Headlines News :
Home » , » Pasca Terjadinya Dugaan Kasus Rekayasa di Polsek Rumbai

Pasca Terjadinya Dugaan Kasus Rekayasa di Polsek Rumbai

Written By Harian Berantas on Monday, August 24, 2015 | 4:09:00 PM

Keluarga Curigai Adu Domba Polsek Rumbai Luar Batas


Pekanbaru, (Harianberantas.co.id) ------ Keluarga Arianto Selamat dan Temazaro Laia, dugaan kasus rekayasa di kepolisian Polsek Rumbai Pekanbaru, merupakan korban dari ketidakadilan hukum di tanah air.
                      
                                  Salah satu bukti alat para pelaku saat penganiayaan Temazaro. 
                 Dok diambil, (9/8/15) sekira pkl 22:59 Wib saat Yutilia (Pelaku/pelapor) berada di -
                 sekitar TKP

Keluarga korban dugaan salah lapor, salah tangkap dan salah tahan oleh pihak Kepolisian Polsek Rumbai Pekanbaru, menyatakan insiden pengeroyokan dilakukan oleh pelaku/ pelapor sebenarnya, Yutilia Hulu Als Ina Riani dengan bersama keluarganya bernama Sikheli Hulu Als Ama Devi (adek kandung Yutilia), Aluiziroro Laia (Suami Yutilia), Ama Reji (famili Yutilia) dan Suka, Mari, Oti anak kandung Yutilia, kepada Temazaro Laia (korban peristiwa sebenarnya) pada hari Selasa tanggal 09 Juni 2015 di lokasi batu bata Km 22 Kelurahan Muara Fajar Kecamatan Rumbai Pekanbaru, kini diduga jadi senjata bagi polisi mengadu domba masyarakat.

Karena itu keluarga korban mengajak semua elemen masyarakat terutamanya Bapak Bazaro Hia alias Ama Reci yang dituduh pihak Polsek Rumbai ada dilaporkan oleh Temazaro (korban kasus rekayasa polisi), untuk tidak terpengaruh tindakan Polsek Rumbai yang semakin lama menangani perkara peristiwa pengeroyokan yang diduga direkayasa mereka (Polsek-red), yang semakin di skenario mengadu domba.

Sinyalemen adanya skenario mengadu domba korban kasus rekayasa dalam insiden peristiwa pengeroyokan dilakukan oleh pelaku/pelapor bernama Yutilia Hulu alias Ina Riani dengan bersama-sama keluarganya ini diungkapkan Toro, kepada wartawan Senin (24/08) siang, di Pekanbaru, yang memperlihatkan kepada awak media bukti-bukti rekayasa pelaporan yang diperolehnya.

Menurut Toro, indikasi itu jelas, setelah pihak keluarga salah tahan di Polsek Rumbai sejak tanggal 25-26 Juni 2015 tersebut mengetahui adanya dugaan rekayasa perkara terutamanya pihak pelaku/pelapor yang mengaku sebagai korban peristiwa pengeroyokan kepada Temazaro Laia pada tanggal 09 Juni 2015 lalu.

Karena itu Toro dari pihak keluarga korban kasus rekayasa di kepolisian, meminta masyarakat Kelurahan Muara Fajar Kecamatan Rumbai Pekanbaru dan Bazaro Hia serta warga lainnya, untuk tidak mudah terporfokasi dan mewaspadai adanya pihak-pihak tertentu baik itu dari okunum polisi, dan pihak mana pun, yang ingin mengadu domba korban dan saksi peristiwa (Temazaro dan Arianto Laia) yang saat ini telah mendekam didalam sel akibat ulah oknum aparat dan pelaku/pelapor.

Keluarga korban salah lapor, salah tangkap dan salah tahan juga menuding adanya campur tangan pihak keluarga besar atau famili pelaku/pelapor (Yutilia Hulu), dalam peristiwa pencurian dan pengrusakan kepada Temazaro Laia pada tanggal 28-29 April 2015, maupun peristiwa pengeroyokan dan pengrusakan yang diduga dlakukan pelaku/pelapor sendiri pada Selasa (09/08/15) lalu.

Saat ditanya keberadaan Yutilia alias Ina Riani (pelaku/pelapor), Toro mengaku tidak tahu. Ia hanya berharap aparat penegak hukum melihat kasus ini secara obyektif dan proporsional termasuk mengungkap akar masalah dibalik kasus ini.

Kapolsek Rumbai, AKP Hendrizal Gani, SH.M.Si, NRP 72040412 ketika hendak dikonfirmasi Wartawan, Senin (24/08) belum masuk kantor, “Pak Kapolsek belum ada masuk kantor. Kalau ada yang perlu kalian pertanyakan, lansung saja sama kanit. Kalian hubungi aja nomor hpnya (Kanit-red), dia masih disekitar kantor ini tadi, ujar penjagaan Polsek Rumbai.

Kanit Reskrim Polsek Rumbai Pekanbaru, AIPDA ST. Sihaloho, Nrp 68040476 ketika nomor kontak person 081261167568 dihubungi Wartawan guna konfirmasi, tak diangkat.

Namun untuk menanggapi kasus ini, masyarakat anti korupsi (LSM Komunitas Pemberantas Korupsi) kepada Wartawan sebelumnya, mensinyalir Polsek Rumbai tidak profesionalisme  karena dalam melaksanakan tugas tidak memberikan status terhadap Yutilia Hulu dkk yang telah tiga (3) berturut-turut dilapor ke Polisi akibat tindakan perbuatan melawan hukum mulai dari peristiwa pencurian dan pengrusakan tanggal 28-29 April 2015, kasus penganiayaan dan pengrusakan tanggal 09 Juni 2015 lalu.

"Tidak ada upaya penyidik untuk menetapkan Arianto Selamat Als Pak Jhoseph (saksi) dan Temazaro Laia (korban) sebagai tersangka yang sedang ditahan sampai sekarang ini. Kasusnya mengambang seperti sedang diendapkan. Kuat dugaan bahwa kasus ini merupakan paksaan/titipan," ujar Sekretaris Umum LSM KPK, Bowo kepada Wartawan di Pekanbaru.

Bowo mengatakan, penyidik yang menangani kasus dugaan penganiayaan tersebut sudah terindikasi melakukan pelanggaran dan tidak independen. Soalnya, di dalam beberapa SP2HP II dan SP2HP III yang diberikan kepada Temazaro Laia melalui keluarga, ditemukan beberapa kejanggalan. Bahkan baru-baru ini, Temazaro Laia (korban) di fitnah Polsek Rumbai ada melaporkan pihak lainnya yaitu Bazaro Hia Als Ama Resi. Ini kan polisi sengaja mengadu domba.

Kemudian, didalam SP2HP II polisi kepada keluarga korban (Temazaro Laia), sangat jelas adanya kesan rekayasa BAP penyidik. Terkecuali kalau bukti hasil pemeriksaan penyidik itu tidak ada diketahui dan diperoleh keluarga korban.

Atas tindakan sewenang-wenang yang terkesan dilakukan Polsek Rumbai ini, Kapolda Riau, Bapak Brigjen Pol Drs Dolly Bambang Hermawan bersama Kapolresta Pekanbaru, Bapak Kombes Pol Aries Syarief Hidayat, harus segera menyikapi secara arif dan bijaksana dalam perkara ini, serta memberikan tindakan keras kepada Polsek Rumbai.

"Dugaan pelanggaran oleh oknum penyidik yang menangani perkara tersebut terdapat pada unsur hak asasi manusia. Saya yakin, Arianto Selamat (saksi perkara) dan Temazaro Laia (korban), tidak mungkin di rekayasa sebagai pelaku penganiayaan jika memang tidak ada oknum-oknum yang mengatur terlebih dahulu kasus yang salah lapor, salah tangkap dan salah tahan tersebut," katanya.

Menurutnya, pelaporan, penangkapan dan penahanan dan penanganan kasus terhadap kedua bersaudara ini diduga pesanan kelompok tertentu. Jika ini terbukti berarti mengindikasikan kejahatan. Ini merupakan bagian dari modus baru mafia penegakan hukum. Selain melakukan pelanggaran HAM, penyidik dapat dikenakan prasangka kasus pidana lain.

"Jika terbukti melakukan rekayasa maka penyidik yang menangani perkara tersebut melakukan pelanggaran kode etik dan pelanggaran tindak pidana. Upaya penyidik yang sengaja hingga larut malam ketika kedua bersaudara kandung itu, baru di periksa penyidik Polsek Rumbai tepatnya tanggal 25-26 Juni 2015, diduga disengaja untuk memberikan therapy terhadap korban salah lapor, salah tangkap dan salah tahan supaya melemah," imbuhnya.

Dia memastikan, Arianto Selamat (saksi) dan Temazaro Laia (Korban kejahatan Yutilia Hulu dkk), merupakan korban dari ketidakadilan hukum di tanah air. Oknum penyidik yang menangani perkara diduga telah melakukan pelanggaran berat. Sebab, status tidak jelas terhadap mereka yang asal tertuduh ini merupakan bagian dari penyanderaan oknum penyidik Kepolisian.

"Selain berharap kepada Bapak Kapolda Riau dan Kapolresta Pekanbaru, Kami dari lembaga LSM KPK, berharap Presiden RI dalam hal ini Bapak Ir. H Joko Widodo, memberikan perhatian khusus untuk penanganan masalah hukum di republik ini. Sebab, tidak ada tindakan dari pimpinan Polri terhadap dugaan pelanggaran oleh penyidik di Negeri ini. Kasus ini terkesan dibiarkan tanpa penindakan," sebutnya. ***(rr/ismali)

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas