Headlines News :
Home » , , , » Kapolri Diminta Usut Rekayasa Kasus di Polsek Rumbai Pekanbaru

Kapolri Diminta Usut Rekayasa Kasus di Polsek Rumbai Pekanbaru

Written By Harian Berantas on Friday, August 21, 2015 | 9:08:00 AM


Pekanbaru,(Harianberantas.co.id) ------ Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Badrodin Haiti diminta mengusut dugaan rekayasa kasus Polisi Sektor (Polsek) Rumbai, Km 17 Muara Fajar Pekanbaru Provinsi Riau, terkait penganiayaan/pengeroyokan yang direkayasa pelapor Yutilia Hulu Als Ina Riani. 

                        Dok : bekas kejahatan yang dialami-           Jenderal Badrodin Haiti 
                                 korban (Temazaro)                              

Akibat penanganan kasus sepihak tersebut, dua bersaudara kandung, Arianto Selamat Als Jhoseph (saksi perkara sebenarnya) dan Temazaro Laia (korban) tidak saja menanggung kerugian seumur hidup, juga dijadikan tersangka dan ditahan kepolisian Polsek Rumbai Pekanbaru tanpa syarat sejak tanggal 25-26 Juni 2015 lalu.

Anehnya, Arianto Selamat Als pak Jhoseph, sebenarnya sebagai pihak yang dirugikan, karena hanya sebagai saksi melihat dan melerai peristiwa pengeroyokan yang dilakukan oleh Yutilia Hulu Als Ina Riani dengan bersama keluarganya bernama Sikheli Hulu Als Ama Devi (adek kandung Yutilia), Aluiziroro Laia (Suami Yutilia Hulu), Ama Reji (famili Yutilia) dan Suka, Mari, Oti anak kandung Yutilia Hulu, kepada Temazaro Laia (korban) pada Selasa tanggal 09 Juni 2015 lalu di lokasi batu bata Km 22 Kelurahan Muara Fajar Kecamatan Rumbai Pekanbaru.

“Gara-gara kedua adek kandung saya ditetapkan tersangka, bahkan kini ditahan, maka kami pekan depan dengan penuh pertimbangan, meminta Kapolri agar memerintahkan Kapolda Riau, Brigjen Pol Drs Dolly Bambang Hermawan yang diduga tutup mata untuk meninjau kembali kasus rekayasa yang merugikan kedua adek kandung saya," ujar Naso, dalam diskusi bersama DPD Gabungan Wartawan Indonesia (GWI) Riau di Pekanbaru, (20/08).

Pihaknya juga akan mengadukan kasus ini ke Komisi III DPR, Ombudsman, Kompolnas, dan Komnas HAM. Sebab, penetapan adek-adek saya sebagai tersangka sangat jelas direkayasa. Diduga, ada intervensi atau kongkalikong pelaku/pelapor dengan oknum Polri setempat.

Pasalnya, bukti kuat kasus kedua adek saya, telah kami beberapa bukti yang duluan disusun pelaku/pelapor bersama-sama dengan Polsek Rumbai Pekanbaru. Apalagi, perkembangan penanganan laporan peristiwa pengeroyokan yang penyelidikannya telah dilimpahkan Polresta Pekanbaru, justeru semakin di rekayasa polisi.

Keberpihakan penanganan kasus kedua adek (korban) saya ini patut diungkap, karena telah terjadi kesalahan prosedur, termasuk pelanggaran HAM dengan menetapkan tersangka sampai menahan.

Menurut Naso, ke dua adeknya tidak melakukan sangkaan tindak pidana penganiayaan secara bersama-sama terhadap orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 KUHP yang dilaporkan pelaku/pelapor Yutilia Hulu.

Proses penyidikan Arianto Selamat Laia sebagai saksi peristiwa oleh Polsek Rumbai Pekanbaru berpihak kepada pelapor yang merekayasa peristiwa atas nama Yutilia Hulu dengan cara menjadikan Arianto Selamat, adik kandung saya sebagai tersangka. Demikian juga adek saya (Temazaro Laia) korban kejahatan Yutilia Hulu dan keluarganya, turut menjadi tersangka dengan tuduhan yang sama.

"Padahal, fakta dan bukti hukum yang dituduhkan penyidik kepada Arianto Selamat, Temazaro Laia sebagai pelaku peristiwa pengeroyokan yang terjadi pada tanggal 09 Juni 2015 lalu, itu salah alamat. Kami berharap, Kapolri bisa bersikap tegas dengan dugaan rekayasa kasus ini," ujarnya.

Temazaro Laia, korban pengeroyokan para pelaku yang terkesan direkayasa Polsek Rumbai saat ditemui Wartawan di LP Pekanbaru, Rabu (19/08) mengatakan, penyidik yang menangani kasus kami ini, sudah salah dan tidak independen. Bahkan di dalam SP2HP II dan SP2HP III yang baru-baru ini diberikan oleh polisi kepada keluarga saya yang ada di Kecamatan Rumbai, jelas pihak Polsek Rumbai telah merekayasa perkara yang sebenarnya.

Bahkan saya sendiri, Temazaro Laia (korban), malah difitnah oleh Polsek Rumbai dengan cara menuduh saya ada melaporkan orang lain yaitu bernama Bazaro Hia Als Ama Reci ke kantor Polsek Rumbai. Saya heran, Polsek Rumbai yang semakin lama menangani perkara kami ini, justeru semakin melakukan rekayasa yang mengkambing hitamkan kami dengan orang lain, karena mereka (Polisi-red) diduga telah menerima sesuatu barang dari pelaku/pelapor, kesalnya.

Kapolsek Rumbai, AKP Hendrizal Gani, SH.M.Si, NRP 72040412 saat dihubungi Wartawan guna konfirmasi berita, Kamis (20/08) hingga nada hendphon pribadi berakhir, tak diangkat.

Demikian pula hendphon Kanit Polsek Rumbai Pekanbaru, AIPDA ST. Sihaloho, Nrp 68040476 saat dihubungi, juga tak diangkat. Akan tetapi, dalam melengkapi unsur 5W + 1H pada edisi berita berikutnya, tim dari gabungan Wartawan, akan melayangkan surat audensi (resmi) kepada Kapolda Riau, dalam hal mengklarifikasi terkait kinerja beberapa Kapolsek dan Polres yang ada di jajaran Polda Riau yang dinilai tidak profesionalisme. ***Rima, dkk***

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas