Headlines News :
Home » , , , , , » Kapolda Riau Diminta Bertindak, Polantas Polresta Pekanbaru Tilang Sepeda Motor Karena Uang Rp100 Ribu

Kapolda Riau Diminta Bertindak, Polantas Polresta Pekanbaru Tilang Sepeda Motor Karena Uang Rp100 Ribu

Written By Harian Berantas on Monday, February 22, 2016 | 12:07:00 AM

PEKANBARU, HARIANBERANTAS--- Kesadaran masyarakat terhadap peraturan Lalulintas memang masih minim. Setiap pengendara yang melanggar rambu-rambu lalulintas, pemerintah menunjuk LLAJ dari Dinas Perhubungan dan Pol-Lantas dari Kepolisian untuk menertibkan pelanggaran rambu-rambu lalulintas. Penertiban memang tidak salah dan harus dipatuhi dan dihormati oleh siapapun tanpa terkecuali, karena telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Doc.Brigadir DW dkk                                         Doc.Surat Tilang
        
Sangat disayangkan, Sabtu (20/02) sekira pkl 16.22 wib, oknum polantas Polresta Pekanbaru, Inisial Brigadir DW Cs, dinilai tidak profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang polantas. 

Pasalnya, kendaraan yang terparkir pun ditilang oknum Polantas ini tanpa prosedur. Bahkan oknum Polantas Pekanbaru dkknya itu, justeru meminta uang korban senilai Rp100 ribu dengan alasan surat tilang terlanjur ditulis. Namun surat tilang pun, tak diberi.

Doc. Pengendara yang melanggar (Propodem) dan lewat depan pos polisi, dibiarkan Polisi,20/02.

Bukan itu saja, kendaraan roda dua dan empat yang terpantau melakukan pelanggaran akibat melawan arus jalan lalulintas (probodem) yang membahayakan nyawa orang banyak, tak ditahan dan ditilang polisi dan dibiarkan begitu saja.  

Peristiwa ini terjadi, Sabtu (20/02) ketika saat salah seorang warga Pekanbaru, Niko yang sudah memasuki areal parkiran depan Plaza Senapelan Jln Teuku Umar Pekanbaru, hendak memarkir sepeda motor merk Yamaha Jupiter MX bernopol BM 4896 XL yang dikendarainya pada parkiran di depan Plaza Senapelan Jln Teuku Umar Pekanbaru.

Namun, areal parkir yang sudah penuh dengan kendaraan yang lain, petugas juru parkir meminta sambil mengarahkan korban (Niko,red), memutar arah ketempat parkiran yang kosong di sekitar lokasi parkiran tempatan. Lalu, korban polantas ini pun, mengikuti arahan petugas juru parkir Plaza Senapelan tersebut bersama dengan pengendara sepeda motor lainnya.

Secara mengejutkan, petugas Polantas yang diketahui dari kesatuan Polresta Pekanbaru itu datang memanggil korban dengan tangan kiri alias tangan cebok-nya. Sementara, rekan lain yang diarahkan oleh petugas parkir agar kendaraan mereka dipindahkan ketempat parkir yang kosong di sekitar, tak dipanggil dan dimintai uang sama oknum Polantas, Brigadir DW dkk.

Pada saat korban (Niko,red) menemui oknum Polantas karena dipanggil, Polisi Lalulintas  tersebut meminta kelengkapan surat kendaraan milik korban. Walaupun kepemilikan surat-surat kendaraan korban sudah lengkap, oknum Plantas Brigadir DW dkknya justeru membawa korban ke pos penjagaan lantas yang tak jauh dari tempat parkiran depan plaza senapelan Pekanbaru tersebut.

Sehingga oknum Polantas Pekanbaru dkk itu meminta uang dari korban (Niko,red) senilai Rp1oo ribu rupiah. Karena korban tidak memiliki nominal uang sebesar Rp100 ribu, Brigadir DW terus mendesak korban agar uang senilai Rp100 ribu dengan alasan surat tilang sudah ditulis. 

Namun, karena korban tidak dapat memberi nominal uang yang diminta, Polantas, Brigadir DW menyuruh korban mencari uang keluar dan korban diminta Brigadir DW agar kendaraan yang akan ditilang tetap parkir disamping pos lantas.

Karena korban terus didesak Bigadir DW mencari nominal uang yang diminta, korban (Niko,red) pun meminta surat tilang kendaraan yang dikendarainya. Lalu  polisi lalulintas (Polantas) Polresta Pekanbaru, Brigadir DW, tak memberi surat tilang yang diminta korban. 

Kepada Wartawan saat ditemui lokasi menuturkan, kami hanya mengantar surat undangan saja tadi ke jalan Teuku Umar ini bang. Tapi tempat parkirnya penuh, sehingga juru parkir mengarahkan kami sambil mendorong sepeda motor yang kami bawa itu balik arah ke belakang, jelas Niko.

Dikatakan Niko, saat kami tiba ditempat parkir kosong di depan pintu masuk plaza yang diantar sama juru parkir, tiba-tiba pak Polantas, Brigadir DW datang memanggil kami serta menunjuk Saya sama tangan kiri ceboknya meminta STNK dan SIM. 

Karena STNK dan SIM kami ada, Saya pun dibawa ke pos di Sudirman ini, dan saya dimintai uang untuk denda kata mereka (Polantas-red).  Tapi karena uang kami tak punya, kami pun meminta surat tilangnya diberi. Tapi surat tilangnya tak ada, kata korban.

 “Ini kami tak ada salah tadi bang. Tadi banyak kendaraan lain yang sama dengan kami ini yang disuruh sama juru parkir ke tempat parkir yang kosong. Tapi, hanya kami ini saja yang diperlakukan sama pak Polisi. 

Padahal, ada banyak kendaran yang jelas-jelas dilihat Polantas yang melanggar rambu-rambu lalulintas, karena lewat depan pos polisi untuk melawan arus jalan yang dilarang.  Namun mereka (Polantas-red) membiarkan begitu saja” kesal korban.

Brigadir DW saat dikonfirmasi Wartawan membenarkan kejadian tersebut. Pihaknya  berkilah, korban (Niko.red), melawan arus lalulintas atau porbodem. Ketika ditanya, kenapa hanya mereka saja yang ditilang? Brigadir DW menjawab, tak usah ini di permasalahkan pak. kami minta maaf sama korban (Niko), kami kembalikan saja SIM dan STNK-nya. 

“Ambilah SIM dan STNK ini, biar kami saja yang bayar denda ini, karena surat tilangnya sudah ditulis duluan sama kawan saya itu tadi” kata Brigadir DW. Karena sudah kesal dengan ulah polisi Brigadir DW dkk, korban meninggalkan pos lantas.

Menanggapi hal ini, Sekum LSM Komunitas Pemberantas Korupsi (KPK), B Anas menyikapi serius perilaku oknum polisi yang tak terpuji tersebut. Pihaknya meminta kepada Kapolri, Kapolda Riau maupun Kapolresta Pekanbaru, memberi tindakan tegas dengan sanksi displin hingga pemecatan. Kalau hal seperti ini dibiarkan, maka kepercayaan masyarakat terhadap Polisi yang sudah hilang selama ini semakin hilang lagi.

Sebab fungsi dan tugas poko Kepolisian itu sudah jelas diatur yaitu: (a). Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; (b). Menegakkan hukum; (c). Memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Lebih ditegaskan lagi tugas Kepolisian pada Pasal 14 Undang-Undang Kepolisian Republik Indonesia sudah sangat jelas.

Seharusnya polisi jadi contoh dan panutan bagi masyarakat. Tapi kenyataan dilapangan, polisi lupa diri bahwa polisi itu pembantu masyarakat dan masyarakat adalah majikan mereka, bukan malah menjadi musuh besar masyarakat. 

Besar harapan kita, kedepan polisi semakin di percaya masyarakat dan sebagai contoh dan panutan, imbuh B Anas.

Hingga berita ini turun, Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Aries Syarief Hidayat, belum bisa di konfirmasi terkait perilaku/ulah anggotanya, karena tidak berada ditempat, *Jaya/ Pilip*
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas