Headlines News :
Home » , » Dituduh Lakukan Pembunuhan, Polisi Resor Rohul Diduga Lakukan Penyiksaan Secara Tidak Manusiawi

Dituduh Lakukan Pembunuhan, Polisi Resor Rohul Diduga Lakukan Penyiksaan Secara Tidak Manusiawi

Written By Harian Berantas on Saturday, May 21, 2016 | 1:49:00 PM

HARIANBERANTAS, ROHUL- Dua korban dugaan kekerasan dan penganiayaan oleh oknum Kepolisian Resor Rokan Hulu (Rohul) di Provinsi Riau, Tito dan Sukur Gea, kini dalam kritis berat di rumah tahanan (Rutan) Polres Rokan Hulu. Bapak dan Anak itu dituduh melakukan pembunuhan terhadap seorang ibu rumah tangga, J Marpaung yang tewas dirumahnya di Desa Pauh Bonai Darussalam Kabupaten Rohul pada hari Selasa, 05 April 2016 lalu.

 Baju merah (tengah), AKP M Wirawan Novianto, dengan pengurus Onur (19/05)

Menurut keluarga, Tito dan Suku telah diperlakukan tak manusiawi oleh Polisi Resor Rokan Hulu. M Nduru, istri korban, Tito, dan anak kandungnya Sukur, yang didampingi pengurus persatuan Organisasi Nias Utara (ONUR), tak kuasa menahan tangis saat Kasat Reskrim Polres Rokan Hulu, AKP M. Wirawan Novianto S.Ds. Sik tak memperbolehkannya melihat sang suami dan anak kandungnya yang disiksa secara tidak manusiawi oleh pihak kepolisian di dalam tahanan Polres Rohul. 

Padahal, dalam kasus pembunuhan yang dituduhkan kepada suaminya, Tito dan anaknya Sukur, pihak Polsek Bonai Darussalam yang pertama kalinya melakukan penangkapan dan penahanan hingga penyiksaan dua hari dua malam lamanya, lalu dilepas karena tidak terbukti melakukan serangkaian perbuatan yang dituduhkan, serta diteruskan penahanan dan penyiksaan oleh pihak Polres Rohul, tanpa ada surat penangkapan, penahanan dan bukti lainnya seperti waktu kapan kejadian, olah TKP, sidik jari, visum dan lain sebagainya.

"Selasa tanggal 26 April 2016, sekira jam 22.00 wib, anggota polisi Polsek Bonai Darussalam dari Kabupaten Rohul beranggota polisi cukup banyak malam itu, datang kerumah kami di perumahan PT. Mas Desa Danau Lancang Kecamatan Tapung Hulu Kabupaten Kampar, tanpa alasan dan surat penangkapan dari polisi, menangkap suami dan anak saya lalu dibawa kedalam mobil oleh Polsek Bonai Darussalam.

Setelah suami dan anak saya ditangkap hingga ditahan oleh pihak Polsek Bonai Darussalam, dua malam dua hari lamanya di Polsek tanpa surat penahanan, mereka disiksa dan dianiaya secara tidak manusiawi, agar mengaku bersalah melakukan pembunuhan yang tidak pernah mereka lakukan. 

Bukan itu saja, pada saat suami saya dan anak saya masih diperjalanan di dalam mobil yang dibawa polisi, mereka juga disiksa dan dianiaya," ujar M Nduru kepada Wartawan di Polres Rohul, Kamis (19/05/2016).

M Nduru mengatakan, setelah suami dan anaknya yang disiksa polisi secara tidak manusiawi selama dua malam dua hari lamanya itu, kedua korban penyiksaan Polsek Bonai Darussalam itu dilepas dan diantar pulang tanpa syarat, pada hari Kamis (28/04/2016).

Sepulang dari Polsek Bonai Darussalam Kabupaten Rohul, anaknya, Sukur yang telah mendapat tuduhan yang tidak benar yang disertai penyiksaan oleh polisi dua malam dua hari lamanya,  mendatangi sekretariat persatuan Organisasi Nias Utara (ONUR) di Jl. Hangtuah No. 193C Lt II Kelurahan Rejosari, Tenayan Raya Kota Pekanbaru, menyampaikan serta minta perlindungan atas kasus penyiksaan dan tuduhan yang dialaminya dan orang tua kandungnya yang diduga diperlakukan polisi secara tidak manusiawi.

 "Saya bersama Bapak kandungnya saya, telah ditangkap dan disiksa polisi pada tanggal 26 sampai 28 April 2016. Kami berdua dituduh melakukan pembunuhan dan pencurian di Desa Pauh Bonai Darussalam Kabupaten Rohul tanggal 05 April 2016. 

Padahal masalahnya kami tidak tahu dan bukan kami pelakunya. Apalagi saat kami ditangkap itu, surat penangkapan pun tidak ada. Kemudian, pada diperjalanan didalam mobil, kami disiksa dan dianiaya polisi. Bukan itu saja, pada pemeriksaan hingga dalam tahanan, kami berdua tetap disiksa sama mereka (polisi-red) secara bergiliran," tutur Suku

Dijelaskan Sukur, pada saat kami berdua ditahan polisi selama dua malam dua hari dalam penjara, tidak ada surat penahanan. Namun yang dilakukan polisi setelah dua hari dua malam lamanya kami disiksa dalam penjara, kami hanya diantar pulang ke rumah tanpa syarat oleh polisi," jelas Suku.

Organisasi Nias Utara Riau (ONUR), yang mendapat laporan warganya dilakukan secara tidak kemanusiaan oleh anggota Polsek Bonai Darussalam kesatuan Polda Riau, langsung mendampingi korban, Sukur, melaporkan kasus dugaan kejadian  penganiayaan dan atau pemukulan tersebut ke bidang profesi dan pengamanan (Propam) Polda Riau, dengan bukti tanda penerimaan laporan, Nomor: STPL/80/V/ 2016/PROPAM tanggal 02 Mei 2016.

Setelah Polsek Bonai Darussalam menerima informasi adanya korban, Sukur, melaporkan kejadian dugaan penganiayaan dan atau pemukulan oleh polisi Rohul ke Propam Polda Riau, anggota Polres Rohul kesatuan Polda Riau, bertindak melakukan penangkapan dan penahanan terhadap Adive Hulu yang merupakan adik ipar Sukur (korban) dan menetapkannya sebagai tersangka.

Seperti dilangsir media massa sebelumnya, salah satu tertuduh pelaku terbunuhnya J Marpaung, telah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Namun penetapan Adive sebagai tersangka oleh polisi, membuat keluarga maupun orang sekitar yang pernah ditangkap dan diperiksa polisi tidak menerimanya.

Sebab berbagai pihak yang ikut terperiksa dibalik terbunuhnya J Marpaung dalam rumahnya sendiri, termasuk Adive yang dituduh, dihajar dan dianiaya oleh anggota kepolisian.

Bahkan salah seorang warga Km. 32 Desa Pauh merupakan tetangga J Marpaung (korban) sendiri, bernisial EM (Erik Manalu), ditangkap bersama tantenya dan Seven Nainggolan, mendapat perlakukan tidak manusiawi dari polisi.

Beberapa hari kemudian, melalui pemberitaan dibeberapa media cetak maupun elektronik, bahwa Tito bersama anaknya Sukur yang sebelumnya sempat ditangkap, disiksa, ditahan lalu dilepas polisi, kembali dicari polisi dari Polres Rohul.

Setelah informasi melalui media massa bahwa kedua korban, Tito bersama anak kandungnya Sukur, telah kembali dituduh dalam kasus terbunuhnya J Marpaung, pihak pengurus ONUR lewat via seluler menghubungi Kasat Reskrim Polres Rohul, M Wirawan Novianto S.Ds.Sik, meminta agar Tito bersama Sukur yang dimaksud Polres Rohul untuk dijemput di Pekanbaru, Riau.

Sehingga, Sabtu (14/05/2016) sekira pukul 24.00 wib, Kasat Reskrim, M Wirawan Novianto S.Ds.Sik didampingi puluhan anggota polisi dari Polres Rohul, datang menjemput Tito dan Sukur yang diserahterima bersama antara pengurus  Organisasi Nias Utara Riau (ONUR) tepatnya dikantin kedai kopi Gembira Jl Hangtuah Kota Pekanbaru.

Kasat Reskrim, M Wirawan Novianto S.Ds.Sik dihadapan pengurus  Organisasi Nias Utara Riau (ONUR) dan disaksikan beberapa Wartawan dan aktivis LSM berjanji, tidak akan melakukan penyiksaan dan penganiayaan terhadap Tito dan Suku seperti yang dilakukan anggota Polsek Bonai Darussalam sebelumnya.

“Ini saya jamin. Tidak akan ada penyiksaan dan penganiayaan lagi maupun maksud lainnya. Ini mereka berdua (Tito-Sukur) aman dan tidak terulang seperti yang di Polsek Bonai Darussalam sebelumnya. Ini saya jamin, baik dalam perjalanan menuju Polres Rohul maupun dalam pemeriksaan sampai seterusnya” kata Kasat.

Akan tetapi, janji Kasat Reskrim, M Wirawan Novianto S.Ds.Sik dihadapan pengurus  Organisasi Nias Utara Riau (ONUR) yang disaksikan beberapa Wartawan dan aktivis LSM pada hari Sabtu (14/05) malam tersebut, bukanlah suatu jaminan yang mengikat.

Ketika M Nduru istrinya Tito yang merupakan ibu kandung dari Sukur, datang ke Polres Rohul, Kasat Reskrim, M Wirawan Novianto S.Ds.Sik menolak untuk tidak masuk dan melihat suaminya bersama anak kandungnya yang sedang ditahan.

“Saya belum bisa memberikan izin untuk masuk melihat Tito dan Sukur di tahanan. Sebab sampai saat ini, kami belum melakukan penyelidikan tentang kasus mereka itu. Makanya kalau rekonstruksi perkaranya kami lakukan ditempat yang lain saja, dan bukan di tempat perkara semula (TKP),” pungkas AKP M Wirawan Novianto kepada istrinya Tito yang disaksikan awak media, Kamis (19/05/2016).

Setelah keluarga Tito dan Suku pulang dari Polres Rohul, sekira pukul 20.00 wib (19/05) malam, keluarga diberi kabar lewat hendphon bahwa Tito dalam kritis berat di rumah tahanan (Rutan) Polres Rokan Hulu.

Kasat Reskrim Polres Rohul, AKP M Wirawan Novianto S.Ds.Sik ketika dihubungi media ini lewat via selulernya, tak dijawab, SmS pun tak dibalas. 

Atas kejadian tersebut, Organisasi Nias Utara Riau (ONUR) mengecam tindakan oknum polisi Polsek Bonai Darussalam maupun oknum petugas Polres Rohul yang diduga telah menyiksa Tito dan Suku yang disangka terkait terbunuhnya J Marbun (korban).

Menurut Kepala Divisi Humas ONUR, Onas Lahagu, didampingi Tema Zega SH dan Yunaldi Zega SH di Pekanbaru, Jum,at (20/05), Tito dan Suku yang sebelumnya mengalami kritis diduga akibat mengalami penyiksaan oleh sejumlah oknum anggota Polsek Bonai Darussalam Kabupaten Rohul Provinsi Riau, sebelumnya telah dilepas karena tidak terbukti melakukan perbuatan yang tidak pernah dilakukan mereka dalam kasus terbunuhnya J Marpaung didalam rumahnya sendiri tanggal 05 April 2016 yang lalu.

Suku korban penyiksaan dan orang tuanya, kemudian mengadukan permasalahan itu ke Organisasi Nias Utara Riau (ONUR) di Pekanbaru. Onas Lahagu menuturkan, Tito dan Suku telah ditangkap oleh aparat Polsek Bonai Darussalam Rohul tanpa adanya surat penangkapan maupun penahanan, lalu dituduh terlibat pembunuhan seorang ibu rumah tangga J boru Marpaung tanpa dasar dan alat bukti yang kuat.

Menurut dia, Tito dan Suku yang diinterogasi di ruangan pemeriksaan di Mapolsek Bonai Darussalam, diduga mengalami siksaan oleh oknum anggota Polsek Bonai Darussalam, agar mereka bersedia mengaku terlibat dalam terbunuhnya J Marpaung didalam rumahnya sendiri.

Karena tidak ada pengakuan Tito dan anaknya Suku karena tidak pernah ada melakukan apa yang tuduhkan terhadap mereka, akhirnya keduanya dilepas tanpa syarat oleh polisi.

Sehingga kemudian, kasus penyiksaan dan penganiayaan yang mereka alami dari pihak Polsek Bonai Darussalam, Organisasi Nias Utara Riau (ONUR) menyatakan sikap, mengecam tindakan sejumlah oknum Polsek Bonai Darussalam termasuk melaporkan kejadian kasus ketidakmanusiawi itu ke pihak Propam Polda Riau.

Ketika pihak Polsek dan Polres Rohul mengetahui kalau kasus penyiksaan oleh polisi tersebut adanya dilaporkan korban, Suku, ke Propam Polda Riau, akhirnya Polres Rohul kembali menetapkan korban, Tito dan Suku sebagai tersangka dan disiksa.

"Penyiksaan terhadap Tito dan Suku oleh sejumlah oknum anggota Polisi itu bukan hanya merupakan tindak pidana justru telah dilakukan oleh polisi, melainkan merupakan pelanggaran hak asasi manusia sebagaimana diatur dalam pasal 33 ayat 1 dan pasal 34 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, dan UU Nomor 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia," ujar Onas.

Dia menyebutkan ketentuan UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, yaitu pasal 33 ayat 1 berbunyi: "Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusiannya."

Lalu, pasal 34 berbunyi: "Setiap orang tidak boleh ditangkap, ditahan, disiksa, dikucilkan, diasingkan atau dibuang secara sewenang-wenang."

Karena itu, ONUR LBH mendesak Kapolda Riau dan Kapolri untuk mengusut secara tuntas dan transparan dengan menangkap dan memproses hukum terhadap sejumlah oknum Polsek dan Polres di Kabupaten Rohul yang terlibat dalam penyiksaan Tito dan Suku secara hukum pidana maupun kode etik.

"Kami juga mendesak Kapolda Riau maupun Kapolri untuk mencopot Kapolsek Bonai Darussalam dan Kapolres Rohul, karena mereka bertanggungjawab atas terjadinya penyiksaan yang dialami Tito dan Suku," kata Onas.

Pihaknya juga mendesak Kapolda Riau dan Kapolri menghentikan praktik penyiksaan dan perlakuan yang kejam yang kerap masih saja dilakukan oleh para jajaran kepolisian dalam mengusut kasus pidana.

"Kami minta dan mendesak Kapolda Riau dan Kapolri untuk memerintahkan jajarannya bekerja secara profesional dan menghormati HAM," katanya.

Kabid Humas Polda Riau, AKBP Guntur Aryo Tejo, dikonfirmasi, Jum,at (20/05/2016) tidak berada diruangan. “Bapak lagi keluar. Hari Senin  depan aja beliau jumpai. Karena hari ini sudah Jumat siang,” kata staf.

Sementara, Kapolda Riau Brigjen Pol Drs Supriyanto, saat hendak diminta tanggapannya, Jum’at (20/05), “Bapak bentar lagi mau keluar. Kebetulan nanti siang sampai sore, beliau ada acara disebelah (Ruangan rapat). Nanti informasi kejadian di Polres Kabupaten Rohul ini saya sampaikan ke beliau. Bila mau jumpa, Senin depan aja datang jumpai beliau”, ujar staf. (Y/T)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas