Headlines News :
Home » , , » Keluarga Korban Salah Tahan Minta Keadilan, Kanit Polsek Rumbai Malah Cuek

Keluarga Korban Salah Tahan Minta Keadilan, Kanit Polsek Rumbai Malah Cuek

Written By Harian Berantas on Saturday, August 8, 2015 | 4:24:00 PM

Pekanbaru,(Harianberantas.co.id) ----- Aneh bin ajaib pelaku pencurian, pengrusakan dan pengeroyokan terhadap salah seorang pekerja buruh batu bata di Km 22 Kelurahan Muara Fajar Kecamatan Rumbai Pekanbaru yang telah dilaporkan korban masih belum diproses. “Sudah empat bulan dan dua bulan ketiga peristiwa tersebut dilaporkan ke Polsek Rumbai Km 17 Kelurahan Muara Fajar dan ke Polresta Pekanbaru, tepatnya pengaduan/laporan tanggal 29 April 2015 dan 10 Juni 2015 sekira pukul 00.45 wib yang lalu. tapi sampai saat ini para pelaku masih bebas berkeliaran,” kesal Temazaro korban pencurian, pengrusakan dan korban pengeroyokan yang selanjutnya korban tahanan Polisi saat ditemui Wartawan, Minggu (09/08) di rutan Polresta Pekanbaru. 

                 Dok : Temazaro (korban) saat memperlihatkan Penyidik Polsek Rumbai,
                           Bekas Luka yang dialami sebelum pihaknya ditahan Polsek Rumbai, 
                           26 Juni 2015 

Menurut kronologis yang diceritakan Temazaro, awalnya tepat pada tanggal 28 April 2015, sekira pukul 21.00 Wib, pihaknya mengalami perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh “Yutilia Hulu Als Ina Riani” bersama dengan Ama Riani (Suami Isteri), yaitu tindak pidana “pencurian dan pengrusakan” jenis: bola lampu gantung, lampu cas, kursi, dan satu (1) unit Handphone merk Polponi. 

Dan keesokan harinya tepat pada tanggal 29 April 2015 sekira jam 11.00 Wib, Temazaro (korban) kembali mengalami perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh “Yutilia Hulu” Cs yaitu merusak satu buah ceret, satu (1) buah cangkir atau tempat air minum, dan mengambil 1 (satu) buah ember warna putih ditambah satu (1) unit Handphon merk Nokia C2.

Sehingga atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan para pelaku yang tersebut, membuat Temazaro Laia mengajukan pengaduan di kantor Polsek Rumbai tanggal 29 April 2015, dengan bukti Surat Tanda Penerimaan Laporan dengan Nomor: STPL/128/IV/2015/RIAU/POLRESTA PKU/SEKTOR RUMBAI, yang selanjutnya, barang bukti atas perbuatan yang dilakukan Yutilia cs, telah diamankan di kantor Polsek Rumbai.

Sekira dua bulan kemudian, tepat pada tanggal 09 Juni 2015, sekira Pukul 16.00 wib, terjadi peristiwa Pengeroyokan kepada Temazaro Laia yang diduga dilakukan oleh “Yutilia Hulu Als Ina Riani”, dengan bersama-sama beberapa orang temannya bernama: Ama Devi Hulu, Ama Reji Hulu, Ama Riani, Suka, Mari, Oti disamping halaman rumah Temazaro di Km 22 Muara Fajar Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru. 

Akibatnya, Temazaro Laia, mengalami luka pada bagian bahu sebelah kiri, bagian atas pinggang sebelah kiri mengalami luka, bagian leher sebelah kiri dan kanan membengkak, dan seluruh bagian punggung memar, akibat pukulan dengan menggunakan kayu, batu, tinju dan tendangan kaki, dilakukan para pelaku, dan pelaku pengeroyokan, sebagian pelaku “Pencurian dan Pengrusakan” kepada Temazaro (korban) dua bulan sebelumnya.

Dalam hal peristiwa Pengeroyokan tersebut, Temazaro (korban) telah membuat pengaduan di Polresta Pekanbaru tanggal 10 Juni 2015 sekira Pukul 00.45 wib, dengan nomor Surat Tanda Penerimaan Laporan, Nomor: POL.STPL/681/VI/2015/SPKT I POLRESTA. 

Atas perkara ini, seharusnya yang ditangkap dan ditahan adalah para pelaku perbuatan melawan hukum mulai dari peristiwa Pengrusakan dan Pencurian, kemudian peristiwa Pengeroyokan. 

Akan tetapi, pihak Polsek Rumbai justeru memutarbalikkan fakta Hukum yang benar yaitu, korban menjadi Tersangka, dan Tersangka menjadi Korban. 

Dari latar belakang peristiwa penangkapan dan penahanan yang dilakukan pihak Kepolisian kepada Temazaro (korban), kuat dugaan, Polsek Rumbai telah mengaburkan hukum yang benar dan sengaja mengabaikan hak-hak para korban, demikian pula seterusnya, pihak Polsek Rumbai dinilai tidak mematuhi pada peraturan hukum yang berlaku dalam melaksanakan tugas pokonya sebagai pengayom, pelindung dan pelayanan yang baik terhadap masyarakat. 

Yang paling mencoloknya lagi, Arianto Selamat yang tidak ada kaitan dan tidak mempunyai kesalahan dalam peristiwa ini, justeru ditangkap dan ditahan pihak Kepolisian Polsek Rumbai atas bujukan rayuan Yutilia Hulu pelaku rekayasa peristiwa. 

Sehingga tindakan penangkapan disertai dengan penahanan yang dilakukan kepada Arianto Selamat oleh Polsek Rumbai, diduga tidak sah, dan telah bertentangan pada pasal 18 ayat (1) KUHAP. Sehingga tindakan Polsek Rumbai ini, dinilai sangat tidak benar dan bertentangan pada pasal 20 ayat (1), pasal 21 ayat (1), ayat (2), ayat (3) KUHAP.

Ada dugaan penyimpangan dalam penyidikan


Guna menyingkap kebenaran, kepala penelitian dan pengembangan lembaga LSM Komunitas Pemberantas Korupsi, Alex, bersama media Berantas melakukan investigasi lapangan selama 2 hari.

Hasilnya kata Alex, mengacu KUHAP dan Peraturan Kapolri No. 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana, ditemukan sejumlah dugaan penyimpangan prosedur diantaranya:

1. Sebelumnya, pihak aparat Kepolisian Polsek Rumbai tidak pernah melakukan gelar perkara terkait kasus ini;

2. Dalam bukti tanda terima laporan Polisi yang diberikan kepada pelapor Yutilia Hulu, tertera waktu pelaporan tanggal 09 Juni 2015 sekira pukul 23.30 wib (rekayasa). Sementara, pelapor rekayasa Yutilia Hulu ini, masih berada di TKP sejak pukul 16.00 wib s/d 22.59 wib ketika perbuatannya bersama dengan teman-temannya (8 0rang) kepada Temazaro saat hendak dimusyawarahkan secara kekeluargaan oleh warga masyarakat tepatan; 

3. Namun pihak Polsek Rumbai, justeru menangkap dan menahan saksi yang melihat serta turut ikut melerai peristiwa pengeroyokan kepada Temazaro yang dilakukan pelaku/pelapor Yutilia Hulu pada hari Selasa tanggal 09 Juni 2015;

4. Surat penangkapan baru diterbitkan setelah korban salah lapor dan salah tangkap (Arianto Selamat Laia) tersebut dibawa Polisi ke kantor Polsek Rumbai;

5. Surat penangkapan dan penahanan dititip Polisi melalui ketua RT 03 Kelurahan Muara Fajar Pekanbaru atau berupa kantor pos, bukan diantar langsung kepada keluarga yang ditangkap, ditahan yang disertai penuh diskriminasi;

6. Visum et repertum pelapor rekayasa peristiwa pengeroyokan ini pun, sangat membingungkan dan misteri;

7. Pada saat korban peristiwa pengeroyokan (Temazaro Laia) ditahan Polsek Rumbai, saat mendatangi kantor Polsek Rumbai melihat “Arianto Selamat” (Saksi) yang sudah ditahan Polsek Rumbai, Kamis 25 Juni 2015. Namun, Polsek Rumbai melakukan penahanan Temazaro tanpa syarat. 

8. Padahal  selain melihat Arianto Selamat (saksi) yang ditahan Kepolisian, Temazaro (korban) hendak mempertanyakan tindaklanjut pengaduan yang dilaporkan ke Polsek Rumbai tanggal 29 April 2015 sekaligus mempertanyakan pelimpahan laporan dari Polresta Pekanbaru ke Polsek Rumbai mengenai pengeroyokan yang dilakukan Yutilia Hulu Cs tanggal 09 Juni 2015. 

9. Pada saat Temazaro (korban) diminta keterangannya oleh Polsek Rumbai dalam hal Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sebagai tersangka, Temazaro (korban), meminta Kanit Polsek Rumbai AIPDA ST. Sihaloho dengan NRP: 68040476, dan penyidik pembantu AIPDA Afnorio Hadi, NRP: 78040177, agar menghadirkan pelapor/Yutilia Hulu Als Ina Riani bersama-sama dengan para saksi-saksi rekayasa Polisi untuk dipertemukan dengan Temazaro di kantor Polsek Rumbai. Akan tetapi, Kanit, AIPDA ST. Sihaloho bersama AIPDA Afnorio Hadi, cuek dan menjebloskan korban (Temazaro) dalam tahanan Polisi;

10. Sementara tindakan perbuatan melawan hukum dilakukan Yutilia Hulu dkk mulai dari peristiwa perkara “Pencurian dan Pengrusakan” pada tanggal 29 April 2015 dengan bukti Surat Tanda Penerimaan Laporan, Nomor: STPL/128/ IV/2015/RIAU/POLRESTA PKU/SEKTOR RUMBAI, dan perbuatan melawan hukum sebenarnya pada tanggal 09 Juni 2015 dengan bukti Surat Tanda Penerimaan Laporan, Nomor: LP/K/681/VI/2015/SPKT/I POLRESTA, tanggal 10 Juni 2015, sekira pukul 00.45 wib yang dilaporkan Temazaro (korban), serta perbuatan “Yutilia Hulu” dkk pada hari yang sama dengan waktu yang berbeda dengan bukti Surat Tanda Penerimaan Laporan Polisi No: POL.STPL/VI/ 2015/SPKT III/POLRESTA, Tanggal 10 Juni 2015 mengenai tindak pidana pengrusakan, sampai sekarang ini, tidak ada tanda-tanda tindakan hukum yang diambil oleh pihak Polsek Rumbai

11. Para pelaku peristiwa yang sebenarnya, hingga kini belum diproses dan ditahan.

Dikatakan Alex, ketika pihaknya ingin mengklarifikasi aparat kepolisian setempat, Kanit Polsek Rumbai, AIPDA ST. Sihaloho dengan NRP 68040476 terkesan menghindar. “Aneh, kasus sekecil ini bisa didiskriminasi Polisi. Seharusnya, Polsek Rumbai dapat memberikan pengayoman, perlindungan dan pelayanan yang baik terhadap masyarakat diwilayah hukumnya Polsek Rumbai.  Dan kasus seperti ini tidak seharusnya direkayasa, justeru sebenarnya, pihak Polsek Rumbai dapat mengadakan mediasi dan memanggil kedua belah pihak untuk duduk satu meja” kesal Alex.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari abang kandung Arianto dan Temazaro, kata Alex, pihak keluarga sudah tiga kali mendatangi Polsek Rumbai. “Tujuan abang kandung kedua korban salah tahan Polsek Rumbai tersebut, untuk meminta keadilan, agar laporan saudara mereka (Temazaro) juga harus ditindaklanjuti serta tidak terjadi diskriminasi lainnya maupun rekayasa penyidik Polsek Rumbai.

Tapi sampai sekarang ini, penanganan yang serius dari pihak Polsek Rumbai tidak jelas. Bahkan para pelaku pengeroyokan, pencurian dan pengrusakan saat ini masih berkeliaran bebas tanpa diproses sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Kami sudah bingung terhadap sikap Polsek Rumbai ini, kisah Alex menirukan keluhan keluarga korban yang ditahan oleh Polsek Rumbai.

LSM Peninjauan Kembali (PK) Kecam Perlakukan Diskriminasi

Ditempat terpisah, Sekretaris Umum LSM PK Indra Maulid, menegaskan, berdasarkan hasil investigasi dilapangan mengenai kasus Arianto Selamat dan Temazaro, diduga penyidik Kepolisian telah melakukan kesalahan prosedusr sejak proses awal penangkapan dan penahanan.

“Pertanyaannya, apakah pihak Polsek Rumbai dan Polresta Pekanbaru telah melaksnakan tugasnya sesuai dengan SOP Protap maupun prosedur yang ada ditubuh Polri? Dan sebagai warga Negara Indonesia yang mempunyai hak yang sama dimata hukum tanpa ada membeda-bedakan, kami minta kepada Kapolsek Rumbai dan Kapolresta Pekanbaru segera menangkap para pelaku penganiayaan dan penghinaan terhadap Temazaro Laia dan Arianto Selamat yang dilakukan Yutilia Hulu Cs, demi tegaknya supermasi hukum di Negara ini, tegas Indra Maulid. 

Hingga berita ini diturunkan, baik pelaku dan pelapor saat dikonfirmasi melalui via SmS tidak menjawab. Sementara, Kapolresta Pekanbaru masih belum dapat dihubungi dengan alasan sibuk dan tidak ada di tempat. ***Is***

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas