Headlines News :
Home » , , , » Kasus Dugaan Rekayasa di Polsek Rumbai, Keluarga Sebut Dakwaan Banyak Kejanggalan

Kasus Dugaan Rekayasa di Polsek Rumbai, Keluarga Sebut Dakwaan Banyak Kejanggalan

Written By Harian Berantas on Wednesday, September 9, 2015 | 7:57:00 AM

HARIANBERANTAS, PEKANBARU - Toro, abang kandung dua korban kasus dugaan rekayasa di Polsek Rumbai, Jl. Km 17 Kelurahan Muara Fajar Kecamatan Rumbai, merasa keberatan dengan dakwaan yang akan dibaca Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Pekanbaru di Pengadilan Negeri Pekanbaru Propinsi Riau, Kamis (10/09/2015). 

                                                    Dok : Polsek Rumbai - Pekanbaru
 
Dalam surat dakwaan No. Reg.Perkara:PDM-50/PEKAN/08/2015 tanggal 18 Agustus 2014 yang seharusnya tahun 2015 itu, JPU mendakwa kedua korban kasus dugaan rekayasa, Arianto Selamat dan Temazaro Laia tersebut dalam pasal 351 ayat (1) jo pasal 55 ayat 1 KUH Pidana.

"Sangat banyak kejanggalan seperti menyatakan bahwa terdakwa 1 Temazaro Laia, ada emosi sebelumnya dan melarang agar saksi korban tidak menjemur dihalaman pekarangan abangnya. Pada hal peristiwa sebenarnya, ketika terdakwa 1 Temazaro meminta agar anak kandung pelapor/pelaku (Yutilia Hulu) yang merekayasa peristiwa diminta oleh Temazaro (terdakwa) supaya pakaian yang ada dijemuran dapat dipindah tempatkan, karena takut kotor dengan kikisan tanah dan semak saat lokasi bangunan rumah yang mau dibangun di sekitar itu. Itupun, jemuran tersebut berada disamping rumah pelapor (Yutilia Hulu) sendiri, bukan dipekarangan rumah abang kandung terdakwa (Temazaro). Artinya, pihak Polsek Rumbai Pekanbaru dalam menangani perkara ini, tidak pernah olah TKP dan gelar perkara dari awal.

Namun, pelapor (Yutilia Hulu) ini ketika diberitahu oleh anak kandungnya sendiri yang masih kecil, malah ngomel mulai dari pagi sampai sore Selasa (09/06/2015), lalu mengundang saudara-saudara atau keluarganya dari Km 17 Muara Fajar datang ke TKP di Km 22 Kelurahan Muara Fajar, menganiaya terdakwa.

Kejanggalan lainnya,  yang menyatakan terdakwa 1 (satu), Temazaro Laia, akan memukul saksi korban dan korbanpun langsung menyandarkan tangan korban memegang pergelangan tangan kanan terdakwa 1, kemudian terdakwa satu langsung mengambil sepotong kayu yang ada didekatnya dan langsung memukul punggung korban sebelah kiri. Setelah itu baru datang adek terdakwa satu (1) pak Jose (Arianto Selamat) ada melihat pemukulan tersebut dan langsung menendang bagian pinggang korban satu kali. Sehingga korban terjatuh dan sempat berdiri berteriak minta tolong, katanya.

Sangat biadab memang kecam Toro, padahal pelaku/pelapor ini, Yutilia Hulu yang pandai bersilat lidah memutar balik fakta peristiwa sebenarnya, yang memukul Temazaro (korban) dengan menggunakan papan pecah dan suaminya Ama Riani yang telah menunggu  (Temazaro) disamping bedeng batu bata, memukul perut terdakwa satu (1) dengan tumpukan tinju tangannya sampai terdakwa jatuh ke tanah. Lalu, ama Devi Hulu adek kandung Yutilia Hulu dengan bersama-sama anak-anak kandungnya Yutilia Hulu dan keluarga lainnya menganiayai Temazaro (terdakwa).

Seandainya, adek kandung terdakwa satu (Temazaro Laia) bernama Arianto Selamat alias pak Jhoseph tidak segera menyelamatkan abang kandungnya korban dari amukan para pelaku kasus rekayasa itu, membawanya ke dalam rumah terdakwa sendiri, justeru entah apa yang lebih diperlakukan para pelaku atau pelapor yang sedang membawa parang, disertai kayu dan batu bata untuk menganiayai korban, Temazaro (terdakwa).

Yang terakhir kata Toro, dalam kasus rekayasa Polisi yang diduga duluan disusun rapi bersama-sama dengan pelaku pengeroyokan kepada Temazaro Laia, justeru Polisi menangkap Arianto Selamat alias pak Jhoseph tanpa syarat pada tanggal 25 Juni 2015 yang lalu.

Bukan itu saja, setelah Arianto Selamat alias pak Jhoseph Laia ini ditangkap di tempat kerja lalu ditahan di rutan Polsek Rumbai Pekanbaru, justeru polisi memalsukan tanda tangan seorang saksi di kantor Polsek Rumbai. "Ini sudah kita buktikan di Pengadilan Negeri Pekanbaru pada bulan Juli 2015 lalu saat kasus rekayasa ini kita Praperadilan. Penyidik perkara di Polsek Rumbai, Afnorio Hadi sudah mengakui perbuatannya saat ditanya Hakim tunggal di PN Pekanbaru, Sorta Ria Neva Siregar, SH.M.Hum. Namun, entah apa yang membuat Hakim, Sorta Ria Neva Siregar, SH.M.Hum yang dibantu oleh Solviati, SH,MH sebagai Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Kota Pekanbaru, sehingga permohonan praperadilan kita sebagai pemohon ketika itu di tolak.," tambahnya.

Toro bilang, kasus ini sengaja direkayasa oleh Polsek Rumbai, karena pihak Polsek Rumbai diduga telah menerima sesuatu dari pelaku/pelapor. Dan sampai saat ini saja, ada lima (5) alat bukti rekayasa perkara yang sengaja dilakukan Polsek Rumbai Pekanbaru. Bahkan pihak Polsek Rumbai menuduh terdakwa satu (Temazaro Laia) ada melaporkan salah seorang warga setempat bernama Bazaro Hia alias ama Resi Hia.

Makanya dia (Toro-red), sampai akhirat dunia pun, pihaknya tetap menuntut Polsek Rumbai Pekanbaru yang sengaja membuat nama baik keluarga besarnya cacat seumur hidup. Ini merupakan ego Polsek Rumbai layaknya bagaikan preman bersenjata.

Empat dan lima hari setelah kedua orang saudara kandung saya itu ditangkap dan ditahan tanpa syarat oleh pihak Polsek Rumbai Pekanbaru, atau tepatnya pada tanggal 30 dan 31 Juni 2015, Kanit Reskrim Polsek Rumbai, AIPDA ST. Sihaloho dengan NRP 68040476 yang terlihat kebakaran jenggot karena pihak keluarga telah memperoleh bukti-bukti rekayasa Polisi, keburu meminta orang tertua yang ada disekitar wilayah hukum Polsek Rumbai supaya masalah rekayasa kasusnya itu didamaikan secara kekeluargaan.

“Makanya sampai detik ini, kami dari pihak keluarga korban kasus rekayasa Polri itu santai saja. Walaupun kedua saudara kami itu nantinya dijatuhkan pidana seumur hidup, kami peduli. Karena pelakunya juga adalah aparat hukum itu sendiri.

Asal tahu saja, Temazaro Laia dan Arianto Selamat Laia, didakwa atas tuduhan kasus penganiayaan kepada salah seorang ibu rumah tangga, Yutilia Hulu mantan penjahat dari Kecamatan Gomo dahulunya dan sekarang asal Kecamatan Mazo Kabupaten Nisel-Sumut.

Kemudian, supaya keterangan palsunya tersebut lebih kuat, Polsek Rumbai dengan sengaja melakukan rekayasa nama saksi pelapor/pelaku karena para saksi tersebut diketahui ada hubungan keluarga dengan pelaku/pelapor.

Kasus pemberi keterangan palsu di Polsek Rumbai Pekanbaru tersebut, telah kami laporkan ke Polda Riau beberapa waktu lalu. Sementara kasus keberpihakan dan manipulasi perkara yang dilakukan Polsek Rumbai dalam menangani perkara pidana, juga telah kami laporkan ke Propam Polda Riau, Paminal Polresta Pekanbaru, Kapolri, Divisi Propam Mabes Polri, Biro Provost Mabes Polri, Biro Pengamanan Internal (Paminal) Mabes Polri, Kompolnas, Komnas HAM, dan Komisi III DPR RI.

“Bila tidak ada tindakan dari pimpinan Polri terhadap dugaan pelanggaran oleh Polsek Rumbai ini, maka institusi Polri di negeri ini, mafia dan makelar kasus dalam penegakan hukum, cetus Toro. Dugaan penyimpangan yang terjadi dalam penyidikan Polsek Rumbai yakni, aparat Kepolisian Polsek Rumbai tidak pernah melakukan gelar perkara terkait kasus ini. Polsek Rumbai, diduga menuduh dan memfitnah Temazaro Laia (terdakwa) melaporkan salah seorang warga setempat bernama Bazaro Hia alias ama Resi Hia ke Polsek Rumbai. Dalam bukti tanda terima laporan Polisi yang diberikan kepada pelapor Yutilia Hulu, tertera tanggal pelaporan 09 Juni 2015 sekira pukul 23.30 wib (rekayasa).

Sementara, pelapor rekayasa Yutilia Hulu ini, masih berada di TKP sejak pukul 16.00 wib s/d 22.59 wib ketika perbuatannya bersama dengan teman-temannya (8 0rang) kepada Temazaro hendak dimusyawarahkan secara kekeluargaan oleh warga masyarakat tepatan.

Kemudian, pihak Polsek Rumbai, justeru menangkap dan menahan saksi yang melihat serta turut ikut melerai peristiwa pengeroyokan kepada Temazaro yang dilakukan pelaku/pelapor Yutilia Hulu pada hari Selasa tanggal 09 Juni 2015. Dan surat penangkapan baru diterbitkan setelah korban salah lapor dan salah tangkap (Arianto Selamat Laia) dibawa Polisi ke kantor Polsek Rumbai. Surat penangkapan dan penahanan dititip Polisi melalui ketua RT 03 Kelurahan Muara Fajar Pekanbaru, bukan diantar kepada keluarga yang ditangkap, ditahan yang disertai penuh diskriminasi.

Selanjutnya, penyidik Polsek Rumbai diduga palsukan tanda tangan salah seorang saksi supaya Temazaro dan Arianto Selamat (terdakwa) dianggap telah melakukan kesalahan. Bahkan visum et repertum pelapor rekayasa peristiwa pengeroyokan, sangat membingungkan dan misterius.

Dan pada saat korban peristiwa pengeroyokan (Temazaro Laia) ditahan Polsek Rumbai, saat mendatangi kantor Polsek Rumbai melihat “Arianto Selamat” (Saksi) yang sudah duluan ditahan Polsek Rumbai, Kamis 25 Juni 2015. Namun, Polsek Rumbai melakukan penahanan Temazaro tanpa syarat. Pada hal selain melihat Arianto Selamat (saksi) yang ditahan Kepolisian, Temazaro (korban) hendak mempertanyakan tindaklanjut pengaduan yang dilaporkan ke Polsek Rumbai tanggal 29 April 2015 sekaligus mempertanyakan pelimpahan laporan dari Polresta Pekanbaru ke Polsek Rumbai mengenai pengeroyokan yang dilakukan Yutilia Hulu dkknya tanggal 09 Juni 2015.

Ketika Temazaro (korban) hendak didengar keterangannya oleh penyidik Polsek Rumbai sebagai tersangka, oleh Temazaro (korban), meminta Kanit Polsek Rumbai AIPDA ST. Sihaloho dengan NRP: 68040476, dan penyidik pembantu AIPDA Afnorio Hadi, NRP: 78040177, agar menghadirkan pelapor/Yutilia Hulu Als Ina Riani bersama-sama dengan para saksi-saksi rekayasa tersebut dipertemukan dengan Temazaro di kantor Polsek Rumbai. Namun AIPDA ST. Sihaloho bersama AIPDA Afnorio Hadi, cuek dan menjebloskan korban (Temazaro) dalam tahanan Polisi.

Sementara perbuatan kejahatan yang dilakukan oleh Yutilia Hulu dkk mulai dari peristiwa perkara pencurian dan pengrusakan tanggal 29 April 2015 dengan bukti Surat Tanda Penerimaan Laporan, Nomor: STPL/ 128/IV/2015/RIAU/POLRESTA PKU/SEKTOR RUMBAI, dan perbuatan melawan hukum pada tanggal 09 Juni 2015 dengan bukti Surat Tanda Penerimaan Laporan, Nomor: LP/K/681/VI/2015/SPKT/I POLRESTA, tanggal 10 Juni 2015, sekira pukul 00.45 wib yang telah dilaporkan Temazaro (korban), maupun perbuatannya Yutilia Hulu dkk pada hari yang sama dengan waktu yang berbeda dengan bukti Surat Tanda Penerimaan Laporan Polisi No: POL.STPL/VI/2015/SPKT III/POLRESTA, Tanggal 10 Juni 2015 dalam hal tindak pidana pengrusakan, sampai sekarang ini, tidak ada tindakan hukum yang diambil oleh pihak Polsek Rumbai. Justeru sebaliknya, pengaduan/ laporan ketiga peristiwa yang dilakukan oleh Yutilia Hulu alias Ina Riani dkk, di manipulasi oleh Polsek Rumbai, Dan sampai saat ini, para pelaku kejahatan ini belum diproses dan ditahan.

Berita ini pun diterbitkan, Kapolsek Rumbai AKP Hendrizal Gani, SH.M.Si belum dapat dikonfirmasi. Karena setiap via selulernya dihubungi Wartawan guna konfirmasi, tak pernah diangkat. ***Is***
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas