Headlines News :
Home » , » Alasan Untuk Biaya Operasional & Biaya Penyelesaian Masalah di Kantor Polisi, Pengurus IKNR Diduga Memeras Warga Nias

Alasan Untuk Biaya Operasional & Biaya Penyelesaian Masalah di Kantor Polisi, Pengurus IKNR Diduga Memeras Warga Nias

Written By Harian Berantas on Tuesday, August 23, 2016 | 12:42:00 AM

HARIANBERANTAS, PEKANBARU- Dibentuknya Organisasi Masyarakat Ikatan Keluarga Nias Riau (IKNR), bertujuan membantu masyarakat dalam penyelesaian perbagai  aspek permasalahan  yang dihadapi khususnya suku masyarakat Nias yang ada di Provisi Riau. Namun, kenyataan lapangan, sangat bertentangan dengan aspek peraturan perundang-undangan.

Sefianus Zai (Baju Merah) bersalaman dengan korban usai menerima uang sebesar Rp4Juta Rupiah. (Ft. dikutip dari Facebook Sefianus Zai)
Pasalnya, setiap oknum pengurus Ikatan Keluarga Nias Riau (IKNR) dalam menyelesaikan masalah selalu dimanfaat untuk meraup keuntungan pribadi/ kelompoknya yang lebih besar dengan dalih biaya operasional pengurus dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Nias yang ada di Riau.

Seperti halnya yang dialami oleh salah satu korban berinisial YL (14) Cs, warga Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru-Riau baru-baru ini.

YL cs (korban-red), yang masih duduk dibangku sekolah salah satu SMP di Kota Pekanbaru, dalam keadan tertekan dan sedih menjelaskan peristiwa yang mereka hadapi pada Kamis, (18/08/2016) pekan lalu.

 Oknum pengurus IKNR berinisial AP diduga Amponiman Batee dan R Bate’e diduga Roni Batee bersama inisial SF Zai (Sefianus Zai) meminta YL Cs (korban-red) menyerahkan nominal uang sebesar Rp4 juta dengan dalih untuk keperluan biaya operasional para oknum pengurus organisasi IKNR termasuk biaya untuk masuk dalam Kas IKNR serta biaya cabutan perkara di Polsek Tenayan Raya Kota Pekanbaru.

Hal ini dilakukan oleh oknum-oknum pengurus IKNR tersebut kepada YL cs (korban). Dimana  sebelumnya mereka dituduh melakukan tindakan kriminal terhadap oknum yang mengaku-ngaku sebagai ketua IKNR yakni, Sefianus Zai pada hari Sabtu (13/08/2016) lalu disekitar jalan Hang Tuah. Dan oknum ketua IKNR Sefianus Zai tersebut, tidak segan-segan membuat laporan Polisi di Polsek Tenayan Raya Kota Pekanbaru.

Dan setelah Sefianus Zai membuat laporan Polisi, petugas Kepolisian di Tenayan Raya tersebut langsung melakukan penangkapan terhadap rekan korban berinisial WR, lalu dilakukan penahanan di rutan Polsek Tenayan Raya.

Lalu, para pelaku yang mengatasnama dari pengurus organisasi IKNR, mendatangi YL Cs (korban) meminta untuk di selesaikan secara kekeluargaan dengan syarat, para korban harus menyerahkan uang sebesar Rp4 juta rupiah.

Hal ini dibenarkan salah satu pengurus IKNR berinisial AP Ndruru, yang ikut membantu para oknum-oknum IKNR untuk meminta nominal uang dari korban mereka.

“Ya, benar. Memang kami minta uang itu sebesar Rp4 juta. kami hanya mengikuti perintah Sefianus Zai” kata AP.

AP menambahkan, sebelum para oknum IKNR meminta uang Rp4 juta, pihaknya telah koordinasi dengan Roni Batee. Dan Roni Batee mengatakan “Yl”, harus menyerahkan uang Rp4 juta sebagai operasional pengurus IKNR” akui Ap Ndruru kepada Wartawan di rumahnya.

Menyikapi sikap para oknum pengurus ormas IKNR yang kerap melakukan pemerasan terhadap salah satu warga masyarakat Nias tersebut, dikecam oleh tim Hukum dan Ham IKNR, Fauzan Laia dan Yaman Nazara.

Fauzan dan Yaman menerangkan, “tidak ada diserahkan Sefianus Zai masalah itu ke organisasi IKNR. Sebab sesuai aturan, setiap permasalahan hukum di tangani oleh tim Hukum dan Ham IKNR.

“Kami tidak pernah mengetahui adanya penyerahan tersebut”, jelas Fauzan dan Yaman lewat via seluler kepada Wartawan.

Sefianus Zai yang kerap mengaku sana-sini sebagai pengurus organisasi Ikatan Keluaga Nias Riau (IKNR), saat dikonfirmasi Wartawan lewat hendphon miliknya, tak berkomentar. "Saya tidak bisa mengomentari masalah itu" ucap Sefianus Zai.

Menanggapi tindakan para oknum IKNR tersebut, sangat disesali oleh penasehat organisasi IKNR, Sozifao Hia. “Saya baru tahu masalah itu. Baru saya tau setelah naik di Facebook milik Sefianus Zai.

Seharusnya hal ini tidak perlu dilakukan oleh para oknum-oknum IKNR kepada warga Nias di Riau,” kesal Sozifao Hia melalui sambungan hendphon kepada Wartawan.

“Jangan dinaikan dulu beritanya ya, biar saya tanyakan dulu kepada Sefianus Zai” tambah Sozifao Hia.

Nada yang sama, juga datang dari salah satu tokoh masyarakat Nias di Riau, F Zega. pihaknya sangat kesal dengan tindakan para oknum IKNR yang meminta uang operasional dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi setiap warga Nias yang ada di Riau.

“Tindakan para oknum IKNR tersebut sangat bertentangan dengan peraturan yang berlaku” imbuh Zega.

Ditegaskan F Zega, pihak kepolisian agar segera mengambil langkah untuk menindak para oknum IKNR yang merajalela melakukan pemungutan liar hingga pemerasan yang dialami warga Nias itu. Apalagi mereka para oknum tukang pemeras tersebut mengatasnamakan organisasi IKNR serta biaya pencabutan laporan ke pihak kepolisian.

“Setahu saya, polisi sangat profesional dalam menangani permasalahan tanpa meminta imbalan jasa. tambah F Zega.

Bukan itu saja, beberapa bulan yang lalu, Sefianus Zai alias Ama Sasa Zai bersama orang suruhannya juga pernah ketahuan melakukan kasus tindakan kriminal dalam hal penggelapan uang dan pemalsuan dokumen (identitas) keluarga korban kecelakaan Lalu Lintas.

Sefianus Zai saat membacakan catatan rincian pengeluaran serta sisa dana santunan kematian yang belum diserahkan kepada keluarga korban.
Namun setelah korban membuat laporkan Polisi atas perbuatan Sefianus Zai tersebut, akhirnya pelaku (Sefianus Zai) mengajukan permohonan maafnya kepada korban dihadapan para tokoh masyarakat Nias Kota Pekanbaru-Riau.

Berdasarkan informasi yang dihimpun awak media dilapangan, kasus ini berawal saat peristiwa kecelakaan Lalu Lintas di sekitar ruas jalan Simpang Bingung-Palas, Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru pada bulan Maret 2015.

Ketika itu sekeluarga korban dari Pekanbaru berangkat dengan mengendarai sebuah mobil menuju arah Muara Fajar-Minas menuju rumah keluarga yang ada di daerah Mauara Fajar-Rumbai.

namun sebelum sampai ke tujuan, korban mengalami kecelakaan “Tunggal” dengan menabrak batang kayu atau pohon yang ada di pinggiran jalan. Korban diduga mengantuk sehingga kehilangan kendali membawa kendaraan.

Atas kejadian itu, dari satu keluarga ini 2 (dua) orang meninggal dunia Ayah (Hendra Laia) dan anaknya (Ridho Laia). Sementara, isteri korban, Marni Lase mengalami luka serius, dan anaknya laki-laki yang masih kecil mengalami patah tulang di bagian pada bagian kaki.

Singkat cerita dalam peristiwa ini, Sefianus Zai menguasai urusan terhadap korban dibantu dengan suruhannya, Fitaris Giawa. Sefianus Zai dan Fitaris entah bagaimana caranya, namun keduanya berhasil mengurus Jasa Raharja dengan berkas seadanya.

Sayangnya, upaya kedua pengurus santunan ini, ternyata tidaklah sepenuhnya ikhlas. Karena hampir secara sengaja mereka mencelakai serta melukai perasaan korban.

Proses pencairan dana santunan kematian, tanpa diketahui korban. Sebab para pelakunya sudah menguasai seluruh berkas korban. Parahnya lagi, PIN ATM BRI korban pun dikuasai penuh pelaku (Sefianus Zai). Hal itu terjadi ketika pelaku membawa korban ke Bank BRI di jalan Tuanku Tambusai Kota Pekanbaru.

Saat di Bank, tanpa diketahui korban, pelaku ternyata berhasil mencairkan uang sebesar Rp14.000.000 (katanya), dan pelaku beralasan bahwa dana santunan kematian sebesar Rp25.000.000 tidak bisa dicairkan sekaligus oleh Jasa Raharja maupun Bank BRI.

Jadi sisa uang itu harus tertahan dalam Bank dan dilakukan pencairan dikemudian hari. Anehnya, 2 orang yang meninggal dunia, namun hanya satu orang yang mendapat santunan kematian.

Dalam proses berjalannya urusan demi urusan, salah satu pelaku yang ketika itu membonceng korban, mengajak korban untuk tidur di Hotel dengan alasan “Pelaku sudah ngantuk” dan harus pergi tidur di hotel.

Alhasil ketika itu, korban berhasil lolos dari ancaman percobaan pelecehan seksual itu. Korban ketika itu, bahkan sempat melompat dari sepeda motor pelaku karena dipaksa pelaku harus pergi ke sebuah hotel.

Takut ketahuan dan terjadi apa-apa dengan mereka di jalan, ditambah dengan niat korban akan melompat lagi, akhirnya pelaku memutar balik kendaraannya. Sementara uang korban masih tertahan di tangan pelaku (Sefianus Zai), termasuk buku Bank ATM dan berkas lainnya. Korban mendesak uang itu diberikan kepadanya, termasuk berkasnya. Namun masih gagal karena Sefianus Zai ini membentak, marah dan mengemop korban hingga memukul meja dengan keras..!

Karena trauma atas perilaku para pelaku yang sempat melakukan percobaan pelecehan seksual, mengajak atau membawa korban membeli sandal tanpa diminta korban. Bahkan, untuk membeli HP korban mengganti yang rusak, untuk memperoleh uang pun sangat sulit karena pelaku tidak mau menyerahkan uang milik korban itu.

Perbuatan Sefianus Zai ini pun akhirnya terungkap saat para tokoh masyarakat Nias di Pekanbaru mengadakan pertemuan dirumah salah satu keluarga korban, Minggu (14/06/2015) siang hingga malam.

Karena Sefianus Zai dinilai tidak memiliki ketransparan dalam menguasai hak korban, termasuk tidak diungkapkannya saat membentak, mengemop hingga mengancam korban, disusul dengan pemukulan meja oleh Sefianus Zai itu di hadapan korban.

Kemudian, Fitaris Giawa juga tidak transparan seperti yang dilakukan Sefianus Zai, karena Fitaris tidak mengungkap saat dia (Fitaris) melakukan ancaman percobaan pelecehan seksual terhadap korban dengan mengajak korban tidur ke Hotel.

Termasuk upaya pelaku yang menelpon orang tua korban, agar pelaku diizinkan untuk menikahi korban. Hal ini semuanya baru terungkap saat adanya pertemuan ketika korban memamparkan seluruh kronologis kejadian atas ulah Sefianus Zai dkk.

Atas perbuatan Sefianus Zai alias Ama Sasa Zai (Pelaku) hingga membuat korban trauma, yang pada akhirnya korban melaporkan kejadian itu ke Polresta Pekanbaru pada Kamis (28/05/2015) sesuai dengan SP2HP Nomor: B/607/VI/2015/ Reskrim tanggal 12 Juni 2015 dengan di-dampingi, Maiman Telaumbanua, Faigizaro Zega dan lainnya.

Sementara pihak kuasa dari Sefianus Zai dan Fitaris Giawa yaitu, Ama Engel (Pengacara) Lase, Mawardin Telaumbanua dan Toni Zendrato.  Dalam pertemuan penyelesaian secara kekeluargaan itu, juga dihadiri Fag Zega, A. Zega dan Toro Laia dan korban Marni Lase, pelaku, Sefianus Zai alias Ama Sasa Zai dan Fitaris alias Aris Giawa.

Sehingga pada akhirnya, Sefianus berkenan mengembalikan seluruh berkas-berkas korban dengan seadanya dan nominal uang senilai Rp3,6 juta yang disusul dengan permohonan permintaan maaf kepada korban, Marni Lase. (Jay)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas