Headlines News :
Home » , , » Pembelaan Dua Terdakwa Kasus Rekayasa: JPU Lelah Menjalani Proses Persidangan

Pembelaan Dua Terdakwa Kasus Rekayasa: JPU Lelah Menjalani Proses Persidangan

Written By Harian Berantas on Thursday, October 15, 2015 | 3:48:00 AM

HARIANBERANTAS, PEKANBARU - Selasa (13/10/15), Rekayasa kasus penganiayaan yang diduga dilakukan oleh Arianto Selamat Laia dan Temazaro Laia, kini memasuki tahap pembelaan. Dalam persidangan kali ini, dua terdakwa kasus rekayasa membacakan pembelaan yang pada pokoknya menyatakan bahwa Arianto Selamat dan Temazaro Laia tidak melakukan serangkaian perbuatan, sebagaimana yang dituduhkan oleh Jaksa Penuntut Umum. 

JPU, tampak lelah hingga mengipasnya yang berkeringat dengan kertas didalam persidangan.

Pledoi yang disusun oleh Pembina Media Berantas, Fag Zega bersama Pimpinan Redaksi Media Cetak Berantas, Toro, dibacakan oleh Terdawa I Temazaro Laia. Di dalam pembelaannya, dua terdakwa menyatakan bahwa kasus Arianto S dan Tema ini merupakan suatu kasus yang direkayasa. 
Lebih lanjut, kedua terdakwa yang dibacakan oleh Tema Laia menyebutkan bahwa adanya rekayasa kasus ini menjelaskan, berawal  manisnya tutur kata dari pelapor Yutilia Hulu ditambah yang berpura-pura agar yang benar menjadi tidak terang, supaya penerapan hukum yang bagus menjadi buta.

Demikian pula ditingkat Kejaksaan Penuntut Umum di dalam BAP-nya yang dinilai ditambah oleh penyidik dari Kepolisian untuk meyakinkan JPU agar mengambil bagian didalamnya, sehingga sumpah jabatan mereka dilupakan. Namun yang didapat adalah sumpah serapah.

Selain itu, terdakwa juga menyebutkan di dalam pembelaannya bahwa dalam proses penyidikan kepada mereka, telah mengalami kekerasan intervensi dan di diskriminasi yang dilakukan oleh penyidik.

Di samping itu, dalam pembelaan kedua terdakwa kasus dugaan rekayasa tersebut, menyampaikan bahwa saksi pelapor Yutilia Hulu, bernama Irson Aprianto yang termuat didalam tuntutan JPU, saksi yang tidak pernah menjadi saksi di dalam persidangan.

Tapi aneh bin ajaib, penambahan saksi pelapor Yutilia Hulu bernama Irson Aprianto tersebut adalah dikarang-karang oleh JPU, T. Harly Mulyatie, SH supaya kedua terdakwa (korban), tetap dijerat hukum.

Bahkan kedua terdakwa pun di dalam pembelaannya mengungkapkan, melihat dakwaan Jaksa dengan menggunakan pasal 170 ayat (1) KUHP atau pasal 351 ayat (1) Jo pasal 55 ayat (1) KUHPidana, diketahui dakwaa JPU tersebut berbentuknya alternatif. Karena JPU sangat ragu bahwa tuduhan perbuatan ke dua terdakwa benar melakukan atau tidak melakukan, dan atau ke dua terdakwalah yang korban penganiayaan.

Kemudian, keterangan saksi lainnya yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum dalam sidang pembuktian adalah testimonium de auditu. Testimonium de auditu adalah suatu keterangan saksi yang tidak pernah mengalami, mendengar, dan melihat peristiwa pidana secara langsung, dan tidak memiliki nilai pembuktian.

Selain masalah keterangan saksi yang sifatnya testimonium de auditu, kedua terdakwa menyampaikan juga bahwa ada prinsip keseimbangan dalam KUHAP yang dilanggar oleh Jaksa Penuntut Umum dengan tidak menghadirkan saksi di persidangan dengan alasan yang tidak jelas. 
Sebagaimana yang telah diketahui, dalam persidangan sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum menghadirkan dua orang saksi yang sengaja direkayasa yaitu bernama Asania Hulu, Melina Buulolo alias Mama Pian yang nama asli mereka dipelintir. Karena kedua saksi yang dihadirkan JPU, saksi yang tidak ada pada saat kejadian.

Kemudian, didalam persidangan terungkap, dua saksi yang dihadirkan JPU telah memberikan keterangan bohong kepada majelis hakim.

Toro abang kandung kedua terdakwa dalam pembelaan menyatakan Jaksa Penuntut Umum sudah lelah dengan proses persidangan. Hal ini dikarenakan, Jaksa Penuntut Umum selalu menyatakan hal-hal yang memberatkan Terdakwa sepanjang persidangan. 

Memang Jaksa Penuntut Umum dalam persidangan selalu memojokkan dan mengintervensi para Terdakwa baik dalam penuntutan maupun dalam pembuktian. Bahkan JPU, T. Harly Mulyatie, SH yang biadap itu dalam persidangan sebelumnya sangat keras melakukan intervensi kepada Arianto Selamat Laia yang tak tau menahu persoalan yang direkayasa pelapor Yutilia Hulu itu. 

Bahkan JPU sampai-sampai menyinggung kalau isteri Terdakwa Arianto Selamat Laia tidak selamat karena sedang hamil muda.

“Isteri kamu yang hamil diluar sana itu, nantinya tidak selamat bila kamu berbohong dan tidak jujur menjawab saya didalam persidangan ini. Karena dari wajah kamu saja, sudah nampak, ucap JPU yang tidak bermoral ini.

Toro, Pemred Media Berantas, yang telah dua kali berturut-turut ini mendapat piagam penghargaan dari Kejaksaan, karena berhasil memberikan proses penegakkan hukum yang benar dan keterbukaan informasi publik di tingkat Kejaksaan, sangat geram dengan sikap JPU, T. Harly Mulyatie SH yang telah terbukti mengadobsi orang sebagai saksi yang tidak mengetahui sama sekali peristiwa perkara yang sebenarnya.

Bahkan Pimpinan Redaksi media cetak Berantas situs harianberantas.co.id ini berjanji akan tetap memperjuangkan nasib kedua adik kandungnya yang sengaja dikorbankan oleh hukum mulai dari tingkat Kepolisian sampai tingkat Kejaksaan.

Bukan itu saja, JPU, T. Harly Mulyatie SH ini perlu diberi pelajaran untuk dilaporkan ke Jamwas maupun ke Jaksa Agung. Supaya pihak yang lain atau masyarakat yang mengalami perkara lain jangan menjadi korbannya JPU yang satu ini. 

“JPU dalam perkara ke dua adek kandung saya itu memang sudah keterlaluan. Bahkan empat tahun yang lalu, ada satu perkara lain yang sampai sekarang sudah dibungkus olehnya. Dan perkara itu belum dilimpahkannya ke tingkat pengadilan.  Mungkin melalui perkara yang direkayasa kepada saudara-saudara saya ini pintu masuk untuk memberikan pelajaran buat JPU yang dinilai sengaja memihak pada perkara” ujar Toro di PN Pekanbaru, Selasa (13/10).

Di akhir pembacaan pledoi, Jaksa Penuntut Umum langsung menanggapi pembelaan kedua terdakwa yang pada pokoknya Jaksa Penuntut Umum tetap bertanggungjawab pada dakwaan dan tuntutannya. 
Rekan dan keluarga terdakwa pun juga langsung menanggapi yang juga tetap pada pembelaannya. Kemudian sidang akan dilanjutkan pada hari Selasa tanggal 20 Oktober 2015 dengan agenda pembacaan putusan.

Sebagai catatan, Jaksa Penuntut Umum menuntut ke dua terdawa “Temazaro Laia” dan “Arianto Selamat Laia” 2 (dua) tahun penjara atas tindak pidana penganiayaan, dikurangi selama Terdakwa berada dalam tahanan. Semoga dalam pembacaan putusan nanti, Majelis Hakim dapat bertindak adil dalam menjatuhkan putusan terhadap kasus dugaan rekayasa dari pelapor Yutilia Hulu.

Usai pembacaan pledoi, dihadapan sejumlah awak media, JPU T. Harly Mulyatie SH, datang dari ruang sidang, menemuai rekan dan keluarga terdakwa didepan ruangan persidangan meminta maaf. 
“Saya minta maaf pak. saya sudah salah karena yang tertulis dalam dakwaan itu kemaren salinan perkara orang lain” ujar Harly Mulyatie SH.

Ketika dikonfirmasi Wartawan, jangan gitulah pertanyaannya. Kami aja kalau berbicara dengan Bapak ini, bagus. Masak seperti itu pertanyaannya ke saya? tanya JPU yang tampak lelah menjalani proses persidangan.

Satu hari sebelum pembelaan tersebut dibacakan Terdakwa di dalam persidangan di PN Pekanbaru, sejumlah awak media menemui Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, Susdiyarto Agus Praptono, SH.MH.

Melalui Kasipenkum, Mukhzan, SH.MH kepada Wartawan diruangan kerjanya mengatakan, dilapor saja JPU-nya yang kurang memiliki kehati-hatian dalam berkas perkara yang dikirim penyidik Polisi. Apalagi kalau sudah ada bukti seperti itu yang didalamnya Jaksanya terkesan bermain, ya....dilaporkan saja. Itu tak masalah, cetus Mukhzan, Senin (12/10) siang.

Sebelumnya juga, Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru, Edi Birto SH.MH, mengatakan, seharusnya dalam perkara di Polsek Rumbai seperti ini, pelaku Yutilia Hulu dan kawan-kawannya itu, harus ditahan juga sama Polisi. Namun demikian, coba ditemui saja JPU yang menangani perkara ini nantinya, biar JPU-nya tahu juga, saran Edi.

Sementara, keluarga terdakwa (korban) yang selalau didampingi awak media ini, ketika menemui JPU, T. Harly Mulyatie SH dua kali dalam hal menjelaskan serta menyerahkan bukti-bukti rekayasa perkara di Polsek Rumbai yang dilakukan pelapor Yutilia Hulu, justeru JPU semakin menuntut para terdakwa untuk dihukum selama dua (2) tahun penjara. (Andi/Ismail).

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas