Headlines News :
Home » , » Pekan Depan, Herliyan Saleh Tersangka Korupsi Dijadwalkan Bersaksi di Sidang Jamal Abdillah

Pekan Depan, Herliyan Saleh Tersangka Korupsi Dijadwalkan Bersaksi di Sidang Jamal Abdillah

Written By Harian Berantas on Wednesday, December 9, 2015 | 3:50:00 AM

HARIANBERANTAS, PEKANBARU - Mantan Bupati Bengkalis, Herliyan Saleh, merupakan tersangka kasus dugaan korupsi, dijadwalkan bersaksi di sidang Jamal Abdillah, pekan depan. Jamal Abdillah menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana bansos Pemerintah Kabupaten Bengkalis tahun 2012 sebesar Rp272. 277.491.850 (Dua ratus tujuh puluh dua miliyar dua ratus tujuh puluh tujuh juta empat ratus sembilan puluh satu ribu rupiah delapan ratus lima puluh rupiah).       

Terdakwa, Jamal Abdillah (baju biru) bersama Ketum LSM KPK di PN Pekanbaru usai sidang di Tipikor Selasa (08/12/2015)

Tak hanya Herliyan Saleh (Tersangka), Jaksa Penuntut Umum (JPU) pun akan menghadirkan saksi ahli pada sidang berikutnya yang akan dilaksanakan Rabu (16/12/2015) pekan depan.," ucap Jaksa Penuntut Umum, Yusuf Luqita Danawihardja di ruang sidang tipikor, Pekanbaru, Selasa (08/12/ 2015).

Pantauan Berantas di Pengadilan Tipikor PN Pekanbaru,  lima orang saksi kasus korupsi bansos Pemkab Bengkalis tersebut, dihadirkan oleh JPU untuk bersaksi, termasuk supir atau ajudan terdakwa sendiri Jamal Abdillah, Herman. Usai mendengarkan keterangan saksi, sidang kembali ditutup dan akan dilanjutkan minggu depan dengan agenda masih mendengarkan saksi lainnya termasuk keterangan Herliyan Saleh yang merupakan tersangka juga untuk didengar keterangannya di pengadilan Tipikor.

Pada sidang hari ini, ada pengakuan dari ajudan Jamal Abdillah, yakni Herman. "Dana proposal yang diterima masing-masing kelompok masyarakat melalui salah seorang penghubung pak Jamal Abdillah, dititip ke Saya sebanyak 50-50 persen (%) untuk saya serahkan kepada pak Jamal Abdillah. Dan setelah uang sebesar 50 persen  (%) dari penghubungnya pak Jamal Abdillah saya terima, saya serahkan langsung dengan pak Jamal Abdillah seluruhnya," ujar Herman jadi saksi di ruang sidang Tipikor, Pekanbaru, Selasa (08/12/2015).

Selain itu, Herman juga menjelaskan bahwa pihaknya hanya yang disuruh oleh Jamal Abdillah ketika dana poroposal masing-masing kelompok masyarakat Bengkalis dicairkan oleh Pembakab Bengkalis melalui salah seorang pengurus sejumlah kelompok masyarakat.

"Saya hanya pesuruh pak Jamal untuk menjemput uang 50% dari jumlah dana bansos itu, dan saya berikan uang sebesar 50 persen itu dari masing-masing proposal ke pak Jamal Abdillah, dan diambil oleh pak Jamal sendiri,” ucap Herman.

 Sebagaimana diberitakan situs ini dan media cetak/koran “Berantas” pada edisi sebelumnya, berdasarkan bukti yang ada, ditemukan sebanyak 2.146 kelompok kucuran dana Bansos di tahun 2012 dengan anggaran biaya APBD/APBDP yang dicairkan Rp272. 277.491.850 yang diduga hanya menguntungkan diri para anggota DPRD dan pejabat penting di Pemkab Bengkalis.   
  
Bahkan Sekretaris Umum LSM KPK, B Naso merupakan sebagai pelapor kasus dugaan korupsi berjamaah tersebut,  menuding pencairan yang mudah itu salah satunya mudah karena ada rekomendasi dari anggota dewan, dan diperkuat lagi dengan keputusan Gubernur Riau nomor: Kpts.133/II/2012 tanggal 02 Pebruari 2012 yang tidak dipatuhi oleh Herliyan Saleh selaku Bupati bersama-sama ketua DPRD Bengkalis Jamal Abdillah (Terdakwa), beserta anggota DPRD lainnya dan pejabat penting lainnya yang ada di Pemda Kabupaten Bengkalis.

“Masih banyak lagi pihak eksekutif dan legilatif bahkan oknum-oknum LSM dan oknum wartawan yang sampai saat ini belum diusut. Maka, kami mendesak agar penegak hukum bisa menelusuri semua pencairan Bansos tanpa adanya verifikasi,” ungkap Naso. 

Divisi Monitoring Kinerja Aparat Hukum LSM KPK Rahmad juga kepada Wartawan menambahkan, penyidik kepolisian dituntut untuk mampu menelusuri semua pihak yang terlibat, terutama yang ikut menandatangani Perda nomor 1 tahun 2012 tentang APBD tahun anggaran 2012 yang ditanda tangani oleh mantan Bupati, Ir. H Herliyan Saleh MSc pada tanggal 08 Pebruari 2012 dan selanjutnya penetapan dan menanda tangani Perbub Bengkalis Nomor 4 tahun 2012 tanggal 09 Pebruari 2012.  

Hal itu bisa dimulai dari hasil notulensi, baik dari rapat rencana penerbitan, kesaksian hingga bukti-bukti materiil. “Kami menilai dugaan korupsi Bansos Bengkalis 2012 ini adalah atas kebijakan Bupati, Herliyan Saleh antara tim banggar DPRD yang dipimpin oleh Jamal Abdillah selaku ketua DPRD ketika itu.

Kemudian, keputusan Gubernur Riau, nomor Kpts:133/II/2012 tanggal 02 Pebruari 2012 yang tidak dilaksanakan atau tidak dipatuhi oleh Bupati, Herliyan Saleh. Kebijakan Bupati antara tim banggar DPRD tidak mengindahkan keputusan Gubernur Riau membuka kran, sehingga akhirnya bocor kemana-mana,” tudingnya. 

Dari bukti data  yang diperoleh media ini, ada sebanyak 27 orang anggota DPRD lagi dan 17 pejabat penting lainnya yang ada di Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis termasuk 2 pegawai honorer di bagian umum Seta Bengkalis yang masih belum dilakukan pengusutannya oleh Polda Riau.

Berikut rincian dana hibah/bansos yang diajukan oleh anggota DPRD Bengkalis yang disam-paikan satu pintu melalui ketua DPRD Bengkalis, Jamal Abillah (sekarang su¬dah Terdakwa), dengan dana hibah senilai Rp114.553.000,000 Rismayeni senilai Rp2. 950.000.000,00,- H. Firzal Fudhoil senilai Rp1. 425.000.000,00,  Anom Suroto senilai Rp1.600.000.000,00,- Mesran, Rp2. 325.000. 000,00, Jamadin Sinaga, Rp1.625.000,000,00,- H. Revolaysa SH,MH Rp1.200.000,000,00, Almi Husni SoS Rp2.330.000.000,00, James Rocky P Rumazar senilai Rp1. 000.000.000,00,- Dani Purba, Rp1.075.000,000,00, Misliadi S.HI sebesar Rp2.165.000.000,00, Iskandar Budiman SE Rp1. 000.000.000,00.

Selanjutnya, M. Nasir sebesar Rp1. 550.00.000,00,  H. Thamrin Mali senilai Rp1. 725.000. 000,00, Daud Gultom, Rp300.000,000,00, Purboyo yang yang telah dikerangkeng pada Selasa (01/12/2015) sebesar Rp1.890.000.000,00, Ali S.AG Rp1.638.000.000,00,-  H. Arwan Mahidin Rani senilai Rp1. 665.000,000,00,-

Jamal Abddilah yang sudah berstatus Terdakwa sebesar Rp29. 555.000,000, 00,- Rosmawati Florentina, AMd senilai Rp1.110.000.000,00,- Darmizal S.Ag M.Si senilai Rp1. 590.000. 000,00, Hj. Mira Roza Rp1.225.000,000,00,- Hidayat Tagor Nasution yang baru dikerangkeng juga oleh Polda Riau, sebesar Rp3.330.000.000,00,- H. Yudhi Feryantoro senilai Rp1. 680.000.000,00,- H. Abdul Rahman Jantan SH, Rp1.645.00.000,00,-  M Tarmizi yang baru dikeramgkeng juga sebesar Rp4.155.000.000,00,- Khizaini sebesar Rp2. 950. 000.000,00,- Nanang Haryanto, Rp2. 150.000.000,00,- Dr. Fidel Fuadi sebesar Rp1 .125. 000,000,00,- Sofyan S.Pada senilai Rp1. 610.000. 000,00,-

Kemudian, Suhendri Asnan sebesar Rp4. 250.000.000,00,- Hendri, Sag. Msi, Rp2. 100.00. 000,00, Ir. H. Salfian Daliandi Rp1. 200.000.000, 00,-  Kurniato senilai Rp1. 300.000,000, 00,- Abdul Halim HSB, Sos sebesar Rp1. 500.000.000,00, dan Syafro Maizal SH.MH sebesar Rp1. 555.000.000,00.

Herliyan Saleh yang telah berstatus sebagai tersangka korupsi dana Bansos Bengkalis tersebut sayangnya gagal untuk dihubungi. Bahkan konfirmasi tertulis yang disampaikan Redaksi Berantas sebelumnya pun, tak ado jawaban. (af)

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas