang saat ini masih dalam tahap penyelidikan Komnas HAM Republik Indonesia. Karena keberadaan sebagian masyarakat dikawasan tersebut, sudah sejak tahun 2008 silam.

Akan tetapi, elemen masyarakat yang tergabung koalisi, cukup geram. Karena masih ada oknum masyarakat yang diduga kerabat salah satu oknum pejabat di daerah setempat, memiliki lahan perkebunan sawit di kawasan hutan peninggalan jantung dunia itu puluhan hektar, serta tidak memiliki rasa takut untuk mempekerjakan alat berat jenis exsavator, karena diduga dibekingi oknum aparat dan oknum pejabat tinggi yang ada di wilayah daerah Kabupaten Siak Provinsi Riau.
Tanda terima laporan LSM KPK dari Mabes Polri, 24 Mei 2016 VS ALat berat/excavator sedang beroperasi dikawasan GSKB Siak (28/03/2017)
Informasi yang didapat Harian Berantas ini sebelumnya dari salah seorang sumber yang layak di percaya, Selasa (28/03/2017) siang menyebutkan, bahwa ada alat berat exsavator yang sedang beroperasi dilahan perkebunan sawit milik salah seorang oknum masyarakat berinisial LBS dikawasan hutan cagar biosfer Giam Siak Keci.

Berdasarkan informasi yang dihimpun tersebut, tim awak media Harian Berantas ini langsung turun gunung melakukan investigasi lapangan demi membuktikan kebenaran informasi, serta kepastian keberadaan alat berat jenis exsavator yang sedang beroperasi di areal kawasan hutan cagar biosfer Siak Kecil-Bukit Batu itu.

Alhasil, ditemukan adanya alat berat sedang melakukan pekerjaan steking dalam perkebunan sawit yang diduga milik salah satu oknum masyarakat sebagaimana informasi yang dihimpun Harian Berantas sebelumnya.

Salah seorang pelaku pekerja alat berat dilokasi berinisial RR, yang berhasil diwawancara awak media ini mengaku, jika dirinya hanya sebagai pekerja dan penjaga perkebunan sawit milik salah satu oknum masyarakat berinisial LBS yang merupakan kerabat salah seorang pejabat daerah yang ada di Pemdakab Siak.

"Saya hanya pekerja lapangan dan penjaga kebun sawit ini saja pak. Yang punya ladang adalah bos saya dari Kecamatan Kandis yaitu LBS, nama lengkapnya saya tidak tahu, karena kami sangat jarang sekali ketemu.  Bos saya yang punya kebun saya ini, dia punya saudara dekat di Polres Siak dan di Polda Riau, dan juga dekat dengan Bupati dan mantan kepala dinas kehutanan Siak dulu, ujar RR menuturkan.

Menyikapi hal ini, Azis Santorian selaku  ketua LSM Peduli Lingkungan dan Pembangunan Riau (LSM PLPR) daerah Kabupaten Siak Provinsi Riau, kepada Harian Berantas terkait alat berat exsavator yang sedang melakukan pekerjaan steking dikebun sawit milik salah satu oknum masyarakat yang memiliki luas mencapai puluhan hektar itu, cukup kesal dan menyayang adanya tindakan salah seorang warga yang masih sewenang-wenang melakukan perambahan hutan jantung dunia itu.

“Kita sangat kesal dan menyayangkan tindakan oknum masyarakat yang sampai menggunakan alat berat untuk merambah hutan biosfer secara illegal ini. Dan lagi, titik kordinat atau batas kawasan hutan yang harus diusahakan masyarakat itu belum jelas sampai sekarang. Karena kita  dari pihak LSM yang tergabung secara koalisi, belum mendapatkan informasi yang pasti dari pemerintah pusat dan dearah. Kita dalam hal ini meminta ada tindakan tegas dari Gakkkum MenLHK dan Komnas HAM, karena masih saja ada oknum masyarakat yang sengaja memperkaya diri didalam kawasan GSKB itu" tegasnya.

Lebih jauh ketua LSM Peduli Lingkungan dan Pembangunan Riau (LSM PLPR) daerah Kabupaten Siak, Azis Santorian, itu mengatakan, "Kalau kita ingat kedatangan Komisioner Komnas HAM, ibu Siti Nurlela (Kamis 10/11/2016) usai pemusnahan secara simbolis di areal kebun sawit milik Kompol Suparno,SH, yang turut hadir Dirjen GAKUM MenLHK "Rasio Ridho Sani" dan dari BKSDA wilayah Riau, dalam kofresi Pers Komisioner Komnas Ham secara tegas menyebutkan kalau keberadaan masyarakat di dalam kawasan hutan Biosber GSK-B tersebut, ada dua bagian kelompok, yaitu masyarakat yang bertahan hidup dengan memperjuangkan kehidupannya, dan masyarakat yang memperkaya diri.

Kalau masyarakat yang benar-benar memperjuangkan hidupnya, itulah yang sudah bermukim saat ini, maka dilakukan pembinaan oleh Pememerintah, baik dengan cara kemitraan untuk pemberdayaan atau dengan pola lainnya.

Sedangkan masyarakat yang memperkaya diri, maka dilakukan penegakkan hukum. justru apa yang dilakukan saat ini oleh oknum masyarakat dengan dapat menyewa dan mempekerjakan alat berat dikebun yang dikuasai hingga sekarang ini, dan patut diduga telah memperkaya diri karena tidak mengindahkan himbauan dari Komnas Ham dan KemenLHK.

“Pengusutan kasus aktivitas illegal loging dan perambahan kawasan hutan cagar biosfer giam Siak Kecil-Bukit Batu seperti ini, membuktikan bahwa pekerjaan rumah atau PR Kapolda Riau, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara, belum selesai. Dan komitmen bersangkutan sesuai pernyataannya (Kapolda Riau) di beberapa media selama ini dalam memberantas mafia perambah hutan cagar biosfer giam Siak Kecil-Bukit Batu, perlu dipertanyakan. Karena yang dilakukan pengusutannya oleh Polisi selama ini, hanya sebatas kalangan bawah atau masyarakat biasa. Sementara, pemain klas tingginya atau cukong besarnya tak disentuh oleh hukum." tegas Azis. (Alw)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas