Headlines News :
Home » , , , , » Dua Saksi Kasus Dugaan Rekayasa di Polsek Rumbai Pekanbaru Bisa Dituntut Karena Berbohong

Dua Saksi Kasus Dugaan Rekayasa di Polsek Rumbai Pekanbaru Bisa Dituntut Karena Berbohong

Written By Harian Berantas on Sunday, September 20, 2015 | 1:27:00 PM

HARIANBERANTAS,PEKANBARU - Toro, abang kandung dua terdakwa kasus dugaan tindak pidana penganiayaan  mengatakan kedua saksi kasus dugaan rekayasa di Kepolisian Sektor Rumbai Km 17 Muara Fajar Pekanbaru yang berbohong bisa dituntut dengan dikenai pasal 242 KUHP.

               Korban dan Dua Saksi yang di Pelintir Polsek Rumbai,saat di ambil-
               sumpah di hadapan Hakim saat Persidangan di PN Pekanbaru 

"Dua saksi kasus dugaan tindak pidana penganiayaan yang diduga dipelintir di Polsek Rumbai yang didatangkan oleh jaksa penuntut terindikasi tidak berkompeten atau tidak obyektif dalam memberikan keterangan. Kondisi demikian sangat dilema dan harus ada upaya hukum untuk memberikan efek jera bagi saksi yang memberi keterangan tidak benar tersebut," kata Toro kepada sejumlah Wartawan di Pengadilan Negeri Pekanbaru, Kamis (17/09).

Kehadiran dua saksi di persidangan sejauh ini menurut Toro memang belum mengikat dengan pengadilan yang artinya, seluruh keterangan peristiwa yang disampaikan semuanya tidak benar atau bohong.

Dan lagi, ke dua saksi di hadapan hakim yang di ketuai, Editirial, SH.MH mengaku tidak bisa berbahasa Indonesia, hingga memakai perjemaah bahasa daerah Nias dalam bahasa Indonesia. Padahal kedua saksi tersebut, mengerti dan bisa berbahasa Indonesia yang benar.

Bukan itu saja kata Toro, seorang diantara dua saksi yang didatangkan jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Pekanbaru, T. Harly Mulyatie SH tersebut, nama atau identitas asli pribadinya dirubah/di rekayasa, seperti saksi Melina Hulu, direkayasa menjadi Melina Buulele. Karena mempunyai hubungan keluarga atau famili dengan pelapor. 

Apa lagi, saksi Melina tersebut tidak ada saat peristiwa ketika terjadi dan mereka mempunyai hubungan keluarga atau famili dengan Yutilia Hulu yaitu saudara sepupu. “Sehingga dengan segampangnya mereka (saksi-red) dapat dipengaruhi menjadi saksi dalam kasus yang direkayasa dalam hal ini korban menjadi tersangka/terdakwa, pelaku menjadi korban," katanya.

Bahkan kasus yang menimpa kedua saudara kandungnya  itu, demikian Toro, berdasarkan yurisprudensi, sebagian saja dari keterangan saksi dinyatakan palsu, cukup alasan menjeratnya dengan pasal 242 KUHP.  "Kuncinya, keyakinan dan ketegasan hakim," katanya.

Dia mengatakan ada unsur-unsur untuk memenuhi jeratan pada pasal 242 KUHP, seperti sengaja memberikan keterangan di bawah sumpah yang tidak benar.

Kemudian, kata dia, keterangan diberikan secara lisan atau tulisan dan keterangan yang diberikan itu bertentangan dengan apa yang dilihat, didengar atau dirasakan, serta mendiamkan kalau keterangannya itu sebenarnya palsu.

"Jika ada satu unsur saja, maka sebenarnya bisa dilakukan upaya hukum untuk para saksi tersebut karena dianggap berbohong atau tidak obyektif," katanya.

Sidang yang dimulai sekira pukul 14.00, Kamis (10/09) siang, hakim ketua Pengadilan Negeri Pekanbaru Editirial, SH.MH dan didampingi hakim anggota, Astriwati SH.MH, Radeheru Kunto Dewo, SH.MH dan panitera pengganti (PP), Nurlismawati, SH.MH, pertama kalinya Yutilia Hulu yang mengaku sebagai korban peristiwa penganiayaan tanggal 09 Juni 2015 lalu itu, mengaku tidak bisa berbahasa Indonesia.

Kemudian, dua saksi yang didatangkan JPU, T. Harly Mulyatie SH dalam persidangan, yaitu saksi pertama, Asania Hulu dan Melina Buulele. Ke dua saksi dihadapan hakim mengaku tidak mengerti bahasa Indonesia serta tidak mempunyai hubungan keluarga dengan Yutilia Hulu alias Ina Riani Hulu.

Hakim ketua, Editirial, SH.MH, menanyakan JPU, perjemah bahasa daerah Nias ke bahasa Indonesia siapa. dan salah seorang yang duduk dibangku tengah ruangan sidang, berdiri dan berjalan maju kedepan sidang menjawab hakim, “Saya juru bahasa mereka ini,” katanya. 

Lalu hakim ketua, meminta KTP asli perjemah bahasa tersebut serta mempersilahkannya untuk duduk dekat Yutilia Hulu dan dua orang saksi yang mengaku saksi korban peristiwa penganiayaan yang dilakukan dua terdakwa.

Sejumlah wartawan yang memantau persidangan, ke dua saksi yang didatangkan JPU, ternyata bisa mengikuti janji dibawah sumpah yang dibacakan oleh hakim dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sempurna. 

Setelah keterangan saksi-saksi perkara tindak pidana penganiayaan ini selesai didengar dalam sidang, hakim ketua melanjutkan sidang berikutnya, Kamis (01/10) dengan agenda mendengar keterangan saksi meringankan ke dua terdakwa. 

Sebelum sidang dimulai,  ke dua saksi yang didatangkan JPU di PN Penkanbaru sempat di teriak-in banyak pihak yang telah duluan datang menunggu untuk menyaksikan keterangan kedua saksi yang disebut-sebut saksi bayaran Yutilia Hulu tersebut.  

“Durhaka kalian dua. Hanya gara-gara uang Rp. 20, 50 ribu, kalian rela memberi keterangan palsu di pengadilan ini”, teriak sejumlah warga yang hadir di PN Pekanbaru.

Melina Buulele yang dicecar beberapa pertanyaan sejumlah awak media usai sidang ditutup hakim, tak banyak berkomentar. “Saya gak tahu itu pak, marga saya memang Hulu. Sama juru bahasa kami tadi itu saja ditanyakan,” sebut Melina menjawab Wartawan dengan bahasa Indonesia yang benar.

Ketika ditanya, benar ibu Melina ada melihat peristiwa tanggal 09 Juni 2015 di Muara Fajar seperti yang ibu jelaskan dalam sidang tadi? “Saya tak ngerti itu pak. sama Aluizaro Hulu juru bahasa kami tadi ditanya, ujar Melina sambil pergi mengikuti Yutilia Hulu menuju tempat parkir PN Pekanbaru.

Sementara, saudara kakek kandung Melina, yaitu pak Rozama Hulu yang ikut serta menyaksikan sidang keterangan saksi di PN Pekanbaru kepada Wartawan dengan tegas mengatakan, saksi Melina Buulele tadi itu, nama aslinya sudah dibohongi. 

“Bukan itu nama asli dia. Tapi, Melina Hulu, bukan Melina Buulele. Dia itu cucu saya. dia dalam masalah ini, hanya dipengaruhi dan disuruh sama Yutilia Hulu tadi” ungkap kakek kedua saksi yang didatangkan JPU tersebut. 

Empat hari yang lalu katanya, saya ini sudah dihubungi oleh mama tirinya Yutilia Hulu, membenarkan kalau masalah yang menimpa orang dua tadi yang sudah ditahan, yang direkayasa oleh ina Riani atau Yutilia Hulu. Saya ini keluarga ibu Yutilia Hulu dan dua orang saksi tadi. Jadi saya tidak memihak kepada siapa-siapa. karena yang salah itu tetap salah dan yang benar tetap benar, jelasnya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), T. Harly Mulyatie SH, saat dikonfirmasi Wartawan, “Masalah itu, sudah sesuai aturan. Saya tergantung didalam berkas penyidik Polsek Rumbai. Dan itu sudah sesuai, tidak ada masalah, katanya.

Menyikapi pernyataan Jaksa Penuntut Umum (JPU), T. Harly Mulyatie SH kepada Wartawan tersebut, Toro saudara kandung ke dua terdakwa dengan ikhlas dan tabah mengatakan, apa yang di sampaikan oleh JPU kepada rekan-rekan Pers. Itu kami hargai dan tidak ada masalah. Yang terpenting dalam persoalan kasus dugaan rekayasa tersebut, JPU-nya hanya tergantung pada berkas yang tersurat dari pihak penyidik Polisi semata. 

“Kami tinggal menunggu putusan pada pengadilan saja. Apabila kebenaran perkara ini bukan berpihak pada para pencari keadilan karena benar, maka dengan hati yang jujur, JPU layak diberi PR ke Jamwas Kejaksaan Agung dan kepada yang lainnya. Sebab sebelumnya, kami telah berupaya menyerahkan bukti-bukti rekayasa perkara yang terjadi ke JPU. Namun JPU tetap memaksa kehendak perkara untuk naik P21 pada tingkat pengadilan, tanpa mengingat sumpah jabatan yang diemban sesuai UU No. 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Negara Republik Indonesia,” kesal Toro.

Dugaan penyimpangan yang terjadi dalam penyidikan Polsek Rumbai, pihak Kepolisian Polsek Rumbai dinilai tidak pernah melakukan gelar perkara terkait kasus ini. Dalam bukti tanda terima laporan Polisi yang diberikan kepada pelapor Yutilia Hulu, tertera waktu pelaporan tanggal 09 Juni 2015 sekira pukul 22.30 wib (rekayasa). 

Sementara, pelapor Yutilia Hulu saat itu, masih berada di TKP sejak pukul 16.00 wib s/d 22.59 wib ketika perbuatannya bersama dengan teman-temannya (8 0rang) kepada Temazaro hendak dimusyawarahkan secara kekeluargaan oleh warga masyarakat sekitar.

Namun pihak Polsek Rumbai, justeru menangkap dan menahan saksi yang melihat, bahkan turut ikut serta melerai peristiwa pengeroyokan kepada Temazaro yang dilakukan pelaku/pelapor Yutilia Hulu pada hari Selasa tanggal 09 Juni 2015;

Kemudian, surat penangkapan baru diterbitkan setelah korban salah lapor dan salah tangkap (Arianto Selamat Laia) tersebut dibawa Polisi ke kantor Polsek Rumbai. Dan surat penangkapan dan penahanan dititip Polisi melalui ketua RT 03 Kelurahan Muara Fajar Pekanbaru yang seharusnya dapat diantar langsung untuk sisampaikan ke pihak keluarga yang ditangkap, ditahan. Visum et repertum pelapor rekayasa peristiwa pengeroyokan ini pun, sangat membingungkan dan misteri;

Dan pada saat korban peristiwa pengeroyokan (Temazaro Laia) ditahan Polsek Rumbai, ketika datang di kantor Polsek Rumbai melihat “Arianto Selamat” (Saksi) yang sudah ditahan Polsek Rumbai, Kamis 25 Juni 2015. Namun, Polsek Rumbai melakukan penahanan Temazaro tanpa syarat. 

Padahal selain melihat Arianto Selamat (saksi) yang ditahan Kepolisian, Temazaro (korban) hendak mempertanyakan tindaklanjut pengaduan yang dilaporkan ke Polsek Rumbai tanggal 29 April 2015 sekaligus mempertanyakan pelimpahan laporan dari Polresta Pekanbaru ke Polsek Rumbai mengenai pengeroyokan yang dilakukan Yutilia Hulu dkknya tanggal 09 Juni 2015. 

Anehnya lagi, saat Temazaro (korban) diminta keterangannya oleh Polsek Rumbai dalam berita acara pemeriksaan (BAP) sebagai tersangka, Temazaro (korban), terlebih dulu meminta Kanit Polsek Rumbai AIPDA ST. Sihaloho dan penyidik pembantu AIPDA Afnorio Hadi, supaya menghadirkan pelapor/Yutilia Hulu Als Ina Riani bersama-sama dengan para saksi-saksi rekayasa Polisi untuk dipertemukan dengan Temazaro di kantor Polsek Rumbai. 

Namun, Kanit, AIPDA ST. Sihaloho bersama AIPDA Afnorio Hadi, cuek dan menjebloskan korban (Temazaro) dalam tahanan Polisi.

Sementara tindakan perbuatan melawan hukum dilakukan Yutilia Hulu dkk mulai dari peristiwa perkara “Pencurian dan Pengrusakan” pada tanggal 29 April 2015 dengan bukti surat tanda penerimaan laporan, No: STPL/128/IV/2015/RIAU/POLRESTA PKU/ SEKTOR RUMBAI, dan perbuatan melawan hukum pada tanggal 09 Juni 2015 dengan bukti Surat Tanda Penerimaan Laporan, Nomor: LP/K/681/VI/2015/SPKT/I POLRESTA tanggal 10 Juni 2015, sekira pukul 00.45 wib yang dilaporkan Temazaro (korban).

Bukan itu saja, dugaan perbuatan “Yutilia Hulu” dkk pada hari yang sama dengan waktu yang berbeda sesuai bukti Surat Tanda Penerimaan Laporan Polisi No: POL.STPL/VI/2015/SPKT III/POLRESTA, Tanggal 10 Juni 2015 mengenai tindak pidana pengrusakan, sampai sekarang ini, tidak ada tanda-tanda tindakan hukum yang diambil oleh pihak Polsek Rumbai (Is)

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas