Headlines News :
Home » , , , » Diduga Berkolaborasi Dengan Perusahaan, LSM Minta Aparat Hukum Tangkap Kadishutbun Siak

Diduga Berkolaborasi Dengan Perusahaan, LSM Minta Aparat Hukum Tangkap Kadishutbun Siak

Written By Harian Berantas on Saturday, October 10, 2015 | 8:30:00 AM

HARIANBERANTAS, SIAK- Pemicu kerusakan hutan kawasan Biosver Giam Siak Kecil Bukit Batu yang masuk dalam wilayah Kabupaten Siak Provinsi Riau, diduga Dishutbun Siak berkolaborasi dengan perusahaan maupun cukong mafia Ilegal loging. 

Kawasan Biosver Giam Siak Kecil Bukit Batu wilayah Kabupaten Siak yang dibabat secara mebabi buta

Kawasan Biosver Giam Siak Kecil Bukit Batu, pada masa kepemimpinan Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono, Indonesia sudah mendapatkan penghargaan dari dunia yaitu Younesco. Karena Giam Siak Kecil Bukit Batu harus dijaga dan dilestarikan karena merupakan paru-paru dunia untuk mengatasi terjadinya pemanasan global.

Ketika tim investigasi gabungan dari media (Berantas-red), bersama dengan LSM KPFI-RI dan LSM PLPR DPD Kabupaten Siak, dibawah pimpinan Azis Santorian dan Alumi Z Wrw, Sekjen LSM KPFI-RI, melakukan investigasi di hutan kawasan Biosver Giam di Tasik Air Hitam tepatnya pada hari Selasa 2/6/2015) yang lalu.

Dari penelusuran dan pengamatan dalam kawasan Tasik Air Hitam tersebut, tim menemukan tumpukan kayu yang sudah jadi balok tim tanpa bertuan dilokasi yang berdiameter dari 40 cm-60 cm, ratusan tual.
Diduga kuat kayu balak tim tersebut hasil pembalakan Ilegal loging dalam areal hutan Kawasan Biosver Giam yang diduga kuat dilakukan cukong mafia besar di Kabupaten Siak- Riau.

Fatalnya lagi, dalam kawasan Biosver Giam tersebut tim menemukan salah satu perusahaan perkebunan hutan tanaman industri (HTI) yang sudah jadi kebun akasia yang bersepadan dengan areal hutan lokasi kawasan Tasik Air Hitam, dengan jarak ratusan meter tempat, di temukan tumpukan kayu balok tim yang letaknya di dalam Tasik Air Hitam, serta terdapat nama perusahaan pada papan pamplet kebun akasia yaitu, PT. Balai Kayang Mandiri (BKM).

Selanjutnya, Minggu 7/6/2015 Wartawan media ini bersama tim LSM, melanjutkan investigasi dalam hutan kawasan Biosver Giam di Tasik Pesingin yang melewati Kampung Tumang Kecamatan Siak dengan melintasi kantor sektor PT. Balai Kayang Mandiri, dengan tempuh waktu lebih kurang 30 menit perjalanan kaki mulai dari perbatasan sepadan kebun akasia dengan Tasik Pesingin. Ternyata dilapangan sama percis kejadiannya di Tasik Air Hitam. Dimana kawasan tersebut diduga bekas pembalakan Ilegal loging, karena dalam kawasan, tidak begitu ada kayu besar yang melainkan sisa atau bekas tunggul tebangan kayu. 

Dan di dalam kawasan tersebut, diduga kuat telah terjadi pembohongan dan pembodohan kepada public. Tampak pamplet perusahaan HTI PT. Balai Kayang Mandiri (BKM) dihutan belukar yang bertuliskan "AREAL MORATORIUM PT. BKM DILARANG MENEBANG" akan tetapi, kayu yang dahulunya kayu yang memiliki ukuran besar, sudah tidak ada lagi.

Dari beberapa tempat lokasi baik yang masih hutan maupun yang sudah ada tanaman akasia, yang tidak seberapa jauh dari titik lokasi bibir Tasik Pesingin, ketika di croscek mengambil titik koordinat oleh tim investigasi, diduga kuat areal PT. Balai Kayang Mandiri telah masuk dalam Kawasan Zona inti Giam.
Kedua aktifis tim LSM, Azis Santorian bersama Alumi Wrw kepada Wartawan di lokasi mengatakan "Dishutbun Kabupaten Siak dan Balai Besar Konservasi Sumber daya Alam (BKSDA) Propinsi Riau dengan segera mungkin kita melaporkan kembali kinerja mereka kepada Menteri Kehutanan, Mabes Polri dan KPK, guna susulan laporan kita dari LSM sebelumnya.

Sebab kerusakan hutan kawasan Biosver Giam ini, diduga pihak perusahaan HTI telah melakukan perambahan sampai ke zona inti. Apalagi terkait adanya bekas pembalakan Ilegal loging dalam hutan kawasan Biosver ini, dimana pengawasan Instansi terkait selama ini?? Karena menjaga, melestarikan, dan penataan kawasan adalah fungsi tugas instansi terkait yang ada di Pemkab Siak" pungkas kedua aktifis ini.
Menurut tim LSM KPFI-RI dan LSM PLPR DPD Kabupaten Siak terkait pengusiran masyarakat tani yang ada di kampung 40, yang sedang menjadi kasus isu Nasional saat ini yang dilakukan oleh Dishutbun Siak, dan juga BKSDA yang sudah melaporkan masyarakat ke Mapolres Siak, yang menuding masyarakat telah merambah hutan kawasan Biosver Giam Siak Kecil Bukit Batu tersebut, kedua Instansi ini terlalu gegabah dan arogan kemungkinan besar hanya menutupi kebobrokan atas kesalahan dan kelalaian kinerjanya Dishutbun dan BKSDA yang diduga sengaja melindungi pihak perusahaan dan cukong mafia Ilegal loging. "tambahnya"

Dari pantauan media ini terkait persengketaan wilayah dimana kampung Tasik Betung Kecamatan Sungai Mandau Kabupaten Siak mengklaim kalau areal yang diduduki petani kampung 40 (gelar nama kampung kecilnya), wilayah mereka. Sedangkan masyarakat yang berada di kampung tersebut saat ini sebagian besar masyarakat petani dari Dusun Kolam Hijau Kampung Buantan Besar Kecamatan Siak dan sebagian kecil petani asal kampung Tasik Betung Kecamatan Sungai Mandau dan petani dari Kecamatan Bunga Raya-Siak.

Sedangkan keberadan pemukiman masyarakat Kampung Tapsel dan Kampung 40, saat di ambil titik koordinat oleh tim LSM, yang dimulai dari pemukiman masyakat kampung Tapsel lebih kurang 5,875 Km diambil titik lurus mengarah ke Barat, baru jumpa Zona inti Giam. Dan dari pemukiman masyarakat kampung 40, lebih kurang 4 kilo meter baru ditemukan Zona inti Giam diambil titik lurus mengarah ke bagian Barat. Sedangkan pengakuan dari masyarakat petani kedua Kampung tersebut lebih kurang hanya sekitar 3 kilo meter dari pemukiman masyarakat.

Atas kekeliruan dan kerancauan tersebut, diduga kuat Dishutbun Kabupaten Siak bersama BKSA, telah melakukan pembohongan untuk memanipulasi untuk pergeseran titik koordinat Zona inti Giam yang seolah-olah  areal yang digarap masyarakat telah merambah Zona inti Giam tersebut.

Ketua LSM PLPR, Azis Santorian, bersama Sekjen LSM KPFI-RI "Alumi Z Wrw mengatakan, terkait persengketaan wilayah yang sudah diduduki masyarakat petani kampung 40 Dusun Kolam Hijau kampung Buantan Besar Kecamatan Siak yang diklaim oleh kampung Tasik Betung Kecatan Sungai Mandau, tidak didasari oleh Peraturan Daerah yang belum ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Siak, dimana sampai saat ini Peta Tata Ruang wilayah Kabupaten Siak yang baru belum ada ketetapannya.

Tuduhan Dishutbun Kabupaten Siak kepada masyarakat petani, tidak sesuai fakta lapangan. Sedangkan sudah jelas-jelas ada salah satu perusahaan diantaranya PT. Balai Kayang Mandiri yang sepadan langsung dengan hutan kawasan Biosver zona inti Giam dan juga telah terjadinya dugaan pembalakan Ilegal Loging pada hutan kawasan Biosver Giam itu, tidak pernah diungkit masalah tersebut oleh Dishutbun Siak maupun BKSD Provinsi Riau.

Justru demikian Dishutbun Siak sudah kita laporkan ke KPK, ke Presiden RI dan Komnas HAM RI beberapa waktu lalu.

Karena perilaku Dishutbun Siak ini, dengan sewenang-wenangnya mengusir masyarakat tani supaya meninggalkan tempat tinggal dan areal kebun yang sudah di garap sejak tahun 2008 silam.
“Laporan kami dari LSM sudah ditanggapi dengan sesegera mungkin snstansi terkait pasti diproses oleh penegak hukum”, ujar kedua aktifis.

Menurut keterangan masyarakat tani kampung 40 salah satunya Usman kepada Berantas mengatakan "kami masyarakat di kampung ini sudah membuka ladang sejak tahun 2008 yang lalu. Hutan yang kami garap, hutan yang didalamnya tidak ada kayu besar. Namun yang tinggal itu hanya kayu kecil yang disertai semak belukar.

Dan lagi, tidak kami temukan tanda-tanda bahwa hutan yang kami kerjakan adalah hutan kawasan Biosver Giam Siak Kecil Bukit Batu. Karena sejak awalnya kami bekerja di areal ini, tidak ada larangan atau himbauan dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Siak. Nah, kenapa baru sekarang, areal yang kami garap ini pihak Dishutbun Siak dengan sembarangan mengklaim areal yang kami garap ini milik harta nenek moyangnya dia, geram Usman.

Dari berbagai sumber yang dihimpun media ini dilapangan, di dapat informasi bila areal yang digarap masyarakat saat ini adalah bekas pengambilan kayu alam yang diduga dari sebuah perusahaan di areal tersebut yang berakhir aktifitasnya sekitar akhir tahun 2007 yang lalu.

Menyikapi hal ini, Kadishutbun Siak, Teten Efendi, ketika dikonfirmasi Berantas belum lama ini dikantornya, mengelak dari kejaran wawancara. Demikian juga saat tim Kadishutbun Siak, Teten Efendi yang didampingi Fauzi Asni selaku Asisten I Pemda Siak bersama Kabag Pertanahan dan anggota Kepolisian, TNI dan para Camat serta para kepala Kampung, saat menyampaikan surat pemberitahuan kepada masyarakat, ketika hendak dikonfirmasi beberapa awak media, Kadisutbun Siak ini, tidak bersedia untuk memberikan informasi dan enggan mau di wawancara oleh (Bambang/Az)     
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas