Headlines News :
Home » , » Lagi-Lagi Aparat Kepolisian di Negeri Ini Kembali Merasa Paling Berkuasa, Loper Koran Dipukul Hingga di Ludahi di Mapolsek Tebing Tinggi Barat

Lagi-Lagi Aparat Kepolisian di Negeri Ini Kembali Merasa Paling Berkuasa, Loper Koran Dipukul Hingga di Ludahi di Mapolsek Tebing Tinggi Barat

Written By Anonymous on Thursday, November 12, 2015 | 10:59:00 PM

HARIANBERANTAS, SELATPANJANG  – Seorang loper koran di Selatpanjang, menjadi korban salah tangkap aparat Polsek Tebing Tinggi Barat. Ia disiksa dan diludahi. Setelah pasti ia tak bersalah, korban dibujuk dengan uang Rp50 ribu.

Loper koran Khairullah (30) warga Jalan Rintis, Selatpanjang Selatan, Kepulauan Meranti, Rabu (11/11/15) kemarin menjadi korban salah tangkap pihak Polsek Tebing Tinggi Barat.

Korban yang juga merupakan tukang ojek ini mengatakan, mendapat penyiksaan dalam penahanan dari sekitar pukul 15:00 sampai terbukti tidak bersalah sekitar pukul 19:00 WIB di Mapolsek Tebingtinggi Barat.

Diceritakan Khairul, kejadian itu bermula saat ia ditelpon oleh seorang wanita yang meminta diantarkan ojek. Lalu Khairul datang menjemput di Kedai Kopi Valentine di Sungai Juling, Selatpanjang. Namun setelah tiba di sana, telah ada polisi sekitar 5 orang lalu menahan dan mengintrogasi dirinya terkait pencurian.

Merasa tidak melakukan apa-apa, dia tidak mengaku. Lalu anggota tersebut langsung membawanya ke rumah seseorang bernama In di Jalan Dorak. Di rumah tersebut juga sudah ada orang yang bernama Herman yang menuduh korban telah melakukan pencurian.

Setelah dikonfrontasi antara korban, In dan Herman, meski tetap tidak mengaku, korban langsung diborgol dan dipukuli dengan helm agar mengaku. Tidak lama kemudian korban bersama dua orang lainnya dibawa menggunakan motor ke Kantor Polsek Tebingtinggi Barat di Desa Alai.

"Selama di motor saya ditodong pistol di bagian pantat, dimaki-maki dan terus dipaksa untuk mengaku telah mencuri," ujarnya kepada sejumlah awak media, Kamis (12/11/15) tadi.

Karena masih belum mengaku, korban disetengahtelanjangi dengan tangan terborgol. Kemudian para oknum pengayom masyarakat itu terus memukul dengan berbagai cara. Mulai dari menggunakan lutut, siku, kayu, dan kaki kursi ke bagian dada, punggung, serta bibir.

"Sampai kini dada dan punggung saya sakit dan sedikit memar. Bibir saya pecah akibat dipukul. Saya sudah minta tolong, 'ampun pak, saya tidak pernah mencuri, saya cuma bekerja sebagai loper pak'," tuturnya.

Setelah menahan pukulan yang bertubi-tubi dari anggota Polsek Tebingtinggi Barat itu, korban sempat diludahi oleh seorang polisi yang diduga Kapolsek, Ipda Asril.

"Kau sudah bikin kelaku dan lindungi pencuri, tak ngaku juga lagi," kata korban meniru kata-kata Ipda Asril. "Lalu dia langsung meludah ke arah wajah saya," sebutnya lagi.

Bahkan saat disiksa tersebut, Kapolsek sempat mengatakan bahwa mereka mengetahui kalau Khairul tersangka pencurian dari seorang bomo (dukun, red) di Desa Sesap. Dimana, wajah korban muncul di dalam ember yang berisi air dan mantra sang bomo.

"Hebat bomo kami sudah dapat tersangkanya," ucap Khairul menirukan kata-kata Kapolsek Asril. Setelah beberapa jam diintrogasi, akhirnya dua tersangka lagi yang bernama In dan Herman itu mengaku kalau si korban tidak terlibat.

Baru setelah itu, Kapolsek memerintah anggotanya untuk melepas borgol dan menyuruh korban memakai kembali celananya.

Terakhir kata Khairul ia menyunguhinya uang Rp50 ribu dan setelah pulang melarang persoalan ini dibeberkan serta menyuruh korban bekerja seperti biasa.

Kejadian ini sudah dilaporkan korban didampingi sejumlah simpatisan dari wartawan ke pihak Provos Polres Meranti.***(rud/rafi) 
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas