Headlines News :
Home » , , » Polda Riau Diminta Jangan Lindungi Perkara Rekayasa di Polsek Rumbai

Polda Riau Diminta Jangan Lindungi Perkara Rekayasa di Polsek Rumbai

Written By Harian Berantas on Thursday, August 20, 2015 | 7:24:00 AM


Pekanbaru, (Harianberantas.co.id) ------- Penangkapan dan Penahanan tersangka tanpa syarat oleh penyidik Polsek Rumbai Pekanbaru Provinsi Riau, terhadap Arianto Selamat Laia (saksi) dan Temazaro Laia (korban) yang salah lapor dan salah tahan Kepolisian Sertor Rumbai Muafarajar Pekanbaru, berbuntut panjang. 

                             Sikheli Hulu Als Ama Devi                       Juru bahasa Yutilia di Polsek -
                             (Adek Yutilia Hulu)                                       Rumbai (Penghasut)

Kedua bersaudara kandung (kakak beradik) yang merasa tidak mendapatkan keadilan hukum ini di Kepolsian Sektor Rumbai Kelurahan Muara Fajar Pekanbaru, akan melaporkan Yutilia Hulu, Asania Nia Hulu dan Melina Hulu (hubungan keluarga/ famili) ke Mabes Polri. Yutilia Hulu Als Ina Riani (Pelaku/Pelapor/pemberi keteraangan palsu) dengan bersama-sama Asania Hulu dan Melina Hulu, dituding memberikan keterangan palsu. Bahkan terkesan membodoh-bodohi pihak Kepolisian Polsek Rumbai untuk memihak pada perkara yang dilakukan oleh Yutilia Hulu Als Ina Riani dan keluarganya.

Kapolda Riau Brigjen Pol Drs Dolly Bambang Hermawan dan Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Aries Syarief Hidayat pun diharapkan proporsional dan profesional.

"Kami sudah menjadi korban dalam kasus rekayasa di Polsek Rumbai Muara Fajar Pekanbaru ini. Kami pun mempunyai hak untuk membuat laporan pengaduan ke Mabes Polri lagi. Dan beberapa waktu, laporan/pengaduan resmi secara tertulis kami, telah diterima Kapolda Riau, Bapak Brigjen Pol Drs Dolly Bambang Hermawan, karena para pelaku ini (Yutilia Hulu Als Ina Riani ddk) telah melakukan perbuatan melawan hukum yaitu pelanggaran rumusan pasal 335, pasal 310, 318 KUH Pidana.

Tindakan mereka memang sudah sangat semena-mena dan membuat nama baik kami berdua dan keluarga tercemar. Kami berharap agar polisi nantinya menerima laporan pengaduan yang kami sampaikan melalui keluarga kami nantinya.

Jangan laporan Yutilia Hulu saja yang diterima. Kami justru tidak bersalah dan tidak melakukan niat jahat apapun terhadap ketiga orang yang berhungan keluarga famili ini yang jelas-jelas memberikan keterangan palsu di Polsek Rumbai. ujar Arianto Selamat Laia kepada Wartawan di LP Pekanbaru, Rabu (19/08) siang, yang mengaku hanya sebagai saksi melihat dan melerai dalam peristiwa pengeroyokan kepada Temazaro Laia saat dianiaya oleh Yutilia Hulu dkk pada tanggal 09 Juni 2015 lalu.

Menurutnya, tidak ada dasar Yutilia Hulu sebenarnya melaporkan dirinya ke polisi. Sebab, persoalan penganiayaan kepada abang kandungnya (Temazaro) dilakukan  Yutilia dan keluarganya, dia tidak terlibat.

Bahkan, pada saat dirinya menolong abang kandungnya (korban) dari samping rumah karena jatuh ke tanah akibat tendangan kaki dan pukulan kayu dan lemparan batu bata  Yutilia Als Ina Riani, Ama Riani (suami isteri) Ama Devi (adek kandung Yutilia) Ama Reji, Ama Suka, Mari, Oti, justeru dirinya (Arianto Selamat) kenak pukulan kayu dari para pelaku.

Saya ini sebenarnya yang kenak hantaman pukulan pada saat mereka memukul Temazaro. Itupun, saya tidak keberatan. Karena saya anggap masalah seperti yang terjadi ini pasti damai. Namun untuk apa saya mencampuri masalah mulut ibu-ibu yang sampai mengundang keluarganya dari Km 17 Muara Fajar memukul Temazaro. Itu yang ada dibenak pikiran saya ketika itu. Dan lagi, Yutilia Als Ina Riani bersama keluarganya, cari hidup didalam usaha milik abang kandung saya sendiri.

Yutilia Als Ina Riani bersama keluarganya yang melakukan penganiayaan sama Temazaro Laia, mengapa saya yang dilaporkan. Padahal saya dalam masalah itu hanya saksi, dan abang saya Temazaro korbannya.

Seandainya Polsek Rumbai netral dalam masalah ini, harusnya Polsek Rumbai, berani mempertemukan kami dengan Yutilia Hulu als Ina Riani bersama saksi-saksi palsu yang tidak pernah ada melihat penganiayaan saat terjadi tanggal 9 Juni 2015 sore, ketika saya minta sama Polisi dikantor Polsek Rumabi setelah saya ditangkap tanpa surat penangkapan, agar mereka/pelapor itu dipertemukan dulu dengan saya di kantor Polisi, untuk saya tanya kapan saya ada melakukan penganiayaan.  Sebaliknya, Yutilia Als Ina Riani bersama keluarganya yang seharusnya dijadikan tersangka oleh penyidik," katanya dengan kesal sambil menyesalin kinerja Kepolisian.

Arianto Selamat bersama abang kandungnya Temazaro juga menyangkal hasil penyelidikan penyidik yang menuduh diri mereka menganiayai Yutilia Hulu Als Ina Riani. Kesimpulan penyidik yang menyatakan diri mereka melanggar Pasal 170  KUHPidana tentang tindak pidana secara bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang, pada tanggal 09 Juni 2015.

Kemudian, informasi yang kami terima, di dalam Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) di kantor Polsek Rumbai, Yutilia Hulu melaporkan kami sekira pukul 22.30 wib tanggal 09 Juni 2015. Padahal, sekira pukul 18.00 wib sampai pukul 23.00 wib saat itu, Yutilia Hulu Als Ina Riani dengan bersama-sama keluarganya masih berada di tempat kejadian perkara (TKP) di Km 22 Rumbai.

Bahkan sekira pukul 23.30, mereka (Yutilia Hulu dkk) masih ada melakukan pengrusakan terhadap bedeng batu bata dan rumah milik abang kandung saya. Laporan Yutilia Hulu itu terkesan rekayasa. Sebab Polisi pun, hanya menerima laporan sepihak dan barang buktinya yang diantar pelaku di kantor polisi. Padahal bukti yang dibawa pelaku/pelapor di kantor Polisi, alat yang dipergunakan mereka ketika Temazaro dianiaya.

"Kalaulah memang pihak Polsek Rumbai tidak mudah dibodoh-bodohi oleh Yutilia Hulu atau tidak ada unsur lainnya, sehingga kami dijerat masuk penjara, harusnya polisi menyelidiki lebih dulu perkara yang ditangani mereka. Seperti saksi-saksi pelaku/pelapor di kantor Polsek Rumbai, ada hubungan keluarga atau hubungan famili kepada pelapor, dan begitu juga dengan saksi-saksi pelapor tidak ada saat peristiwa kejadian seperti saksi bernama Asania Hulu Als mama Jelita yang saat itu sedang hamil tua, tetapi karena mempunyai hubungan keluarga dengan pelaku/pelapor, maka segampangnya dapat dipengaruhi menjadi saksinya oleh Yutilia.

Kemudian, saksi dari keluarga/famili Yutilia als Ina Riani bernama Melina Hulu yang di rekayasa menjadi  Melina Bulele Als mama Pian, juga tidak ada melihat saat peristiwa terjadi tanggal 09 Juni 2015.

"Perlakuan pelaku yang terkesan telah sekongkol dengan aparat kepolisian Polsek Rumbai Pekanbaru, memang keji. Kami sudah paham upaya rekayasa yang diciptakan pelaku dan polisi. Kami pasrah saja, hanya Tuhan yang tahu soal masalah yang dituduhkan ke kami berdua. Yang terpentingnya, bukan pelaku/pelapor saja yang melakukan rekayasa, namun Polsek Rumbai sudah termasuk," kesalnya.

Polsek Rumbai Tidak Profesional


Menanggapi kasus ini, Masyarakat Anti Korupsi (LSM KPK) mensinyalir, Polsek Rumbai tidak profesionalisme  karena dalam melaksanakan tugas tidak memberikan status terhadap Yutilia Hulu dkk yang telah tiga (3) berturut-turut dilapor ke Polisi akibat tindakan perbuatan melawan hukum mulai dari peristiwa pencurian dan pengrusakan tanggal 28-29 April 2015, kasus penganiayaan dan pengrusakan pada tanggal 09 Juni 2015.

"Tidak ada upaya penyidik untuk menetapkan Arianto Selamat Als Pak Jhoseph (saksi) dan Temazaro Laia (korban) sebagai tersangka yang sedang ditahan sampai sekarang ini. Kasusnya mengambang seperti sedang diendapkan. Kuat dugaan bahwa kasus ini merupakan paksaan/titipan," ujar Sekum LSM KPK, Bowo.

Bowo mengatakan, penyidik yang menangani kasus dugaan penganiayaan tersebut sudah terindikasi melakukan pelanggaran dan tidak independen. Soalnya, di dalam beberapa SP2HP II dan SP2HP III yang diberikan kepada Temazaro Laia melalui keluarga, ditemukan beberapa kejanggalan. Bahkan baru-baru ini, Temazaro Laia (korban) di fitnah Polsek Rumbai ada melaporkan pihak lainnya yaitu Bazaro Hia Als Ama Reci. Ini kan polisi sengaja mengadu domba atau mengkambing hitamkan masyarakat.

Kemudian, didalam SP2HP II polisi kepada keluarga korban (Temazaro Laia), sangat jelas adanya kesan rekayasa BAP penyidik. Terkecuali kalau bukti hasil pemeriksaan penyidik itu tidak ada diketahui dan diperoleh korban/keluarga, baru pihak Polsek Rumbai menganggap tindakan diskriminasi yang terjadi sudah benar.

Atas tindakan sewenang-wenang yang terkesan dilakukan Polsek Rumbai ini, Kapolda Riau, Bapak Brigjen Pol Drs Dolly Bambang Hermawan bersama Kapolresta Pekanbaru, Bapak Kombes Pol Aries Syarief Hidayat, harus segera menyikapi secara arif dan bijaksana dalam perkara ini, serta memberikan tindakan keras kepada Polsek Rumbai.

"Dugaan pelanggaran oleh oknum penyidik yang menangani perkara tersebut terdapat pada unsur hak asasi manusia. Saya yakin, Arianto Selamat (saksi perkara) dan Temazaro Laia (korban), tidak mungkin di rekayasa sebagai pelaku penganiayaan jika memang tidak ada oknum-oknum yang mengatur terlebih dahulu kasus yang salah lapor, salah tangkap dan salah tahan tersebut," katanya.

Menurutnya, pelaporan, penangkapan dan penahanan dan penanganan kasus terhadap kedua bersaudara ini diduga pesanan kelompok tertentu. Jika ini terbukti berarti mengindikasikan kejahatan. Ini merupakan bagian dari modus baru mafia penegakan hukum. Selain melakukan pelanggaran HAM, penyidik dapat dikenakan prasangka kasus pidana lain.

"Jika terbukti melakukan rekayasa maka penyidik yang menangani perkara tersebut melakukan pelanggaran kode etik dan pelanggaran tindak pidana. Upaya penyidik yang sengaja hingga larut malam ketika kedua bersaudara kandung itu, baru di periksa penyidik Polsek Rumbai tepatnya tanggal 25-26 Juni 2015, diduga disengaja untuk memberikan therapy terhadap korban salah lapor, salah tangkap dan salah tahan supaya melemah," imbuhnya.

Dia memastikan, Arianto Selamat (saksi) dan Temazaro Laia (Korban kejahatan Yutilia Hulu dkk), merupakan korban dari ketidakadilan hukum di tanah air. Oknum penyidik yang menangani perkara diduga telah melakukan pelanggaran berat. Sebab, status tidak jelas terhadap mereka yang asal tertuduh ini merupakan bagian dari penyanderaan oknum penyidik Kepolisian.

"Selain berharap kepada Bapak Kapolda Riau dan Kapolresta Pekanbaru, Kami dari lembaga LSM KPK, berharap Presiden RI dalam hal ini Bapak Ir. H Joko Widodo, memberikan perhatian khusus untuk penanganan masalah hukum di republik ini. Sebab, tidak ada tindakan dari pimpinan Polri terhadap dugaan pelanggaran oleh penyidik di Negeri ini. Kasus ini terkesan dibiarkan tanpa penindakan," sebutnya. ***Tim***
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas