Headlines News :
Home » , » Kepala Puskesmas Kubu Ditetapkan Tersangka Terkait Penyalahgunaan DAK

Kepala Puskesmas Kubu Ditetapkan Tersangka Terkait Penyalahgunaan DAK

Written By Anonymous on Wednesday, November 11, 2015 | 10:43:00 PM

HARIANBERANTAS, ROHIL - Bidang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) jajaran Polres Rokan Hilir (Rohil), menetapkan kepala Puskesmas Rantau Panjang Kiri, Kecamatan Kubu berinisial JBT sebagai tersangka dalam kasus penyalahgunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Rohil tahun anggaran 2012. 

Kapolres Rohil, AKBP Subiantoro

Penetapan tersangka setelah melalui proses penyidikan dan penyelidikan panjang. "Ya, Kepala Puskesmas itu telah kita tetapkan sebagai tersangka. Sebab, sekarang kasusnya sudah P21, dan sekarang telah kita limpahkan ke tahap II ke Kejaksaan negeri (Kejari) Rokan Hilir,"ungkap Kapolres Rohil, AKBP Subiantoro, melalui Kasat Reskrim Polres Rohil, AKP Eka Ariandy Putra, Rabu (11/11/2015) sekitar pukul 08:30WIB melalui henpone selulernya.

Kasat menjelaskan, barang bukti berupa peralatan untuk alat kesehatan berupa kateter, alat jarum suntik, albokat dan lain-lain, serta tersangka telah dibawa ke Kejari Rohil. "Tersangka diantar bersama BB oleh Kanit Tipikor IPDA Yuliardi SH,"jelasnya.

Terang Kasat, bahwa pada tahun 2012 lalu, Puskesmas Kubu mendapat alokasi dana sebesar Rp173.483.856, yang bersumber dari DAK Dinas Kesehatan Kabupten Rohil. Untuk pengadaan peralatan bahan habis pakai peralatan Puskesmas.

"Berdasarkan keterangan medis dan kepala gudang/farmasi di Puskesmas Rantau Panjang Kiri, bahwa barang habis pakai peralatan PONED tersebut tidak pernah diserahkan tersangka Job Tarigan kepada petugas farmasi," jelasnya.

Barang habis pakai Puskesmas PONED tahun 2012 tersebut, tidak pernah dipakai sama sekali untuk pelayanan kesehatan di Puskesmas. Menurutnya, pada 14 November 2014 kemarin tersangka JBT telah tertangkap tangan mengembalikan barang habis pakai PONED yang diduga di jual ke apotik Tangan Mas .

"Hanya saja, pihak Apotik mengatakan, barang itu bukan dibeli mereka, melainkan di titipkan tersangka," jelas Eka. Untuk itu, lanjut Eka, pihak apotik tidak bisa diminta pertanggungjawab hal tersebut.

Namun, tersangka JBT sebagai kepala Puskesmas dan sekaligus penanggung jawab seluruh barang. Maka, tersangka JBT saja yang dijadikan tersangka. Untuk pihak lain menurut Kasat, dalam kasus ini masih dijadikan sebagai saksi.

Ditambahkan, berdasarkan pengecekan sisa barang habis pakai peralatan PONED pada 27 Februari 2015 (sesuai berita acara perhitungan barang sisa PONED Puskesmas), menyatakan bahwa sisa barang PONED hanya Rp32.947.530 dari Rp173.363.856.

"Artinya, barang yang tidak ada pertanggungjawabanya adalah Rp140.536.326,"terang Eka.

Dikatakan Eka, barang PONED itu dikembalikan sebanyak 14 kotak, dan jika dinilai dengan uang, maka totalnya Rp.50.188.600.Namun, perbuatan pengembalian barang PONED yang sudah berselang lebih kurang 4 bulan, tidak menghapuskan perbuatan pidana.

Eka menegaskan, tersangka bisa dijerat dengan pasal 2 ayat 1 jo pasal 3 jo pasal 10 huruf a UU Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999, tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Tersangka bisa terancam hukuman 2 sampai 7 tahun penjara," tandasnya. (Jumaris)

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas