Headlines News :
Home » , , » Terkait Laporan dan Audit Harta Kekayaan, Herliyan Saleh Diduga Lakukan Pembohongan

Terkait Laporan dan Audit Harta Kekayaan, Herliyan Saleh Diduga Lakukan Pembohongan

Written By Harian Berantas on Sunday, December 6, 2015 | 9:25:00 PM

HARIANBERANTAS, BENGKALIS - Mantan Bupati Bengkalis periode 2010-2015 Herliyan Saleh diduga kuat telah melakukan penipuan dalam melaporkan harta kekayaannya. Semua orang tahu, Herliyan adalah Bupati di kabupaten nomor dua terkaya di Indonesia, serta berstatus tersangka saat ini dalam kasus korupsi dana bantuan sosial senilai Rp 226 milyar. 


Berdasarkan hasil audit, kekayaan cabup yang pernah menjadi orang nomor satu di Negeri Junjungan ini tercatat pada tahun 2015 hanya Rp1. 773.052.476. Bahkan bila dibandingkan dengan pelaporan sebelumnya tertanggal 23 Desember 2013, sebesar Rp3. 775.726.538.

Berbeda dengan Herliyan Saleh, dua calon Bupati lainnya, Sulaiman Zakaria dan Amril Mukminin memilik harta kekayaan yang hampir sama. Kekayaan Sulaiman Zakaria tercatat sebesar Rp9. 037. 174.170 sedangkan Amril Mukminin sebesar Rp9. 590.805.669 atau selisih sekitar Rp500. 000. 000 dari Sulaiman Zakaria. Amril Muknimin tercatat sebagai calon Bupati Bengkalis terkaya. Berdasarkan hasil audit dan pelaporan harta kekayaan cabup dan cawabup.

Sejumlah kalangan menilai hasil audit yang dilakukan kurang bisa diterima akal sehat, karena pada saat “berkuasa” korupsi di Kabupaten Bengkalis justru menjadi-jadi, sudah banyak pejabat dan kontrraktor serta anggota dewan menjadi sasaran hukum. Contohnya kasus mega korupsi kepada BUMD PT.Bumi Laksamana Jaya (BLJ) sebesar Rp 300 milyar, dana bansos Rp 226 milyar.

Juga ada proyek Multiyeras (My) Rp 2,4 trilyun yang diduga juga bermasalah serta lelang proyek regular setiap tahun yang mencapai angka Rp 1 trilyun lebih diduga sarat dengan praktek KKN di Unit Layanan Pengadaan (ULP) Bengkalis. 

Sudah bukan rahasia lagi, dimana setiap rekanan pemenang lelang diwajibkan menyetorkepada panitia ULP dengan nilai bervariasi antara 5 sampai 10 persen dari nilai proyek, dimana uang setoran tersebut dibagikan ke banyak pihak, termasuk sang bupati.

“Itu hanya modus untuk mengelabui masyarakat, seolah-olah selama lima tahun menjabat Bupati dia sangat bersih. Bagaimana mungkin seorang Bupati di kabupaten kaya, dalam dua tahun kekayaannya berkurang, padahal semua kebutuhannya dibiayai Negara lewat APBD. Kita menduga pelaporan harta kekayaan oleh Herliyan Saleh itu ada unsur pembohongan publik,” tegas Abdul Rahman S, Direktur Eksekutif BAK-LIPUN Bengkalis, Jumat (04/12/2015).

Dicontohkan Abdul, pada masa Herliyan memimpin lima tahun, APBD Bengkalis justru terkesan dihambur-hamburkan melalui dana bansos, penyertaan modal ke PT.BLJ yang berujung proyek fiktif senilai Rp 300 milyar dan sudah menyeret dua tersangka dari jajaran direksi. Lolosnya penyertaan modal itu jelas karena campur tangan bupati ketika itu, karena bagaimana mungkin anggaran sebesar itu bisa dicairkan kalau tidak ada persetujuan Bupati.

Dilanjutkannya, pelaporan harta kekayaan serta asset oleh Herliyan dan kemudian diekspose besar-besaran, seolah-olah ingin menunjukan kepada masyarakat Bengkalis kalau dia pemimpin yang bersih selama ini. Masyarakat tidak akan bisa dikelabui dengan propaganda yang sebenarnya adalah pembohongan publik tersebut.

“Semua masyarakat Bengkalis tahu, kalau calon bupati terkaya itu adalah Herliyan Saleh. Ketika membicarakan pilkada, mayoritas masyarakat menyebutkan kalau Herliyan Saleh duitnya tidak berseri. Itu dibuktikan pada acara kampanye dan sosialisasi, ia diduga membagi-bagikan duit kepada masyarakat yang menghadiri acaranya,” pungkas Abdul lagi.

Dalam berbagai kasus dugaan tindak pidana korupsi skala besar, nama Herliyan Saleh justru selalu dikaitkan. Seperti dalam kasus dana bansos senilai Rp 226 milyar yang sudah memenjarakan mantan ketua DPRD Jamal Abdillah, serta ditetapkannya sejumlah anggota dewan aktif dan mantan dewan sebagai tersangka bersama Herliyan Saleh sendiri yang juga berstatus tersangka.

“Selain korupsi dana bansos, dalam kasus mega korupsi PT. BLJ juga dugaan keterlibatan Herliyan sangat kuat. Hanya saja proses hukum yang berjalan di kejaksaan seperti mandeg. Belum lagi mega proyek My yang nilainya mencapai Rp 2,4 trilyun, diyakini bakal menuai masalah dikemudian hari, dan itu juga merupakan kebijakan Herliyan saat menjabat bupati,”tambah Abdul.(af)

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas