Headlines News :
Home » , » Sefianus Zai, Diduga Gelapkan Dana Santunan Kematian

Sefianus Zai, Diduga Gelapkan Dana Santunan Kematian

Written By Harian Berantas on Thursday, August 27, 2015 | 1:45:00 PM


Pekanbaru, (Harianberantas.co.id) ----- Terkait dengan kasus dugaan Penggelapan Uang dan Pemalsuan Dokumen (Identitas Korban*red) yang dilakukan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Keluarga Nias Riau (DPD-IKNR) Kota Pekanbaru, Sefianus Zai alias Ama Sasa Zai dan orang suruhannya, Fitaris alias Aris Giawa. Setelah korban melaporkan ke Polisi perbuatan kedua pelaku, merasa semakin terpojok, baru pelaku memohon-mohon agar korban menerima permintaan maaf mereka. 

                  Dok : Sefianus als Ama Sasa Zai saat membacakan catatan rincian pengeluaran serta-
                            sisa dana santunan kematian yang belum diserahkan kepada keluarga korban.

Sesuai dengan informasi, kasus ini berawal saat peristiwa kecelakaan Lalu Lintas di sekitar ruas jalan Simpang Bingung, Palas, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru sekitar bulan Maret lalu. Ketika itu satu keluarga ini dari Pekanbaru, pergi mengendarai Mobil menuju ke arah Muara Fajar-Minas. Alasan korban adalah berhubungan dengan acara keluarga.

Sebelum sampai ke tujuan, korban mengalami kecelakaan “Tunggal” dengan bertabrak pada kayu atau pohon yang ada di pinggiran jalan. Korban diduga mengantuk sehingga kehilangan kendali kendaraan. Atas kejadian itu, dari satu keluarga ini 2 (dua) orang meninggal dunia Ayah (Hendra Laia) dan Anaknya (Ridho Laia), sementara Isteri korban, Marni Lase mengalami luka serius, dan anaknya laki-laki yang masih kecil mengalami patah tulang di bagian kakinya.

Singkat cerita dalam peristiwa ini, Sefianus Zai menguasai urusan terhadap korban dibantu dengan suruhannya, Fitaris Giawa. Sefianus Zai dan Fitaris entah bagaimana caranya, namun keduanya berhasil mengurus Jasa Raharja dengan berkasi seadanya. Sayangnya, upaya kedua pengurus santunan ini, ternyata tidaklah sepenuhnya ikhlas. Karena hampir secara sengaja mereka mencelakai serta melukai perasaan korban.

Proses pencairan dana santunan kematian, tanpa diketahui korban, sebab para pelakunya sudah menguasai seluruh berkas korban. Parahnya lagi, PIN ATM BRI korban bahkan sudah dikuasai pelaku. Hal itu terjadi ketika pelaku membawa korban ke Bank BRI di jalan Tuanku Tambusai.

Saat di Bank, tanpa diketahui korban, pelaku ternyata berhasil mencairkan uang Rp14.000.000 (katanya), dan pelaku beralasan bahwa dana santunan kematian sebesar Rp25.000.000 tidak bisa dicairkan sekaligus oleh Jasa Raharja maupun Bank BRI. Jadi sisa uang itu harus tertahan di Bank dan dilakukan pencairan dikemudian hari. Anehnya, 2 orang yang meninggal dunia, namun hanya satu orang yang mendapat Santunan Kematian.

Dalam proses berjalannya urusan demi urusan, salah satu pelaku yang ketika itu membonceng korban, mengajak korban untuk tidur di Hotel dengan alasan “pelaku sudah ngantuk” dan harus pergi tidur di Hotel. Namun korban berhasil lolos dengan ancaman pelecehan seksual itu. Korban ketika itu, bahkan sempat melompat dari sepeda motor pelaku karena dipaksa pelaku harus pergi ke hotel.

Takut ketahuan dan terjadi apa-apa dengan mereka di jalan, ditambah dengan niat korban akan melompat lagi, akhirnya pelaku memutar balik kendaraannya. Sementara uang korban masih tertahan di tangan pelaku, termasuk buku Bank ATM dan berkasnya. Korban mendesak uang itu diberikan kepadanya, termasuk berkasnya. Namun masih gagal karena Ketua IKNR Kota Pekanbaru Sefianus Zai ini membentak, marah dan mengemop korban hingga memukul meja dengan keras..!

Karena trauma atas perilaku para pelaku yang sempat melakukan percobaan pelecehan seksual, mengajak atau membawa korban membeli sandal tanpa diminta korban. Bahkan, untuk membeli HP korban mengganti yang rusak, untuk memperoleh uang pun sangat sulit karena pelaku tidak mau menyerahkan uang milik korban itu.

Semua ini terungkap saat diadakan pertemuan di rumah salah satu keluarga korban, Minggu (14/06/2015) siang hingga malam. Ketua DPD IKNR Kota Sefianus Zai dinilai tidak transparan dalam menguasai hak korban. Termasuk tidak diungkapkannya saat membentak, mengemop hingga mengancam korban, disusul dengan pemukulan Meja oleh Sefianus Zai di hadapan korban langsung.

Kemudian, Fitaris Giawa juga tidak transparan seperti yang dilakukan Sefianus Zai, karena Fitaris tidak mengungkap saat dia (Fitaris) melakukan ancaman percobaan pelecehan seksual terhadap korban dengan mengajak korban tidur ke Hotel. Termasuk upaya pelaku yang menelpon orang tua korban, agar pelaku diizinkan untuk menikahi korban. Ini juga semua terungkap dalam pertemuan itu saat korban memaparkan seluruh kronologis kejadian.

Atas perbuatan pelaku hingga membuat korban trauma, akhirnya korban melaporkan kejadian itu ke Polresta Pekanbaru, Kamis (28/05/2015) sesuai dengan SP2HP Nomor: B/ 607/VI/2015/Reskrim tanggal 12 Juni 2015 dengan di-dampingi, Maiman Telaumbanua, Faigizaro Zega dan lainnya. Sementara pihak kuasa dari Sefianus Zai dan Fitaris Giawa yaitu, Ama Engel (Pengacara) Lase, Mawardin Telaumbanua dan Toni Zendrato.

Dalam pertemuan penyelesaian secara kekeluargaan itu, juga dihadiri Fag Zega, A. Zega dan Toro Laia. Korban, Marni Lase. Pelaku, Sefianus Zai alias Ama Sasa Zai dan Fitaris alias Aris Giawa. Sefianus berkenan mengembalikan seluruh berkas-berkas korban dengan seadanya dan uang Rp3,6 juta yang disusul dengan permohonan permintaan maaf kepada korban, Marni Lase. (muchtaruddin/beat)

Share this post :

+ comments + 2 comments

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas