Headlines News :
Home » , » Hukum Dipelintir, Mantan Ketua KPK Antasari Dianggap Musuh Negara

Hukum Dipelintir, Mantan Ketua KPK Antasari Dianggap Musuh Negara

Written By Harian Berantas on Friday, August 26, 2016 | 12:28:00 AM

HARIANBERANTAS, NASIONAL- Antasi Azhar pernah menjadi cerita yang menghebohkan seisi negara pada 2009. Ia yang saat itu menjabat Ketua KPK tersandung kasus hukum. Diawali kabar skandal perselingkuhan, Antasari pun dipenjara karena dakwaan pembunuhan.

Antasari Azhar
Antasari didakwa melakukan pembunuhan berencana terhadap Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasruddin Zulkarnaen dan diancam dengan Pasal 340 jo Pasal 55 ayat kesatu dan kedua KUHP, Kamis 8 Oktober 2009. 

Jaksa penuntut umum Cyrus Sinaga menuntut agar hakim menjatuhkan hukuman mati untuk Antasari. Pada 11 Februari 2010, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang dipimpin Herry Swantoro memvonis Antasari selama 18 tahun penjara. Di pengadilan tertinggi, hukuman Antasari tidak berubah.

Motif pembunuhan disebut cinta segitiga antara Antasari, Nasruddin, dan Rani Juliani, caddy di Padang Golf Modern Land, Tangerang, yang juga istri ketiga Nasruddin. Namun, di persidangan motif cinta segitiga tidak bisa dibuktikan.

Kasus ini menyeret Williardi Wizard, perwira menengah Polri, dan Sigid Haryo Wibisono, politikus, ke penjara. Williardi divonis sebagai pemberi perintah eksekusi. Sedangkan Sigid disebut sebagai pemberi dana.

Antasari berulang kali mengajukan upaya hukum. Ia menggugat bukti pakaian yang hilang dan jenis peluru yang tidak sesuai dengan pistol yang dijadikan bukti di pengadilan. Namun, upaya hukum Antasari tidak membuahkan hasil.

November nanti, ia bebas bersyarat. Sambil menunggu bebas, mantan jaksa itu menjalani masa asimilasi dengan bekerja di kantor notaris Handoko Halim.

Najwa Shihab mewancarai Antasari Azhar dalam program Mata Najwa di Metro TV yang tayang pada Rabu malam 24 Agustus. Pria kelahiran Pangkal Pinang, Bangka Belitung, pada 1953, itu bercerita bagaimana dirinya bertahan dan menyiapkan masa depan.

Najwa: Status Anda sekarang masih narapidana?

Masih narapidana, warga binaan LP Klas I Tangerang.

Jadi, setelah asimilasi Anda masih menginap di sel?

Iya, saya berangkat dari LP pukul 08.00 menuju kantor. Sebelum sampai kantor, saya sarapan dulu di warung samping kantor. Kembali lagi ke LP pukul 17.00 WIB, menginap lagi, pagi keluar lagi.

Sudah berapa lama proses asimilasi ini?

Kurang lebih 10 bulan. Saya bekerja di kantor notaris.

Anda dibayar?
 
Saya dibayar Rp3 juta per bulan. Tetapi, selama 10 bulan ini seluruh gaji saya, saya serahkan kepada negara.

Apakah ketentuannya seperti itu, gaji warga binaan tidak untuk diri sendiri?

Ketentuan memang seperti itu. Saya bangga seorang warga binaan bisa menyumbang kepada negara Rp3 juta per bulan.

Anda bekerja di kantor notaris Handoko Halim, itu (Handoko Halim) teman Anda?

Iya, dulunya Pak Handoko teman kuliah saya, teman pelatih tenis saya juga waktu masih kuliah. Ketika saya masuk ke LP Tangerang, pindah dari Polda, beliau besuk saya. Dia menyampaikan bahwa warga binaan ada masa asimilasi. Saya butuh situ (Antasari) untuk bantu saya.

Handoko Halim juga hadir di acara Mata Najwa
 
Pak Handoko, Anda diminta atau Anda menawarkan agar Pak Antasari bekerja di kantor Anda?
 
Sebetulnya, memang Pak Antasari yang minta, tetapi saya juga menawarkan. Karena saya berprinsip, siapa lagi yang bisa menolong beliau. Teman sejati adalah yang menolong teman dalam kesusahan.

Apa pekerjaan Pak Antasari?
 
Macam-macam. Tetapi lebih banyak konsultasi, karena bidang saya perdata, bidang beliau tata negara dan pidana. Saya banyak minta saran dan pendapat supaya tidak terjadi kasus.

Najwa kembali bertanya ke Antasari
 
Selama 7,5 tahun jadi warga binaan, apa yang Anda rasakan paling berat?

Kalau saya katakan tidak berat, saya munafik. Dikatakan berat tidak ada hal yang saya lakukan berat. Yang paling berat adalah... (Antasari terdiam). Yang paling berat adalah ketika saya selesai makan malam menjelang salat malam, selalu saya terbayang... (Antasari terdiam), terbayang wajah keluarga.

Kenapa saya katakan berat, karena waktu saya bertugas, sejak saya di Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman, di Kejaksaan, dan terkahir di KPK, saya menomorduakan keluarga, negara saya utamakan.

Ketika saya terpuruk, negara tidak terlihat oleh saya, justru keluarga yang ada di depan saya.

Jadi, yang terbayang saat malam selalu wajah keluarga...

Saya merasa bersalah selama ini. Saya tahu bagaimana perasaan mereka terganggu dan ditimpa dengan persoalan ini, apalagi ada satu perempuan itu (Rani Juliani).

Saya tegaskan tidak ada cinta segitiga. Omong kosong itu semua. Saya bisa dihadapkan dengan yang bersangkutan sekarang di sini. Omong kosong. Tidak ada cinta segitiga.

Dan saya tidak membunuh, apalagi sebagai otak. Saya yakin sebagai Muslim, sejak di Polda pada 2009 sampai hari ini, kalau saya salat malam ada tiga permintaan saya kepada Allah. Satu, ya Allah tolong beri kesehatan kepadaku, keluargaku, istri, anak, dan cucuku. Itu yang utama.

Kedua, ya Allah tolong tunjukkan kepada ku dengan tanda-tanda siapa sebetulnya yang menzalimi saya. Ketiga, sekalipun aku di penjara, tinggikan derajatku sebagai manusia. Hanya itu yang saya minta.

Walau pun proses pengadilan dan upaya hukum yang Anda lakukan belum membuahkan hasil. Status masih narapidana dengan tuduhan otak pembunuhan. Saya mengulangi itu karena memang itu tuduhannya...

Opini yang dibangun begitu. Tetapi sampai hari ini, putusan yang saya terima tidak seperti itu. Ini yang mungkin publik tidak memahami.

18 tahun penjara untuk apa?

Turut serta membunuh. Masalahnya saya turut serta siapa? Harus ada yang saya ikuti dong, siapa itu?
Terdakwa lain?

Saya tidak memerhatikan mereka. Putusan yang saya terima sejak saya di PN, banding, kasasi, sampai PK turut serta, bukan otak pembunuhan.

Kalau bukan Anda yang melakukan, fakta yang terjadi Nasruddin terbunuh. Apakah Anda tahu siapa yang berkepentingan membuat Anda menjadi tertuduh? 
Sangat tahu. Saya sangat tahu. Tetapi, saya dulu Kapuspen (Kepala Pusat Penerangan) di Kejaksaan Agung, saat wartawan tanya, saya akan jawab, banyak hal yang saya tahu tetapi tidak semua hal yang saya tahu bisa saya ungkapkan.

Dalam perjalanan kasus kematian Nasruddin Zulkarnaen pada 2009, ada cerita unik ketika keluarga korban bersaksi dan berpihak kepada Antasari. Tim Mata Najwa menghadirkan Andi Syamsuddin Iskandar, adik Nasruddin untuk bercerita.

Di sidang gugatan praperadilan dan MK, Anda (Andi Syamsuddin) bersaksi yakin Antasari bukan pembunuh kakak Anda. Apa alasannya?

Kalau dari pertama kasus mencuat, saya mendengar peristiwa itu pada 14 Maret 2009, dari awal saya tidak yakin Pak Antasari pembunuhnya. Saya ingat ada statemen yang diplintir saat itu. Saat itu saya berkata, ada orang besar, pejabat besar, yang menjadi dalang pembunuhan saudara saya.

Yang Anda maksud orang besar itu siapa?

Yang jelas orang besar.

Lebih besar dari Pak Antasari Azhar yang ketika itu Ketua KPK?
 
Boleh jadi iya.

Apa yang Anda ketahui tentang orang besar ini?
 
Yang jelas orang besar itu punya kekuasaan, mampu menggerakkan apa saja, itu lah orang besar. Kalau Pak Antasari, Ketua KPK, tidak punya kemampuan apa-apa.

Dari mana Anda dapat keyakinan itu? Hanya spekulasi?

Oh tidak spekulasi. Ketika saya mendegar saudara saya terbunuh, saya tidak kaget.

Tidak kaget? Apakah kakak Anda sudah diincar? 
Itu yang disampaikan almarhum (Nasruddin) kepada saya.

Apa yang ia ketahui atau ia lakukan sehingga diincar orang besar?
 
Yang jelas banyak yang ia ketahui hal-hal yang menyangkut di perusahaan, saya tidak bisa utarakan di sini.

Apakah Pak Antasari bukan pembunuh kakak Anda hanya keyakinan Anda sendiri atau seluruh keluarga?

Seluruh keluarga.

Kalau bukan Pak Antasari (yang membunuh), lalu siapa?

Ada orang, tidak mungkin jin pembunuhnya. Statemen saya sudah jelas, orang besar. Saya katakan satu kunci saja kepada Mbak Najwa, karena saya lihat terlalu penasaran.

Saya rasa yang penasaran bukan hanya saya...
 
Seluruh masyarakat Indonesia ya...

Ketika mendengar saudara saya tertembak, tetapi belum dikatakan meninggal saya terbang ke Jakarta. Di Rumah Sakit Tangerang saya melihat situasinya lain dari yang lain, pengamanan begitu ketat. Setelah itu, (jenazah Nasruddin) dibawa ke Rumah Sakit Gatot Soebroto. Jam 3 subuh saya agak ganjil, tiga kompol (komisaris polisi) mengaku dari Polda Metro Jaya datang menanyakan,

Saudara almarhum siapa? Saya, ada apa?

Saudara sudah tahu motif pembunuhan saudara Anda? Tidak, saya tidak tahu.

Kenapa persoalannya? Apakah persoalan di tempat kerja almarhum atau ada yang lain? Motifnya pada saat itu sudah muncul cinta segitiga. Wah hebat banget ini.

Bahkan saat masih di rumah sakit ada yang mendekati Anda?

Tiga kompol, saya tahu persis orangnya, tidak perlu saya sebut. Kasihan, nanti turut pangkat kalau saya sebut.

Masih aktif sampai saat ini?
 
Masih. Bahkan promosinya bagus.

Ia sudah menyebut motifnya apa...

Iya cinta segitiga. Nama Rani sudah muncul. Disebut ini persoalan cinta segitiga antara almarhum Nasruddin, Rani, dan Pak Antasari.

Anda percaya waktu itu?

Sama sekali tidak percaya. Dan Rani saya tidak tahu siapa siluman itu. Bentuknya siluman atau jin saya tidak tahu siapa itu Rani.

Walau pun kemudian muncul di pengadilan memberikan kesaksian, bahkan ada rekaman percakapan Rani dengan Pak Antasari...

Saya tidak yakin bahwa itu percakapan Rani dengan Pak Antasari. Dari awal saya tidak yakin bahwa beliau (Antasari membunuh Nasruddin).

Kenapa orang menginginkan kematian kakak Anda?
 
Pak Antasari yang bisa jawab mungkin.

Antasari menanggapi

Orang tidak menginginkan kematian kakaknya. Itu sasaran antara, supaya saya bisa dimasukkan ke kasus ini.

Jadi korban sia-sia saja. Korban sesungguhnya Antasari?
 
Di awal persidangan saya sudah sampaikan dalam pembelaan saya, kalau sekadar ingin melengserkan saya sebagai Ketua KPK saat itu, kenapa nyawa orang dikorbankan. Pertanyaan saya seperti itu.

Hubungan Anda dengan Nasruddin seperti apa Pak Antasari?
 
Baik. Begini, almarhum dulu pernah datang ke saya mengatakan, 'Pak hanya bapak yang bisa menolong saya'. Memang kenapa berpikir begitu? 'Karena orang sekarang segan dengan KPK'. Ada apa? Dia keluarkan ilustrasi berupa tanda tangan Menteri BUMN pada waktu itu Sugiarto yang menunjuk dia sebagai Direktur RNI.

'Ini Pak, saya sudah ada legalitasnya, tapi saya belum dilantik. Tolong Pak urus ini'. Saya bilang 'saya bukan mengurus yang begini. Urusan saya pemberantasan korupsi. Kalau ada informasi korupsi boleh lapor saya'. 'Oh banyak pak di kantor saya'. Dibawalah informasi itu ke saya, kami usut, bersama wakil saya waktu itu Chandra Hamzah. 'Bagaimana Chan, akurat enggak bukti ini. Akurat Pak bisa kita lanjutkan'.

Hanya, pada waktu itu almarhum kecewa hanya sampai direktur keuangan yang jadi tersangka. Dia mau direktur utamanya.

Jadi hubungan Anda dengan Nasruddin hanya sebatas orang yang mengadukan perkara korupsi?
 
Iya, banyak sekali dia lapor ke saya.

Tidak ada hubungan pribadi?
 
Tidak ada.

Najwa kembali bertanya kepada Andi Syamsuddin
 
Pak Antasari Azhar disebut mengirim SMS (pesan singkat) ancaman kepada Nasruddin...

Sama sekali tidak ada. Itu disebut sebagai motif. Itu setingan cukup piawai. Tetapi setingan apapun suatu saat akan terbongkar.

Sekarang sudah 7,5 tahun...
 
Saya punya rekaman pembicaraan dengan orang-orang yang beradaptasi dengan saya tentang bagaimana rencana-rencana dengan Pak Antasari ini. Suatu saat akan saya bongkar.

Rekaman apa?
 
Pembicaraan dengan orang-orang

Antara siapa dengan siapa?
 
Boleh diputar?

Boleh
 
Jangan lah mbak.

Jangan-jangan memang tidak ada (rekaman). Apa yang Anda punya?
 
Dari awal di pengadilan saya katakan saya punya rekaman berisi percakapan saya dengan orang-orang saya tidak bisa sebutkan, yang mengajak berkolaborasi sehingga Antasari masuk, terjerembab, tidak ada lagi ampunan.

Polisi?

Mbak yang menyebut polisi.

Saya bertanya...

Saya katakan orang. Orang itu ada macam-macam. Ada polisi, jaksa, siapa pun juga

Di persidangan Andi Syamsuddin menyebut perwira polisi di Polda Metro Jaya yang memintanya agar membantu dalam kesaksian. Najwa Shihab mengonfirmasi itu ke Andi.

Benar mbak.

Jadi iya perwira polisi?
 
Iya perwira. Soal orangnya dan pangkatnya apa saya tidak perlu sebut.

Persisnya Anda diajak kongkalikong dengan cara apa?

Tidak diajak kongkalikong. Sejak awal saya katakan, saya tidak yakin Pak Antasari dalang. Sehingga saya harus masuk pada sebuah permainan itu.

Dan di situ Anda diajak dan merekam?

Diajak dan ikut melihat apa mau mereka, karena target mereka Antasari musuh negara Antasari harus masuk.

Antasari menggelengkan kepala ketika mendengar dirinya disebut sebagai musuh Negara

Dulu penyelenggara negara, kenapa dianggap musuh?
 
Enggak tahu. Mungkin dulu Pak Antasari banyak memenjarakan orang.

Jadi rekaman itu ada?
 
Ada.

Kapan akan Anda buka?
Suatu saat kalau mbak minta, tentu ada waktunya. Pak Antasari tentu harus berani dong.

Memang Pak Antasari masih takut sekarang?
 
Andi Syamsuddin: Engga berani Pak Antasari sekarang.

Apa yang Anda takutkan Pak Antasari?
 
Saya tidak takut. Saya hanya takut kepada Allah. Saya tidak takut sebetulnya. Suatu ketika nanti Pak Andi buka itu semua, dan doa saya ya Allah tunjukkan dengan tanda-tanda itu terungkap, sedikit demi sedikit juga terungkap.

Saya juga banyak dapat informasi apa yang terjadi. Bagaimana skenario itu disiapkan, di mana, saya sudah tahu.

Eksekutor yang sekarang di dalam tahanan yang dihukum 17 tahun itu hanya menodongkan pistol, tidak menembak. Yang menembak yang di belakang. Itu semua diatur. Saya tahu semua. Tetapi saya pikir, tidak saya, Allah yang akan membuka semua.

Dalam persidangan 10 November 2010, Williardi Wizard bersumpah dan mengatakan bahwa sasaran hanya Antasari. Williardi mencabut semua keterangannya di BAP dan mengatakan semua rekayasa.

Ekspresi Anda ketika itu Pak Antasari yakin kesaksian Williardi akan menguntungkan Anda, ternyata tidak...

Pertama itu (yang membuat Antasari optimistis), kemudian penembakan bahwa hasil Labfor dan keterangan saksi mengatakan peluru itu jenis kaliber 9 mili.

Sedangkan barang bukti yang digunakan Revolver 38. Ahli kami panggil ke persidangan mengatakan mana mungkin kaliber 9 mili bisa masuk ke pistol itu. Kami tanya yang tegas, ini senjata apa?

Dia sebut ini senjata FN. Ini fakta persidangan.

Keterangan Munim Idris, dokter Forensik yang memeriksa jenazah Nasruddin, di pengadilan pada 22 September 2001, juga mengejutkan. Ia menyebut ada yang meminta dirinya mengubah berita acara.
 
Munim menolak dan mengatakan bahwa selama masih berkaitan dengan tubuh Nasruddin merupakan kewenangannya sebagai dokter forensik. Munim melanjutkan, petugas yang memintanya mengubah berita acara menelepon Wadir Serse.
 
Di Mata Najwa juga hadir kuasa hukum Antasari Azhar Maqdir Ismail. Ia menjelaskan konteks kesaksian Munim Idris di pengadilan.

Maqdir menyampaikan, keterangan Munim di berita acara yang diminta diubah antara lain mengenai anak peluru. Anak peluru hasil penelitian Munim ukuran 9 mili. Sedangkan barang bukti yang digunakan tidak 9 mili, bahkan dua anak peluru yang ditemukan di tubuh korban, sesuai laporan Puslabfor, ketika peninjauan kembali kami minta ahli memeriksa dikatakan ahli dua anak peluru berasal dari dua senjata karena lebar anak peluru ini berbeda. Menurut ahli yang groupnya berbeda tidak mungkin dari satu senjata meski senjatanya sejenis.

Munim diminta menulis bahwa anak peluru ini sesuai dengan senjata yang dijadikan bukti. Di persidangan, Munim Idris tidak menyebut petugas yang memintanya mengubah keterangan di berita acara.
 
Menurut Antasari, Munim menyebut pangkat orang tersebut Komisaris Besar (Kombes).
 
Anda (Antasari) tahu siapa?
 
Saya tidak tahu. Saya tanya kepada Munim. Sebelum sidang PK (Peninjauan Kembali) dimulai, Munim menemui saya di ruang tunggu sidang. Ada yang menghendaki dia menghapus 9 mili itu. Jadi menghilangkan jejak lah. Kan semuanya untuk menghilangkan jejak. Baju dihilangkan untuk menghilangkan jejak.

Kombes Muhammad Iriawan, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya ketika itu, membantah ada dua tim eksekutor dalam penembakan Nasruddin. Iriawan menuding Antasari membohongi Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD).
 
Menurut Iriawan, Antasari sempat melapor ke Bambang bahwa ada yang meneror dirinya melalui telepon. Iriawan mengatakan, Antasari sebenarnya sudah mengetahui siapa yang meneror tersebut.
 
Apa tanggapan Pak Antasari atas pernyataan Iriawan?
 
Yang bicara tadi siapa?

M. Iriawan
 
Dia anggota mana? Wajar dong kalau melindungi atasannya. Mari kita bicara di sini saja dengan mantan kapolri. Saya membohongi apa?

Tapi benar Anda pernah melapor ke BHD ketika itu?
 
Saya tidak pernah melapor. Saya hanya bercerita. Kami kan sama-sama unsur penegak hukum, kita rutin lakukan koordinasi. Saya ingin mengundang beliau untuk koordinasi KPK, Polri, dan Kejaksaan.

Pada waktu itu beliau tanya, 'Gimana Pak Antasari selama jadi Ketua KPK. Saya baca di koran ramai terus beritanya'.

Saya jawab, 'Biasa lah pak ada suka ada duka'.

'Cerita dong apa sukanya apa dukanya?'

Saya merasa dia teman, saya cerita sukanya begini, dukanya kadang-kadang kita pejabat negara ini banyak cara orang menjatuhkan kita.

Ada yang menjebak segala macam. Saya cerita saya didatangi orang di hotel. Dia jawab, 'tidak bisa dong begitu, pejabat negara harus dilindungi'. Tolong lah pak lindungi saya.

Anda tidak menyebut nama Nasruddin?
 
Tidak ada sama sekali. Bukan melindungi malah saya dimasukkan ke penjara. Itu yang terjadi, fakta.

Apakah itu artinya, ini diatur oleh pimpinan tertinggi Polri ketika itu Bambang Hendarso Danuri?
 
(Antasari sempat diam) Saya tidak katakan seperti itu. Yang katakan itu kan Mbak Najwa.

Siapa yang meneror Anda?
 
Seorang wanita.

Rani?

Iya.

Rani meneror Anda...
 
Yang ketemu di hotel itu. Saya tidak membantah memang ada ketemu. Kenapa ketemu di situ. Saya waktu itu Ketua KPK, saya tidak bisa berada di tempat-tempat yang akan menjadi konsumsi publik.

Pada waktu itu, ia (Rani) katakan akan ada pesan dari mantan atasan saya. Waktu ketemu, ia (Rani) bilang tidak ada pesannya. Loh, kenapa begitu? Saya ini sibuk. 'Kalau saya (Rani) enggak bilang begitu abang (Antasari) enggak mau ketemu saya.

Apa bagus seperti itu. Kan menjebak namanya. Seharusnya kan dia (Rani) yang diperiksa polisi karena menggangu pejabat negara.

Rani ketika itu istri ketiga Nasruddin...
 
Saya tidak tahu.

Anda tidak tahu hubungan Rani dengan Nasruddin?
 
Tidak tahu sama sekali.

Kapan Anda tahu bahwa Rani istri ketiganya?
 
Waktu sidang. Di persidangan hakim tanya, saksi apa betul ada cinta segitiga? Dia (Rani) diam. Hakim konfirmasi ke saya, saya bilang tidak ada. Saya minta saksi ceritakan percintaan apa.

Percintaan itu kan pernah datang, pernah jalan. Dia katakan, 'Pak hakim, kalau saya perhatikan Pak Antasari ini kayaknya naksir saya'. Itu kan GR (gede rasa) namanya. Ini fakta persidangan.

Sempat ada rekonstruksi di Hotel Grand Mahakam kamar 808...
 
Saya tidak ikut.

Tidak pernah terjadi apa yang dikatakan Rani di kamar 808?
 
Tidak. Cuma mengobrol begini (berhadapan).

Saya sudah dalam posisi ikhlas, tidak dendam kepada siapapun, dan saya tidak coba menyakiti siapapun. Apa yang saya tahu biar saya simpan untuk saya sendiri.

Kalau ada yang mau membongkar kasus ini, silakan. Kalau saya masih ada dendam di hati, saya sakit, stres. Kalau sudah sakit, paling orang hanya kasihan.

Soal bantahan ada dua eksekutor? 
Dua bulan di tahanan narkoba Polda Metro Jaya, saya kedatangan teman dan memberikan ini (Antasari mengeluarkan kertas putih dengan tulisan hitam). Demi keselamatan yang bersangkutan saya tidak akan sebut namanya.

Ini sudah lecek, sudah saya simpan delapan tahun. (Menurut Antasari, kertas itu berisi kronologi pembunuhan Nasruddin).

(Antasari kemudian membacakan sebagian dari isi surat tersebut)

Dua tiga hari kemudian, P (laki-laki) menelepon T (perempuan) tepat pukul 23.30 dan mulai bercerita tentang kasus Antasari.
 
P mengatakan eksekutor pembunuhan Nasruddin adalah saudaranya. Sehari setelah terjadi pembunuhan tersebut, saudaranya pulang ke Tanjung Priok. Ketika dia menonton televisi, dia agak histeris, karena ternyata misi gagal. Telah terjadi salah sasaran. Dia mengumpat, 'eh ini salah sasaran, bisa tidak dibayar kita'. Sebenarnya target utama adalah seorang pejabat negara. Makanya untuk eksekusi perlu campur tangan polisi.
 
Selama ini eksekutor hanya dibekali foto Antasari dan diberikan informasi target ditemani seorang caddy pada saat bermain golf di Modern Land. Para eksekutor berpikir itu lah target utama mereka.

Saudara dari P sempat mengeluarkan kata-kata umpatan berkali-kali, sopir bodoh, kenapa tidak kasih tahu. Jadi sopir ini diduga.
 
Jadi, target mereka itu saya, tetapi jadi ini (Nasruddin). Jadi ada dua eksekutor.

Salah sasaran atau memang keduanya hendak dibunuh?
 
Dua-duanya. Nanti kan setelah dua-duanya mereka bunuh, muncul berita besar, Antasari dan Nasruddin saling tembak karena cinta segitiga.

Anda tahu orangnya (yang memberikan surat)?
 
Sangat tahu, masyarakat Indonesia tahu dia.

Oh, ini pejabat juga?
 
Bukan pejabat, orang terkenal tidak harus pejabat. Warga binaan juga bisa terkenal.

Apakah Anda masih takut?

Saya tidak takut.

Masih ada yang mengancam Anda?
 
Apakah kalau saya sebut, membuktikan saya berani, kan belum tentu. Konyol ya pasti ada.

Jadi apa yang Anda khawatirkan? 
Saya kan meninggalkan istri, anak, dan cucu di rumah. Bagaimana pun saya ingin cepat pulang. Kalau saya sebut itu, memperlambat saya pulang.

Anda khawatirkan akan membuat Anda makin lama di tahanan?
 
Pasti.

Sel Anda seperti apa Pak Antasari? Sel pejabat itu biasanya bagus-bagus. Saya beberapa kali ke penjara. Kalau sel Anda seperti apa?
 
Ini yang ingin saya sampaikan. Publik di luar jangan memandang LP dengan stigma negatif. Sel saya sama dengan sel yang lain. Bedanya hanya bersih saja. Saya tidak suka kotor.

Anda satu sel sendiri?
 
Sendiri. Pagi saya mengepel, menyapu. Saya tidak mau kotor. Bedanya itu saja.

Adakah yang sama-sama di lapas yang dulu Anda penjarakan?
 
Ada. Ini menarik. Ketika saya Ketua KPK memenjarakan Al Amin. Ketika kira-kira enam bulan saya di sana, dia masuk, sebelahan sel. Kami sering ngobrol. Dia katakan, 'Saya masih teringat pak, malam-malam bapak datangi saya di atas ruang KPK'. Saya tanya kasus apa? Dia masih ingat itu.

Ketika dia bebas, dia datang ke kamar saya. 'Waduh ringan pak pundak saya. Saya tidak stres lagi. Saya setiap lewat kamar bapak stres saya'. Karena asumsi dia, saya masih Ketua KPK.

Tim Mata Najwa juga mengundang Ida Laksmiwati, istri Antasari Azhar
 
Selama bapak di penjara, kehidupan ibu dan anak-anak seperti apa?
 
Pada awalnya memang agak sulit, karena terbiasa setiap pagi kami sebelum bapak berangkat ada saja yang dipertanyakan urusan keluarga. Tiba-tiba saya kehilangan momentum itu jadi saya harus segera mengambil sikap untuk merangkap jadi seorang ayah dan seorang ibu.

Apa yang menjadi kekuatan ibu ketika itu?
 
Saya tidak tahu, mungkin Allah memberikan saya kekuatan. Saya sendiri kalau membayangkan sekarang untuk menengok ke belakang mungkin saya tidak sanggup melihat situasi ketika itu.

Tudingan, omongan orang, kemudian pandangan negatif kepada Pak Antasari dan keluarga ibu...

Alhamdulillah tidak ada. Saya diterima di mana saja seperti saya tidak ada masalah. Jadi di mana pun saya berada mereka selalu support saya, entah saya kenal atau tidak. Mereka tahu saya mungkin dari media, mereka memberikan support kepada saya. Hanya itulah mungkin kekuatan saya.
 
Anak-anak juga seperti ibu?
 
Iya...

Najwa kembali bertanya kepada Antasari
 
Pak Antasari, 7,5 tahun Anda berada di penjara, apa momentum yang paling Anda sesali Anda lewatkan?
 
Ketika saya menikahkan anak pertama saya tidak diizinkan menghadiri resepsi. Itu saja. Karena setiap ada momentum resepsi, saya selalu ingat. Wong saya dulu enggak bisa hadir. Sehingga sampai hari ini, foto dan video resepsi itu tidak pernah kami putar. Karena anak saya bilang enggak ada papa.

Waktu nikah saya hadir, resepsi tidak boleh.

Tetapi resepsi kedua, cuaca berganti, saya boleh (menghadiri resepsi pernikahan anak).

Cuaca maksudnya apa pak?
 
Mancing-mancing lagi.

Bahwa akhirnya diberi izin oleh penguasa yang baru, begitu?

Iya.

Apa rencana Anda setelah bebas bersyarat?
 
Ke depan saya ingin menata hidup dengan keluarga. Ya seperti diberikan kesempatan hidup kedua kali dengan segala keterbatasan. Saya bisa jadi dosen, ya makan honor lah. Selama tangan kaki masih lengkap, saya kira masih bisa kasih keluarga makan. Tidak harus di pemerintahan. (TRK)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas