Headlines News :
Home » , » Saksi dan Korban Tersangka Polisi

Saksi dan Korban Tersangka Polisi

Written By Harian Berantas on Thursday, July 2, 2015 | 3:05:00 AM

Polsek Rumbai Pekanbaru Digugat Dan di Propamkan ke Polda Riau


Pekanbaru,(Harianberantas) ------ Korban tuduhan kasus penganiayaan yang ditangkap dan ditahan oleh Polisi Sektor (Polsek) Rumbai Pekanbaru pada tanggal 25 dan 26 Juni 2015, mengajukan gugatan praperadilan untuk Kapolsek, AKP Hendrizal Gani SH. M.Si bersama penyidik pembantunya, IPDA ST Sihaloho di Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru. 

               Surat Panggilan Pemohon dari PN Pekanbaru    STPL dari Propam Polda Riau

"Kami abang kandung saksi bersama korban yang ditahan Polisi telah mendaftarkan gugatan praperadilan atas Polsek Rumbai Pekanbaru, terkait rekayasa penyidikan terhadap Arian Selamat dan Temazaro yang dijadikan tersangka dalam kasus penganiayaan pada Selasa 09 Juni 2015 lalu," kata B. Naso kepada Wartawan usai menerima relaas panggilan selaku pemohon dari kuasa korban, di PN Pekanbaru, Selasa (30/06/2015).

Dia menyebutkan, setelah mendaftarkan gugatan praperadilan atas Polsek Rumbai ke PN Pekanbaru sekira pukul 10.00 wib (29/06), sekitra pukul 12.00 wib siangnya mendatangi Polda Riau bidang Propam, melaporkan dugaan penanganan kasus yang tidak profesional oleh penyidik atau penyidik pembantu Polsek Rumbai, IPDA ST. Sihaloho, NRP 68040476.

Dijelaskan, kedua adik kandungnya itu dituduh sebagai pelaku penganiayaan terhadap salah seorang Yutilia alias Ina Riani yang sebelumnya pelaku pencurian dan pengrusakan tanggal 28-29 April 2015 serta pelaku pengeroyokan terhadap Temazaro pada tanggal 09 Juni 2015. Padahal, status Arian Selamat dalam kasus pengeroyokan pada 9 Juni 2015 itu, hanya saksi mata yang turut membantu Ama Fani (saksi) untuk melerai tindakan pengeroyokan yang diduga dilakukan pelaku. 

Tindakan kasus pengeroyokan kepada Temazaro dilakukan Yutilia alias Ina Riani Cs pada 9 Juni 2015 hendak didamaikan secara kekeluargaan oleh beberapa tokoh masyarakat Nias yang ada diwilayah Muara Fajar Pekanbaru, Yutilia alias Ina Riani ini mengungkapkan justeru Arian Selamat yang ditahan Polisi inilah yang melerai perkelahian hingga keributan yang terjadi bisa rendam saat itu. Hal itu pun dibenarkan oleh beberapa orang teman-temanya pelaku pengeroyokan kepada Temazaro (korban).

"Saat diciduk petugas tanpa disertai surat penangkapan, Arian Selamat telah mengatakan kepada penyidik Polsek Rumbai tidak terlibat dalam kasus yang dituduhkan Polisi dan Yutilia alias Ina Riani terhadap dirinya. Namun, Polisi tetap melakukan penahanan tanpa ada surat penahanan yang seharusnya disampaikan dengan keluarga," ujarnya.

Dikatakan B. Naso,  bukan hanya sampai kepada Arian Selamat (saksi) saja penyidik Polsek Rumbai kesatuan Polresta dan Polda Riau itu menunjukkan sikap yang kurang profesional itu. Bahkan kepada Temazaro (korban) pun ketika melihat Arian Selamat berada di rumah tahanan, Jumat (26/06) serta mempertanyakan penyidik adanya informasi kalau pihaknya dijadikan sebagai tersangka, justeru ditahan oleh Polsek tanpa surat panggilan, surat penangkapan dan surat penahanan. Bahkan kedua korban Polisi tersebut sampai sekarang, menolak untuk di BAP oleh penyidik karena kasus tersebut penuh dengan rekayasa dan intimidasi Polisi.

Dia mengungkapkan, sampai saat ini kami telah menemukan keganjilan dalam kasus tersebut. Bahkan satu orang ibu yang masih dalam kandungan yang diduga saksi bayaran oleh Yutilia alias Ina Riani, telah gugur. Sementara, pihak lainnya juga yang pernah dipengaruhi Ina Riani untuk menjadi sebagai saksi untuk memperkuat laporan palsunya ke pihak Polsek Rumbai, bersedia memberikan keterangannya kepada hakim praperadilan. 

Sekadar diketahui, korban pengeroyokan sebenarnya adalah Temazaro yang saat ini telah mendekam dalam tahanan Polsek Rumbai yang ditahan Jumat (26/06). Sementara Arian Selamat alias Ama Jhosef, yang menyelamatkan korban (Temazaro) dari pengeroyokan Yutilia alias Ina Riani bersama beberapa temannya, hanyalah sebagai saksi didalam peristiwa yang dilakukan Ina Riani Cs.

Seperti diketahui Rabu 10 Juni 2015 pagi lalu, Ama Here yang merupakan keluarga dari Ina Riani, Ama Devi Cs, diutus oleh Ama Riani dan Ina Riani menemui pengurus warga Nias wilayah Muara Fajar, pak Efrai dengan tujuan supaya tindak pidana Pengeroyokan dan Pengrusakan yang terjadi pada tanggal 09 Juni 2015 itu dapat di selesaikan secara kekeluargaan. Karena pihak Ina Riani menyadari telah memberikan keterangan palsu kepada Polisi Sektor (Polsek) Rumbai Muara Fajar.  

Menurut keterangan yang diterima pengurus warga Nias di wilayah Muara Fajar ini, pelapor korban Ina Riani cs telah mengutus rekannya ama Here untuk meminta maaf. bahkan Ina Riani cs bersedia membayar biaya perdamaian sebesar Rp. 1 juta, biaya cabutan keterangan palsu kepada Polisi Sektor (Polsek) Rumbai sebesar Rp. 1 juta, biaya pengobatan kepada korban pengeroyokan Temazaro sebesar Rp. 1 juta dan ditambah satu (1) ekor babi.       

Korban pengrusakan, T Laia yang mendengar adanya keluhan dari Ama Riani, Ina Riani, Ama Devi cs melalui utusan mereka ama Here kepada pengurus warga Nias wilayah Muara Fajar Kecamatan Rumbai, menolak untuk berdamai. Karena pebuatan ama Devi, ina Riani cs itu, sudah melampaui batas.  

Namun entah apa yang membuat pihak penyidik Polsek Rumbai tidak menelusuri kebenaran peristiwa tersebut yang mengambil tindakan hukum sewenang-wenang hingga saksi peristiwa dan korban ditahan sampai sekarang.  

Akibat ulah hukum di republik ini sudah terbalik, sehingga pelaku pengeroyokan, pengrusakan dan pencurian, bukannya diproses, namun saksi dan korbannya justeru yang dijebloskan ke dalam rumah tahanan (Rutan) Polisi Sektor (Polsek) Rumbai Pekanbaru, membuat keluarga korban, mengajukan gugatan praperadilan pada PN Pekanbaru serta mengadukan Kapolsek, AKP Hendrizal Gani SH. M.Si bersama penyidik pembantunya, IPDA ST.Sihaloho ke Propam Polda Riau dengan akte penerimaan permohonan praperadilan, Nomor:07/Akta/Pid.Pra/2015/PN.Pbr 29 Juni 2015 dan surat tanda penerimaan laporan, bidang Propam, Nomor: STPL/122/VI/ 2015/YANDUAN tanggal 29 Juni 2015.

Bukan itu saja, tindakan Polsek Rumbai Pekanbaru yang diduga penanganan kasus yang tidak profesional ini, akan dilaporkan keluarga korban ke Presiden RI Joko Widodo, Wapres Jusuf Kalla, Kapolri, Wakapolri, Kabareskrim, Divisi Propam Mabes Polri, Biro Provost Mabes Polri, Biro Pengamanan Internal (Paminal) Mabes Polri, Kompolnas, Komnas HAM, dan Komisi III DPR RI, tegas Naso.

Dikatakan Naso, saksi mata yang paling mengetahui peristiwa ini ketika terjadi, bersedia memberikan keterangan kepada Hakim Praperadilan minggu akan datang. Dan para saksi-saksi Ina Riani yang diduga dipengaruhi Ina Riani Cs yang perkirakan mencapai 8 orang, akan dibeberkan secara terang benderang oleh saksi mata kalau para saksi tersebut tidak pernah ada di TKP.

Seandainya ada bukti luka pukulan ditubuh pelapor sekaligus pelaku pengrusakan, pencurian dan pengroyokan, Yutilia als Ina Riani seharusnya Polisi harus dapat membuktikannya apakah itu rekayasa atau memang benar-benar dipukul. Apalagi Yutilia als Ina Riani Cs ini bukannya di Pekanbaru-Riau ini saja hal-hal serupa dilakukan. Namun dari kampung halamannya pun di Pulau Nias, juga seperti itu. Bahkan rumah tempat tinggal mereka sendiri pun ketika masih berada di pulau Nias telah bakar oleh seorang Pendeta atau hamba Tuhan akibat ulah mereka seperti sekarang ini. 

Kanit Polsek Rumbai, IPDA ST Sihaloho kepada Media ini diruangan kerjanya mengatakan, Saya telah menyaksikan sendiri bagaimana bekas pukulan kepada Ina Riani itu kemaren disana. Makanya Ina Riani itu langsung di periksa oleh penyidik saya, dan kejadian itu dibenarkan oleh 2 (dua) orang saksi sebut Sihaloho.

Ketika ditanya apakah sudah benar bekas pukulan dan pengakuan Ina Riani itu yang melakukannya Arian Selamat bersama Temazaro? Dan apakah pihak saksi yang telah dimintai keterangan itu bukanlah saksi pada saat kejadian?. “Ya justeru ada saksi yang melihat makanya pelakunya diperiksa dan ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik” ujar IPDA ST Sihaloho.

Aneh, setelah dugaan penanganan kasus yang tidak profesional oleh Polsek Rumbai tersebut digugat dan dilanjutkan dengan pengaduan ke Propam Polda Riau oleh keluarga korban, IPDA ST Sihaloho dengan NRP 68040476, menghubungi Ama Rika Halawa yang ada di simpang lembaga Muara Fajar, agar meminta keluarga korban (Arian S dan Temazaro) dapat mencari solusi perdamaikan kasus salah tangkap dan salah tahan oleh Polsek Muara Fajar itu.

Hal ini dibenarkan Ama Rika Halawa saat menghubungi abang kandung korban yang sedang berada di Kabupaten Bengkalis, pak Efrai, Senin (29/06). “Saya sudah dihubungi pak Sihaloho, bagaimana supaya masalah adek-adek yang ditahan di Pos Polisi itu kita damaikan saja. Dia (AIPDA ST. Sihaloho), sudah dihubungi dari Polda Riau, mempertanyakan masalah yang ditangani Polsek Rumbai itu. Pak Sihaloho meminta agar masalah itu jangan diperpanjang lagi dan beliau meminta agar hal itu semuanya kita selesaikan secara kekeluargaan” ungkap A Frai yang mengulangi pernyataan yang diterima Ama Rika dari AIPDA ST. Sihaloho. ***Alex***

Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | PT.Berantas Pers Group | Berantas
Copyright © 2015. Harianberantas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Berantas
Proudly powered by Berantas